Breaking News:

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 8 Mei 2019 ''Bolehkah Kita Marah?''

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 8 Mei 2019 ''Bolehkah Kita Marah?''Simak renungan di bawah ini!

Editor: maria anitoda
istimewa
Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 8 Mei 2019 ''Bolehkah Kita Marah?'' 

 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Injil Matius menekankan bahwa menurut Yesus sikap hidup orang percaya harus berbeda dengan orang farisi yang lebih menekankan aspek legal atau hukum dari pada hubungan persaudaraan antar manusia (ayat 20).

Bagi Yesus bukan karena membunuh saja baru orang dihukum, tetapi juga jika seseorang memarahi saudaranyapun itu juga sudah masuk dalam kategori layak untuk dihukum dan malah diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nya (ayat 21 dan 22).  

Bahkan adalah suatu kesia-siaan dari suatu ibadah seseorang yang sementara dijalaninya, jikalau masih ada kebencian pada sesamanya (ayat 23 dan 24).

Dan menurut Yesus adalah lebih baik memilih jalan damai dengan sesama dari pada berperkara dengannya (ayat 25 dan 26).

Yesus mencela sikap hidup orang farisi yang lebih menekankan sisi legal atau menekankan Hukum Taurat dan mengorbankan persaudaraan dan tindakan kasih kepada sesama.

Bagi Yesus orang-orang Farisi hanya melihat kulit luar dari Taurat tanpa melihat jiwa dari Taurat itu sendiri.

Itulah sebabnya Yesus sendiri marah kalau orang Farisi memarahinya ketika Ia menyembuhkan orang pada hari sabat (Lihat Markus 3:5). 

Orang dapat memanipulasi hukum, dan hukum bisa ditafsirkan menurut kepentingannya.

Bagi Yesus bukan saja membunuh merupakan suatu kejahatan, namun memarahi saudara kita saja itu pun sudah digolongkan dalam kejahatan. 

Yesus disini mengeritik orang yang marah tidak pada tempatnya.

Yesus sendiri pernah marah, tetapi kemarahan Yesus karena ia tidak setuju dengan kejahatan dan perilaku manusia yang buruk (Mat 21:12-13). 

Bagi Yesus kemarahan manusia tidak boleh membuatnya jatuh dalam dosa.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Ef 4:26-27).

Archibald Hart menulis: “Jika kita bisa menjadi marah hanya pada apa yang membuat Yesus marah, maka dunia ini akan menjadi tempat yang menyenangkan”.

Bagi Yesus adalah suatu kesia-siaan apabila manusia memiliki relasi yang baik dengan Tuhan, tetapi pada saat yang sama memiliki relasi yang buruk dengan sesamanya. 

Karena itu Yesus meminta orang percaya berdamai dulu dengan sesamanya, sebelum melakukan ibadah kepada Tuhan  (Mat 5: 23 dan 24).

Dalam kisah Kain dan Habel (Kej 4:5 dyb), Tuhan mengingatkan Kain untuk mengelola kemarahannya agar ia tidak jatuh dalam tindakan dosa.  Kemarahan seperti dosa yang mengintip.

Kemarahan kecil masih mudah untuk diatasi, namun ketika ia telah bertambah besar, hal itu seperti dosa yang sedang mengintip dan siap untuk menghancurkan manusia. 

Kemarahan yang kita biarkan berlarut-larut akan menjadi lahan permainan yang sangat menarik bagi iblis.

Itu sama dengan membuka kesempatan bagi iblis untuk menjebak dan menjerumuskan kita.

Daud berkata: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mazmur 37:8).

Sikap hidup orang Farisi yang menggunakan kemarahan tidak pada tempatnya tidak layak untuk kerajaan Sorga (Mat. 5:20).

Sebaliknya dari pada marah Yesus menganjurkan orang percaya untuk bersikap lemah lembut.

Hanya orang-orang yang lemah lembutlah yang akan memiliki bumi, kata Yesus.

Orang-orang lemah lembut bukanlah orang yang lemah dan mudah menyerah. 

Orang yang lemah lembut adalah orang yang mau tunduk kepada otoritas Tuhan, mau menaklukkan diri sepenuhnya ke dalam rencana Tuhan dalam segala aspek kehidupan, apakah itu dalam pikiran, perbuatan, perasaan dan perkataan, dan menyerahkan sepenuhnya dalam tuntunan Roh Kudus. “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Matius 5:5).

Bagi Yesus adalah lebih baik berdamai dengan sesama dari pada berperkara dengannya (ayat 25 dan 26).

Benarlah pepatah tua yang mengatakan bertikai dan berperkara dengan sesama itu tidak ada manfaatnya karena “menang jadi arang kalah jadi abu”.

Saat anda dilukai tetaplah bersikap rohani dan tidak terbawa emosi.

Kita harus bersikap bijak dan meminta hikmat dari Tuhan Tuhan.

Karena kemarahan kita pada sesama baik dengan kekerasan fisik maupun kekerasan verbal (kata-kata makian) bagaikan pisau yang kita tancapkan ketubuh sesama kita.

Tidak peduli berapa kali kita meminta maaf padanya, tetapi luka tusukan itu akan tetap ada.

Dan luka karena kata-kata makian dan hinaan, sama buruknya dengan luka fisik.

Berhati-hatilah dengan perkataan dan amarahmu jangan sampai melukai hati sesamamu!  (*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved