Ramadhan 1440 H
Simak Tata Cara dan Niat Shalat Idul Fitri 1440 H, Jumlah Takbir Anda Jangan Sampai Salah
Nah, sebelum menunaikan salat agar tidak salah, Anda perlu tahu caranya, sebagaimana berikut ini:
POS-KUPANG.COM - Saat merayakan Idulfitri, salah satu sunnah adalah menunaikan salat Id.
Nah, sebelum menunaikan salat agar tidak salah, Anda perlu tahu caranya, sebagaimana berikut ini:
Niat salat Id adalah اُصَلِّى سُنَّةً عِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى
(Ushalli sunnatan ‘iidil fithri rak’ataini ma’muuman lillaahi ta’aalaa)
Pertama: memulai dengan takbiratul ihram, sebagaimana salat-salat lainnya.
Kedua: kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak 7 kali takbir -selain takbiratul ihram- sebelum memulai membaca Al Fatihah.
Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”
Ketiga: di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan zikir tertentu.
Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”
Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي
“Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii (Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).”
Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja.
Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah Ta’ala.
Keempat: kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya.
Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qamar pada raka’at kedua.
Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika salat Iduadha dan Idulfitri.
Ia pun menjawab,
كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca “Qaaf, wal qur’anil majiid” (surat Qaaf) dan “Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar” (surat Al Qamar).”
Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghasiyah pada raka’at kedua.
Dan jika hari Id jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghasiyah pada raka’at kedua, pada salat Id maupun salat Jumat.
Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam salat Id maupun salat Jumat “Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa)dan “Hal ataka haditsul ghosiyah” (surat Al Ghasiyah).”
An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari Id bertepatan dengan hari Jumat, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing salat.
Kelima: setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan salat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).
Keenam: Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.
Ketujuh: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak 5 kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Alfatihah.
Kedelapan: kemudian membaca surat Alfatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Kesembilan: mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.
Kesepuluh: mendengarkah khutbah.
Tata Cara Khutbah
Di antara yang membedakan antara salat Id dan salat sunnah pada umumnya adalah adanya khutbah.
Keberadaan khutbah yang mengiringi pelaksanaan salat bisa dianggap penanda bahwa salat tersebut ada pada momen yang penting, seperti khutbah Jumat yang digelar pada hari berjuluk sayyidul ayyâm (rajanya hari) dan khutbah istisqa’ kala umat Islam dilanda kekeringan.
Idulfitri adalah waktu istimewa.
Karena posisinya yang spesial ini, Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk berduyun-duyun keluar rumah untuk bersama-sama merayakan hari bahagia tersebut.
Perempuan haid juga bisa turut melakukan hal yang sama, meski terpisah dari tempat salat (lihat hadits riwayat Imam Bukhari nomor 928).
Mereka berhak mendengarkan khutbah, melantunkan takbir, doa, atau dzikir lainnya.
Dalam kitab al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î karya Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan 'Ali asy-Asyarbaji diterangkan bahwa berbeda dari salat jum’at, khutbah pada salat Id dilaksanakan setelah salat dua rakaat usai, bukan sebaliknya.
Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim menjelaskan bahwa Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar juga menunaikan dua salat Id sebelum khutbah.
Hukum khutbah dalam salat Id memang sunnah.
Namun, ketika dikerjakan ia harus tetap memenuhi rukun khutbah.
Rukun khutbah pada salat Id tidak berbeda dari rukun khutbah pada salat Jumat, yakni memuji Allah, membaca shalawat, berwasiat tentang takwa, membaca ayat Alquran pada salah satu khutbah, serta mendoakan kaum Muslimin pada khutbah kedua.
Khatib yang disyaratkan berdiri (bila mampu) saat berkhutbah disunnahkan menyela kedua khutbah dengan duduk sebentar.
Sebagaimana diungkap dalam hadits Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah yang berkata:
السنة أن يخطب الإمام في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس
“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada salat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)
Pada khutbah pertama khatib disunnahkan memulainya dengan membaca takbir hingga 9 kali, sedangkan pada khutbah kedua membukanya dengan takbir 7 kali.
Saat khutbah berlangsung, jamaah diperintahkan untuk tenang, mendengarkannya secara seksama, agar memperoleh proses kesempurnaan salat Id.
Wallâhu a’lam.(rumasyo.com/nu.or.id)
Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Tata Cara dan Niat Shalat Idul Fitri 1440 H, Jangan Sampai Jumlah Takbir Anda Salah, http://aceh.tribunnews.com/2019/05/18/tata-cara-dan-niat-shalat-idul-fitri-1440-h-jangan-sampai-jumlah-takbir-anda-salah?page=all.
Editor: Amirullah