Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Selasa 21 Mei 2019 “Kita Perlu Bertobat untuk Menyelamatkan Bangsa Ini''

Renungan Harian Kristen Selasa 21 Mei 2019 “Kita Perlu Bertobat untuk Menyelamatkan Bangsa Ini''

Renungan Harian Kristen Selasa 21 Mei 2019 “Kita Perlu Bertobat untuk Menyelamatkan Bangsa Ini''
Dok Pribadi/Mesakh A.P. Dethan
Renungan Harian Kristen Selasa 21 Mei 2019 “Kita Perlu Bertobat untuk Menyelamatkan Bangsa Ini'' 

Amos mengatakan bahwa malapetaka mereka itu sudah pasti, seakan-akan sudah terjadi; namun Amos masih mengimbau umat itu untuk berbalik kepada Allah supaya sekurang-kurangnya "sisa-sisa keturunan" dapat diselamatkan (Amos 5:15).

Menurut J.A. Motyer (lihat J.A. Motyer , dalam New Bible Commentary, Third Edition, Guthrie, dkk, Inter Varsity Press, Leicester-Endgkand, 1970,   hlm., 733) Amos menasihati bangsa Israel untuk kembali ke jalan Tuhan agar dapat diselamatkan, karena hukuman dalam bentuk pembuangan tidak dapat dihindarkan.

Panggilan untuk bertobat dihubungkan langsung dengan penghakiman Allah berada di depan mata.

Amos 5:3-6 menjelaskan hal ini, kekuatan militer yang dimiliki pemerintah yang jahat tak akan mampu menyelamatkan, tetapi hanya Tuhan. 

“3 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH kepada kaum Israel: "Kota yang maju berperang dengan seribu orang, dari padanya akan tersisa seratus orang, dan yang maju berperang dengan seratus orang, dari padanya akan tersisa sepuluh orang."  

4 Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!

 5 Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap."

6 Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel.”

Pertobatan dalam hal ini yang paling penting bagi Amos, yaitu bertbat untuk penegakan hukum dan keadilan yang bersifat merata kepada semua orang.

Hukum dan kebenaran tidak boleh pandangg bulu.

Hukum tidak boleh berpihak hanya kepada penguasa dan orang berduit tetapi tidak kepada orang lemah.

Dalam Amos 5:7  dan 6:12 Amos mengeritik para penguasa dan penegak keadilan.

Dan mengajak mereka untuk menggunakan akal sehat dan rasionalitas.

Para aparat penegak hukum justru harus membela rakyat dan bukan membela para oknum yang mengubah kebenaran menjadi ipuh!

Amos 5:7 Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah!

Amos 6:12 Berlarikah kuda-kuda di atas bukit batu, atau dibajak orangkah laut dengan lembu?

Sungguh, kamu telah mengubah keadilan menjadi racun dan hasil kebenaran menjadi ipuh!

Berlarikah kuda-kuda di atas bukit batu?

Sebuah pertanyaan retoris yang luar biasa dari sang nabi Amos. 

Menurut tafsiran Wicliffe “ada hukum spiritual dan moral di alam semesta yang sama tidak mungkinnya untuk diabaikan seperti halnya hukum alam.

Memutarbalikkan keadilan sama tak masuk akalnya seperti mengharapkan kuda untuk berlari di atas batu-batu karang atau sapi membajak di karang”.

Kalau kebenaran seumpama seorang gadis.

Dan gadis itu hendak diperkosa oleh oknum pejabat yang dibekengi dengan orang bersenjata.

Apakah kita membiarkan gadis itu diperkosa dan menganggapnya sebagai takdir gadis itu.

Dan menyuruhnya tenang dan menikmati saja?

Adalah suatu bentuk irasionalitas masal bahwa “itu takdir kebenaran” dan takdir itu seperti Perkosaan yang dialami seorang gadis, jika tidak sanggup melawan, cobalah untuk menikmati.

Pada masa rezim Nasi Jerman dibawah pimpinan sang Fuhrer Adolf Hitler kejam dan tidak rasional, yang membuat banyak orang mati sia-sia, desas-desus bisa dipakai sebagai alat untuk mendakwa dan menghukum para lawan poltik.

Para jenderal atau siapa saja yang mulai menunjukan sikap berseberangan ditangkap dan diadili dan dihukum mati  tidak dengan fakta hukum tetapi dengan fakta “desas-desus”.

Mudah-mudahan hal ini belum terjadi pada bangsa Indonesia yang sementara berada dalam ketegangan dalam penegakan hukum dan keadilan akhir-akhir ini.

Kita berharap hukum tidak hanya tajam untuk orang yang berseberangan, tetapi permisif kepada yang mendukung.

Jangan sampai terjadi berita-berita online bisa dipakai sebagai “media untuk menegakan hukum” bagi mereka yang berseberangan.

Tetapi hal yang sama (berita-berita online) tidak bisa dipakai ketika orang berusaha mencari keadilan dan kebenaran.

Kalau itu sampai terjadi namanya ketidakadilan dan kita seperti menunggang kuda di batu-batu karang dan membajak di atas batu-batu cadas seperti kata nabi Amos di atas.

Mudah-mudahan pula orang tidak menciptakan berita-berita hoax untuk membunuh karakter para lawannyanya, tetapi dengan cepat mengadili orang lain yang dianggap membuat berita-berita hoax.

Kalau kita yang memproduksi berita hoax itu baik, sedangkan bagi orang yang menciptakan berita hoax itu kejahatan.

Inti seruan Amos bahwa “Kita perlu bertobat untuk menyelamatkan bangsa ini” mungkin cocok bagi bangsa Indonesia juga untuk kita  terhindar dari malapetaka yang tidak diinginkan.

“14 Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan.

15 Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf.

24 Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." (Amos 5: 14,15 dan 24). Semoga. (*)

Editor: maria anitoda
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved