Ini Ciri-Ciri Ustadz Dadakan yang Dinilai Berbahaya, KH Said Aqil Siradj: Very-Very Danger!

Ini Ciri-Ciri Ustadz Dadakan yang Dinilai Berbahaya, KH Said Aqil Siradj: Very-Very Danger!

KH Said Aqil Siradj mengingatkan kepada umat Islam untuk tidak melakukan hal yang tak berakhklak dan berbudaya.

Dalam situasi politik saat ini, masyarakat memang memiliki kebebasan dalam menyampaikan pendapat maupun aspirasi, namun hal tersebut harus diimplikasikan sesuai aturan.

"Dalam pemilu ini ada menang dan yang kalah, itu wajar. Kalau ada yang tidak terima ya ada jalurnya. Demo ya boleh dalam menyampaikan ekspresi ketidakpuasan, tapi harus ada akhlaknya dan budayanya. Indonesia ini bangsa yang berakhlak," tegasKH Said Aqil Siradj.

Sesama umat manusia, lanjutnya, juga tidak boleh mengancam orang lain, apalagi berencana menghilangkan nyawa seseorang.

Baginya, setiap individu harus menjadi orang yang menjaga persatuan, keamanan, perdamaianan, dan kenyamanan bagi lingkungan di sekitarnya.

Profil KH Said Aqil Sirodj

Prof Dr KH Said Aqil Siradj lahir di Cirebon 03 Juli 1953. Saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode 2010 - 2015.

Pada bulan April 2018, KH Said Aqil Siradj terpilih menjadi salah satu tokoh muslim berpengaruh di dunia yang berada di urutan ke-22 yang dirilis oleh The Muslim 500 yang diselenggarakan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre di Amman, Jordania.

KH Said Aqil Siradj mengenyam pendidikan keagamaan di Arab selama lebih dari 13 tahun.

Berdasarkan silsilah nasab KH Said Aqil Siradj merupakan dzuriyah Rasullullah yang ke-32.

Pasangan: Nur Hayati Abdul Qodir
Anak: Muhammad Said Aqil, Rihab Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Aqil Said Aqil
Orang Tua: Aqil Siradj, Afifah Harun

Pendidikan:
S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994

Pendidikan Non-Formal:
1. Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
2. Pesantren Hidayatul Mubtadi’en Lirboyo Kediri (1965-1970)
3. Pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta (1972-1975)
4. Stadium General STAI Mathaliul Falah Kajen Margoyoso Pati

(*)

Editor: Bebet I Hidayat
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved