Breaking News:

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 8 Mei 2019 ''Bolehkah Kita Marah?''

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 8 Mei 2019 ''Bolehkah Kita Marah?''Simak renungan di bawah ini!

Editor: maria anitoda
istimewa
Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 8 Mei 2019 ''Bolehkah Kita Marah?'' 

Dalam alkitab dicatat bahwa ada 299 kali perkataan marah (dalam Ibrani karah, dalam bahasa Yunani: orgizomai) dimana bukan saja dihubungkan dengan manusia, tetapi juga dihubungkan dengan Tuhan.

Menarik untuk dicatat bahwa kemarahan manusia itu disebabkan bukan saja karena apa yang dilihatnya dipandang jahat dan harus ditentang, tetapi juga orang marah karena ia dilukai, disakiti, atau atau kepentingannya merasa terganggu.

Sedangkan kemarahan Tuhan lebih banyak oleh karena Tuhan memandang perbuatan manusia yang berlawanan dengan kehendakNya dan karena kedigilan dan kejahatan manusia.

Kemarahan Tuhan bahkan menyebabkan manusia mendapatkan hukuman kebinasaan dan penghukuman lainnya (Band. Kej 18:30,32; 38:7, 10; Kel 22:24;32:10).

Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri dicatat menunjukkan kemarahannya sebanyak 3 kali (dalam Matius 21:12-13 karena orang-orang menyalah gunakan Rumah Tuhan;

Markus  3:5 dimana Yesus memarahi para imam;

Markus 10:14 Yesus memarahi para murid karena melarang anak-anak datang kepadaNya).   

Dari segi ilmu psikologi kemarahan didefenisikan sebagai suatu emosi, yang secara fisik mengakibatkan antara lain peningkatan denyut jantung, tekanan darah, serta tingkat adrenalin dan nonadrenalin.

Ekspresi luar dari kemarahan dapat ditemukan dalam bentuk  raut muka, bahasa tubuh, respon psikologis dan kadang-kadang tindakan agresi publik (lihat  Michael Kent, Anger, The Oxford Dictionary of Sports Science & Medicine, Oxford University Press, bandingkan juga Raymond DiGiuseppe, Raymond Chip Tafrate, Understanding Anger Disorders, Oxford University Press, 2006, hlm.,133-159).

Lebih menarik lagi jika membandingkan perilaku  Manusia dan hewan kalau lagi marah hampir mirip, yaitu sama-sama mengeluarkan suara keras supaya kelihatan tampak lebih besar secara fisik, memamerkan gigi mereka, atau melotot (lihat Primate Ethology, 1967, Desmond Morris (Ed.). Weidenfeld & Nicolson Publishers: London, hlm.,55).

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved