Renungan Harian Kristen Protestan
Renungan Harian Kristen Protestan 16 Mei 2019
Sifat alami tersebut diimplementasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, adil, menghormati orang lain
Renungan Harian Kristen Protestan 16 Mei 2019
Oleh: Pdt DR Mesakh A P Dethan Mth
Jangan Serahkan Pembentukan Karakter pada Media Sosial dan Media Mainstream!"
Menurut Thomas Lickona (lihat Thomas Lickona, Educating For Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility, New York : Bantam Books, 1992, hlm. 22) "karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral.
Sifat alami tersebut diimplementasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, adil, menghormati orang lain, disiplin, dan karakter luhur lainnya".
Masalahnya karakter seseorang tidak berdiri sendiri dalam pembentuknnya.
Ada banyak faktor yang turut mempengaruhi: diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan, lingkungan ibadah, idiologi partai, media sosial (whattsapp, Twitter, Facebook, Youtube, etc).
Jadi intinya bahwa karakter adalah sifat alami yang dimiliki setiap orang dalam kehidupannya, yang dibentuk sesuai lingkungan sekitar yang mempengaruhinya entah ia sadari atau tidak.
Bahaya terbesar dalam kehidupan orang beriman adalah menyerahkan pembentukan karakter diri bukan pada ajaran agama yang terkandung dalam Kitab Suci, tetapi pada faktor-faktor lingkungan sekitar yang menyesatkan,
misalnya pada idiologi tertentu (entah idiologi partai politik dan atau euforia politik untuk menjagokan dan mengkultuskan individu tertentu) atau pada media-media sosial yang menyesatkan.
Lebih parah lagi kalau sesorang menyerahkan pembentukan karakternya pada hoax yang disebarkan di media-media sosial (seperti WA, Facebook, Twitter, Facebook)
atau malah pada media massa mainstream dan atau lembaga-lembaga tertentu yang sudah disuap dan dibayar.
Yang disebut terakhir ini (media massa mainstream dan atau lembaga-lembaga tertentu) semacam ini walau menyampaikan kabar bohong, tetapi dipercaya publik
karena dianggap resmi dan kredibel.
Pada hal jika kita sedikit mau berpikir kritis media massa mainstream dan atau lembaga-lembaga tertentu juga mati hidupnya tergantung pada "bisnis" dan "advertising" (entah native advertising atau advertorial berbayar).
Hal ini sah saja dalam "bisnis media" sepanjang dilakukan secara jujur, terbuka dan dalam kontrol hati nurani.
Celakanya goreng menggoreng, plintir memelintir berita yang menjadi fenomena memprihatinkan dalam dunia industri media di Indonesia akhir-akhir ini turut membentuk karakter orang beriman
sehingga orang beriman tidak lagi mampu membedakan mana hoax dan fakta yang harus diikuti; mana "berita orderan dan pesanan" yang sudah diplintir dan digoreng untuk kepentingan tertentu dan mana yang jujur ungkap fakta apa adanya,
bahkan berita hoax yang digoreng sampai hangus sekalipun, tetapi mau saja diinternalisasi sebagai karakter seseorang.
Dari segi iman Kristen, Rasul Paulus mengatakan pembentukan karakter orang beriman hanya boleh bersumber pada Kitab Suci dan bukan pada hal-hal lain,
apalagi kalau itu kepentingan idiologi dari partai tertentu, dari media-media sosial atau media mainstream,- yang tidak jujur dan tidak bertanggungjawab.
Dalam surat 2 Timotius 3: 10-17 Rasul Paulus menasehati Timotius untuk menyerahkan pembentukan karakternya hanya pada Kitab Suci yang mampu mendidik orang dalam kebenaran.
"10 Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.
11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.
12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,
13 sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.
14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.
15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
Apa yang dibicarakan di sini menurut A.M Stibbs (A.M Stibbs, 2 Timothy, dalam New Bible Commentary, Third Edition, Guthrie, dkk, Inter Varsity Press, Leicester-Endgkand, 1970, hlm., 1181) adalah penegasan Rasul Paulus
tentang nilai dari kitab suci kepada Timothius yang telah dipelajarinya sejak kecil yang harus dipedomaninya dan sebagai arah dari langkah hidunya.
Karena kitab suci memilki kualifikasi unik yang terandalkan yang menuntun orang ke dalam pengalaman keselamatan Allah dalam iman kepada Yesus Kristus sang penyelamat.
Bagi Paulus kitab suci adalah theopneustos (bahasa Yunani artinya nafas Allah, bandingkan Mazmur 33:6) yang memiliki legitimasi untuk pendidikan moral bagi orang beriman dan juga sebagai ukuran dari setiap perbuatan baik.
Itu artinya apa? Artinya bahwa ukuran kebenaran bukan menurut media sosial (whattsapp, twitter, Facebook, Youtube, etc), media mainstream, kepentingan partai atau euforia partai
dan pengkultusan individu tertentu yang menyesatkan dan membohongi publik, tetapi menurut kitab suci sebagai theopneustos atau nafas Allah itu dan inspirasi Allah itu.
Kitab suci berasal dari Allah dan diinspirasikan dari Allah, sedangkan yang lain itu berdasarkan pesanan dan orderan orang-orang dari berbagai kepentingan yang belum tentu sesuai keadilan dan kebenaran.
Apa yang berasal dari Allah berguna dan tidak seorang pun yang dapat menolaknya. Orang yang dibentuk oleh kitab suci akan mempunyai kemampuan bukan hanya untuk mampu melihat mana yang benar dan salah,
mana yang hoax dan bukan, mana janji bohong dan bukan, mana kecurangan dan bukan, tetapi juga memiliki keberanian untuk menasehati dan menegur yang salah dan yang telah menyimpang dari keadilan dan kebenaran.
Rasul Paulus meminta Timothius untuk memperhatikan hal-hal ini sebagai bagian dari karakter kristiani yang bersumber dari kitab suci dan dengan tegas ia katakan dalam 2 Timothius 4: 1 dan 2
"Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."
Karakter kristiani ini penting bagi Timothius untuk menghadapi penyesatan dan kebohongan masal yang dilakukan oleh guru-guru palsu yang telah dibayar, para penguasa lalim dan jahat, orang-orang yang bermental curang dan suka berbohong, lihat 2 Timothius 4:3-4.
"3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng."
Rasul Paulus sudah mengingatkan Timothius sebelumnya dalam 2 Timothius 3:1-9 akan manusia-manusia jahat (seperti hamba uang, pembual, sombong, pengkhianat, tukang fitnah, ibadah hanya pencitraan,
memanfaatkan rakyat kecil yang lemah, menentang kebenaran Allah dan tidak memiliki akal sehat) yang akan muncul pada akhir zaman dengan segala kebohongan dan kecurangan mereka:
"Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. 2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.
Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,
3 tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,
4 suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
6 Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,
7 yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.
8 Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.
9 Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang."
Itulah sebabnya sebagai orang beriman pada masa kini nasehat Rasul Paulus ini penting bagi kita untuk menjadikan Kitab Suci sebagai acuan
dan ukuran hidup dalam berhadapan dengan manusia-manusia jahat seperti yang dilukiskan di atas itu.
Kitab Suci dapat memberi hikmat kepada kita dan menuntun kita kepada keselamatan, artinya, ia menjadi pedoman yang pasti dalam perjalanan kita menuju kehidupan kekal.
Kitab suci adalah mercusuar yang menerangi di tengah kegelapan agar ketika berlayar mengarungi kehidupan kita tidak menabrak karang.
Kitab suci adalah kompas bagi kita agar kita tidak tersesat di hutan belantara kehidupan ini.
Menurut Matthew Henry Commentary "Kitab Suci itu bermanfaat untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Kitab Suci mengajar kita dalam kebenaran, menegur kita atas perbuatan yang keliru, membimbing kita kepada yang baik. Kitab Suci itu berguna dalam segala hal, sebab kita semua perlu diajar, diperbaiki, dan ditegur".
Media apapun hanya sebagai penolong untuk kita mendapat informasi, tetapi toh semuanya itu harus tetap diuji dan diterangi oleh Firman Tuhan yang terkadung dalam kitab suci.
Kitab Suci menjadi sumber primer, sumber yang lebih baik dan dapat dipercaya untuk patokan hidup orang kristen dalam hidup berbangsa dan bernegara. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-2.jpg)