Berita Puisi

Ini Loh, Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk

Puisi Melki Deni : Kau telah merampok puing-puing fatamorgana siang itu. Kau biarkan aku merana bersama kunang-kunang malam.

ilustrasi/hypwe
Lelaki pemungut fatamogana senja 

hiba tanahku beranak pinak
tak ada yang membendungnya
namun perih bagaikan ngengat
mengikis sukma dari lubuk yang tersembunyi

Kasus Bowo Sidik Pangarso, KPK Geledah Ruangan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

di bibir segara, kini tinggal bakau-bakau
berleret pasrah pada angin laut
melihat daratan dijungkir balik
lenguh tak berdaya, sepayah mungkin

sedang di seberang pulau
insan-insan dari tanah ini
beraut muram, dipaksa
sigap di bibir pelabuhan

menuai hasil di dalam tongkang
dari tanahnya sendiri
seperti samun baru selesai dibebaskan
dan akan terus seperti itu tak terhingga.
(Yogyakarta, 2019)

Ayah dan Saudara Dalang Teror Bom Ledakkan Diri, Dekrit Presiden NJT dan JMI jadi Organisa Terlarang

Latah

Ke dalam bibirmu
Kusimpan raut wajahku yang lisut.
Kau bahasakan tubuhku yang kusut
Di antara sumpah-sumpah latah dedaunan
Yang meninggalkan pelepah pohon
Menjadi yatim di antara pasang-pasang
Serbuk sari dan putik yang bermesraan lewat angin.
(Yogyakarta, 2019)
(Bruno Rey Pantola, lahir di Lospalos, 23 Maret 1997. Alumni Seminari St. Rafael Oepoi, Kupang).

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved