Tim Satgas Pangan Diminta Awasi Harga Memasuki Bulan Puasa

Memasuki bulan puasa tahun 2019 diharapkan tim Satgas Pangan dapat mewaspadai komoditi bahan makanan yang memicu inflasi.

POS-KUPANG.COM / AMBUGA LAMAWURAN
Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia. Gambar diambil pada Senin (1/4/2019). 

POS-KUPANG.COM | KUPANG -Memasuki bulan puasa tahun 2019 diharapkan tim Satgas Pangan dapat mewaspadai komoditi bahan makanan yang memicu inflasi.

Kepala BPS Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia, pada jumpa pers bulanan BPS NTT, di Aula Kantor tersebut, Kamis (2/5/2019) mengatakan, pada bulan April 2019 Nusa Tenggara Timur mengalami inflasi sebesar 0,51 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,58.

"Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,58 persen sedangkan Kota Maumere mengalami deflasi sebesar 0,04 persen," jelasnya.

Beberapa komoditas utama yang menyumbang andil inflasi di Kota Kupang April 2019 antara lain naiknya harga angkutan udara yang masih 'menggila', bawang merah, bawang putih dengan harga mencapai Rp 80.000 per kilogram, tomat sayur, ikan ekor kuning, cabai rawit, kangkung, ikan kakap merah, sawi putih dan daun singkong.

Autoshow BCA Kupang Direncanakan Jadi Event Tetap

Visi Hotel Aston : Membahagiakan Siapapun Yang Hadir Di Aston Kupang

Ia menyebutkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan inflasi kota Kupang pada April 2019 adalah bahan makanan dan transportasi dengan andil sebesar 0,42 persen dan 0,14 persen.

Inflasi April 2019 di Nusa Tenggara Timur terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada lima kelompok pengeluaran, dimana kelompok bahan makanan mengalami kenaikan terbesar yaitu sebesar 1,50 persen dan transpor sebesar 0,73 persen. Sedangkan kelompok perumahan dan sandang mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,03 dan 0,04 persen.

Sedangkan komoditas utama yang menghambat inflasi Kota Kupang antara lain turunnya harga ikan kembung, ikan tembang, bayam, ikan tongkol, jeruk, ikan cakalang, wortel, terong panjang, daging ayam ras dan besi beton.

Kelompok pengeluaran kesehatan, lanjutnya, juga menyumbang inflasi 0,44 persen. Karena ada pengeluaran untuk pembelian sabun, ongkos bidan, hand body lation shampoo dan lainnya. Begitu juga dengan makanan jadi, yang dipicu oleh rokok kretek dan air mineral yang mengalami kekurangan produksi, sehingga memicu terjadi inflasi.

"Karena persediaan terbatas, kebutuhan banyak, sehinga harga air mineral naik," ujarnya.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang menghambat inflasi lanjutnya, perumahan, listrik, air, gas dan bahan bakar serta sandang.

Ia mengatakan dalam lima tahun terakhir, tercatat di bulan April NTT mengalami empat kali inflasi dan satu kali deflasi. Deflasi terjadi pada 2015 sebesar 0,21 sedangkan inflasi terbesar terjadi pada 2019 sebesar 0,51 persen.

Kota Kupang dalam lima tahun terakhir pada April mengalami lima kali inflasi, inflasi terbesar terjadi pada 2019 sebesar 0,58 persen. Kota Maumere dalam lima tahun terakhir pada April mengalami satu kali inflasi yaitu pada 2015 sebesar 0,43 persen dan deflasi terbesar pada tahun 2018 sebesar 0,38 persen. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati)

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved