Produksi Padi Dengan Pola Tanam Konvensional Sangat Rendah Ketimbang Metode Jarwo
Hasil produksi padi sawah dengan metode tanam konvensional sangat rendah dibandingkan dengan metode jajar legowo
Penulis: Teni Jenahas | Editor: Rosalina Woso
Produksi Padi Dengan Pola Tanam Konvensional Sangat Rendah Ketimbang Metode Jarwo
POS-KUPANG.COM| BETUN--Hasil produksi padi sawah dengan metode tanam konvensional sangat rendah dibandingkan dengan metode jajar legowo.
Fakta ini diketahui saat PPL Desa Laleten menggambil ubinan padi di sawah milik petani Desa Laleten, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Senin (29/4/2019).
Para penyuluh di Kecamatan Weliman menggambil ubinan padi di sawah milik Martinus Taek, anggota kelompok tani Mane Ikun. Martinus menanam padi dengan metode konvensional. Dari hasil ubinannya menunjukkan produksi padi hanya 5,7 ton per hektare.
• Intip! Ramalan Zodiak Cinta Hari Selasa 30 April 2019, Virgo Bersenang-Senanglah dengan Kekasihmu!
• Peringatan Dini Hari Ini, Waspada Potensi Gelombang Tinggi di Wilayah Perairan NTT
• Kepala SMPN 13 Kota Kupang Ungkap Kronologi Belasan Siswa Merusak Fasilitas Sekolah
Sebelumnya, PPL menggambil ubinan padi di sawah milik petani yang menanam dengan metode jajar legowo (jarwo). Hasilnya mencapai 8,6 ton per hektare.
Hal itu dikatakan PPL Desa Laleten, Jeremy Nahak kepada Pos Kupang.Com, Senin (29/4/2019).
Menurut Jeremy, produksi padi yang ditanam menggunakan pola jajar legowo 2:1 dengan pola konvensional sangat jauh berbeda. Namun, masih ada petani yang menggunakan metode konvensional. Hal ini terjadi karena petani tidak serta merta mengikuti metode jajar legowo sebelum melihat hasilnya.
Oleh karena itu, Jeremy sebagai PPL terus berupaya menyakini petani terkait metode tanam jajar legowo. Sebelum petani memilih metode jajar legowo, ia terlebih dahulu membuat perbandingan dua metode tanam di lahan petani yang bersangkutan.
Ketika hasil yang diperoleh berbeda maka secara otomatis petani akan mimilih metode yang labih bagus hasilnya.
Menurut Jeremy, ia membuat pendekatan seperti itu agar lebih mudah dipahami oleh petani. Sebab petani yang sudah berpuluh-puluh tahun mengenal motede tanam konvensional akan membutuhkan waktu untuk merubah ke metode yang lain.
Merubah ke metode yang lain pun harus dibuktikan dengan hasil yang dapat dilihat dan dirasakan, bukan dengan kata-kata saja. Hal ini menjadi tantangan terbesar seorang PPL. (Laporan Reporter POS KUPANG.COM,
Teni Jenahas).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/timbang.jpg)