Di NTT- Saksi Demokrat Temukan Ada Orang Meninggal Ikut Coblos di Wewaria, Ende

Saksi dari Partai Demokrat Kabupaten Ende, Maxi Mari mengatakan pihaknya mendapatkan laporan dari kader Partai Demokrat terkait dengan kecurangan Pemi

Di NTT- Saksi Demokrat Temukan Ada Orang Meninggal Ikut Coblos di Wewaria, Ende
POS-KUPANG.COM/ ROMUALDUS PIUS
Suasana rekapitulasi suara Pemilu 2019 di KPU Ende, Kamis (2/5/2019) 

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius

POS-KUPANG.COM,ENDE---Saksi dari Partai Demokrat Kabupaten Ende, Maxi Mari mengatakan pihaknya mendapatkan laporan dari kader Partai Demokrat terkait dengan kecurangan Pemilu yang terjadi di Desa Tana Li, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende yang terjadi di TPS 01 dan 02.

Hal tersebut dikatakan Maxi Mari dalam keterangan pers kepada wartawan di Ende, Selasa (7/5/2019).

Maxi mengatakan bahwa berdasarkan data yang ada menunjukan bahwa di TPS 01 dan 02 Desa Tana Li, Kecamatan Wewaria ada 10 orang yang terdaftar dalam DPT untuk mengikuti Pemilu di kedua TPS yang ada.

Namun pada saat pencoblosan 10 orang warga tidak bisa ikut mencoblos dengan alasan yang berbeda ada yang memang sudah meninggal dunia dan ada juga yang telah pindah keluar daerah ada yang ke Kota Ende namun ada juga yang merantau ke Malaysia dan Kalimantan.

BREAKING NEWS- Kecelakaan Lalulintas di Borong, Dokter Indrawati Meninggal Dunia

Anehnya pada saat pencoblosan nama mereka justru terdaftar dan ikut melakukan pencoblosan.

“Yang jadi pertanyaan kami siapa yang mencoblos toh oranya sudah tidak ada di lokasi bahkan ada yang sudah meninggal dunia,”kata Maxi.

Untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan telah meninggal dunia pihaknya juga melengkapi data dengan foto di kuburan orang yang telah meninggal karena di salib yang bersangkutan tertulis tanggal yang menunjukan yang bersangkutan meninggal sebelum pelaksanaan pencoblosan.

Keanehan lain ungkap Maxi adalah di TPS tersebut justru perolehan suara menjurus ke salah satu caleg dengan perolehan suara 100 persen sementara ada warga yang mengatakan bahwa mereka tidak menusuk atau memilih caleg yang bersangkutan.

“Setidaknya ada 6 orang yang mengatakan bahwa mereka mencoblos caleg lain tetapi kok perolehan suara menjadi 100 persen untuk satu orang caleg ,”kata Maxi.

Oleh karena itu pihaknya meminta kepada Bawaslu dan KPU untuk menelusuri kasus yang terjadi di Desa Tana Li, Kecamatan Wewaria dan diharapkan agar dilakukan pemilihan suara ulang (PSU).

Secara terpisah Anggota Bawalsu, Maria Uria Ie mengatakan bahwa terkait dengan permintaan dari saksi Parpol, Maxi Mari untuk dilakukan PSU di Desa Tana Li saat ini sudah tidak memungkinkan lagi karena PSU hanya terjadi 1 kali saja sesuai dengan keputusan MK.

“Kalau untuk PSU saat ini sudah tidak mungkin karena PSU ada masa kadaulawarsa yakni 10 hari setelah pelaksanaan Pemilu,”kata Maria.

Maria mengatakan bahwa pihaknya membenarkan bahwa fakta dalam pleno seperti yang terungkap oleh saksi dari Partai Demokrat, Maxi Mari.

“Iya itu fakta pada saat pleno sedangkan fakta di lapangan sebagaimana dikemukan oleh saksi dari Partai Demokrat akan didalami oleh Bawaslu,”kata Maria. (*)

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved