Ibu Bunuh Diri Bersama Bayi Pasca-melahirkan, Ini Penjelasan Dosen Fakultas Psikologi UMP

Seorang Ibu Bunuh Diri Bersama Bayi Pasca-melahirkan, Ini Penjelasan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto ( UMP)

Ibu Bunuh Diri Bersama Bayi Pasca-melahirkan, Ini Penjelasan Dosen Fakultas Psikologi UMP
KOMPAS.com/ilustrasi BBC
Sepasang kaki bayi di dalam selimut 

Seorang Ibu Bunuh Diri Bersama Bayi Pasca-melahirkan, Ini Penjelasan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto ( UMP)

POS-KUPANG.COM | PURWOKERTO - SP (32), ibu yang melompat bersama anaknya, YP, yang baru berusia empat bulan, dari jembatan Sungai Serayu, perbatasan Kecamatan Maos dan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (27/4/2019), diduga mengalami depresi post-partum atau pasca-persalinan.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Dr Ugung Dwi Ario Wibowo MSi menjelaskan, depresi bisa terjadi karena kerentanan mental, situasi tertekan dalam jangka waktu lama atau bisa juga karena faktor hormonal.

Aa Gym Berduka, Ibundanya Meninggal Dunia Setelah Satu Malam Dirawat karena Alami Panas

"Depresi post-partum levelnya di atas baby blues. Baby blues bisa terselesaikan dalam waktu satu atau dua minggu. Setelah dua minggu, kalau tidak terselesaikan, bisa jadi depresi post-partum," katanya saat dihubungi, Minggu (28/4/2019).

Salah satu indikasi depresi post-partum, lanjut Ugung, penderitanya akan menutup diri, murung, berhalusinasi, muncul perasaan ingin menyakiti dirinya sendiri atau anaknya hingga muncul keinginan untuk bunuh diri.

Lebih dari Setengah PNS Koruptor Sudah Dipecat dengan Tidak Hormat, Ini Jumlahnya

"Kalau itu tidak segera diperiksakan akan menjadi psikosis post-partum, itu sudah positif gangguan jiwa berat," ujar Ugung.

Menurut dia, untuk kasus SP, korban diduga mengalami depresi post-partum. Pada fase tersebut, penderita semestinya mendapat pendampingan dari psikolog atau psikiater dan mengkonsumsi obat antidepresan.

"Tapi biasanya terlambat atau karena ketidakmampuan finansial, itu tidak dilakukan," kata Ugung.

Lantas bagaimana menolong seorang ibu bisa depresi pascamelahirkan? Menurut Ugung, ibu pasca-melahirkan membutuhkan pendampingan dari orang-orang di sekitarnya.

Apabila seseorang mengalami baby blues, lanjut dia, sebenarnya dapat diselesaikan bersama dengan orang-orang di sekitarnya.

Ugung menganalogikan fenomena baby blues dengan seseorang yang mengalami putus cinta. "Misal (korban) bullying, akan menutup diri tapi kemudian bisa move on, putus cinta mengurung diri, tapi ketika fase move on akan kembali. Baby blues juga demikian. Tapi masalahnya, kalau tidak bisa keluar, akan jadi masalah (misal) ingin menyakiti diri sendiri atau orang lain," ujar Ugung.

Kontak bantuan

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri. Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. (Kompas.com/Fadlan Mukhtar Zain)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ibu Bunuh Diri Bersama Bayinya Pasca-melahirkan, Apa Pelajaran untuk Kita?", Ibu Bunuh Diri Bersama Bayinya Pasca-melahirkan, Apa Pelajaran untuk Kita?

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved