BREAKING NEWS: Anggota Polsek Laenmanen Dilarikan ke Rumah Sakit Atambua

Di Polsek Laenmanen, Polres Belu, dua anggota polisi dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis karena diduga kelelahan

BREAKING NEWS: Anggota Polsek Laenmanen Dilarikan ke Rumah Sakit Atambua
POS-KUPANG.COM
Anggota Polsek Laenmanen saat dirawat petugas medis di Puskesmas Uaba, Belu. 

Anggota Polsek Laenmanen Dilarikan ke Rumah Sakit Atambua

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Teni Jenahas

POS KUPANG.COM| BETUN- Penyelenggaraan pemilu nasional tahun 2019 sudah selesai. Pesta demokrasi lima tahun sekali ini menyisihkan kisah-kisah pahit, baik peserta pemilu, penyelenggara maupun aparat keamanan.

Di Polsek Laenmanen, Polres Belu, dua anggota polisi dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis karena diduga kedua anggota polisi kelelahan. Keduanya adalah Bripka Paulus Moruk, Kapospol Nurobo dan Bripka Herman Tahu, Babinkamtibmas Desa Nauke Kusa.

Kapolsek Laenmanen, Iptu Oskar Pinto yang dikonfirmasi Pos Kupang.Com, Sabtu malam (27/4/2019) membenarkan peristiwa tersebut.

Dikatakannya, dua anggota Polsek Laenmanen dilarikan ke Puskesmas Uabau usai pleno rekapitulasi tingkat PPK Kecamatan Laenmanen, Kamis (25/4/2019). Selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Atambua guna mendapat penanganan medis lebih lanjut.

Partisipasi Pemilih Saat PSU di Malaka Menurun

Irwasda Polda NTT Pantau PSU di Tiga TPS Kota Kupang

Diduga, kedua anggota polisi itu kelelahan saat menjalankan tugas pengamanan logistik pemilu yang mulai dari tingkat TPS sampai pada pleno di tingkat PPK.

Menurut Oskar, setelah mendapat perawatan medis, kedua anggotanya kembali pulih dan sampai dengan saat ini, semua anggota Polsek Laenmanen dalam keadaan sehat.

Anggota Polsek Laenmanen saat dirawat petugas medis di Puskesmas Uaba, Belu
Anggota Polsek Laenmanen saat dirawat petugas medis di Puskesmas Uaba, Belu (POS-KUPANG.COM/ TENI JENAHAS)

Ketua KPU Malaka, Makarius B Nahak, S.Fil saat dikonfirmasi Pos Kupang.Com terkait kondisi para penyelenggara mengatakan, sejauh ini, penyelenggara pemilu di Kabupaten Malaka tidak ada sakit berat.

Ada beberapa penyelenggara yang sempat masuk rumah sakit untuk kontrol seperti, PPK Kecamatan Malaka Tengah. (*)

Tujuh Penyelenggara Pemilu di NTT Meninggal

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM/KUPANG- Hingga saat ini tercatat tujuh penyelenggara pemilu dari jajaran KPU di NTT meninggal dunia. Dari tujuh korban itu, ada yang berstatus PPS, PPK, KPPS dan Linmas.

Hal ini disampaikan Juru Bicara KPU NTT, Yosafat Koli, Kamis (25/4/2019).

Menurut Yosafat, hingga saat ini ada tujuh orang penyelenggara Pemilu yang meninggal. Dua orang penyelenggara di Kabupaten TTS meninggal pada Kamis (25/4/2019).

"Semua petugas ini meninggal saat‎ melaksanakan tugas Pemilu di wilayah masing-masing. Ada yang sakit dan ada yang mengalami kecelakaan lalu lintas," kata Yosafat.

Dijelaskan, penyebab kematian dari tujuh penyelenggara itu, ada yang sakit dan kecelakaan lalu lintas.

Ditanyai soal perhatian pemerintah dan penyelenggara terhadap para korban, ia mengakui, secara nasional ada santunan tapi besaran dan bentuk santunan itu belum diketahui.

"Bentuk santunan dan besarannya ‎seperti apa, kita tunggu dari pusat," katanya.
Sedangkan jumlah penyelenggara yang sakit sebanyak 24 orang.

Data Penyelenggara yang meninggal

1. ‎Blandina Rafu, Anggota KPPS di
Desa Manleten,Kecamatan Tasifeto Timur,Kabupaten Belu.

2. Saferius Sanda, Anggota KPPS Pocio Dedeng,Lembor, Manggarai Barat.

3. Godlief Tefnai, Anggota ‎KPPS TPS 09, Desa Mnelalete,TTS.

4. Silfanus Nepa Fay, PPK di Kelurahan Naikliu, Kabupaten Kupang

5. Yahya D Ora, PPS di Desa Nekmese, Amarasi Selatan, Kabuaten Kupang

6. Jonius Ama Ki'i, Linmas di Desa Watulabara, Wewewa Barat, SBD

7. Yunus Sapay,Linmas di TPS 04, Desa Oebelo, Amanuban Selatan, TTS.(*)

Kemenkeu Setuju Dana Santunan, KPU Verifikasi Nama-nama Korban KPPS yang Meninggal

POS-KUPANG.COM- Kementerian Keuangan (Kemenkeu RI) telah menyetujui santunan bagi petugas  Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang mengalami musibah.

Untuk itu, selanjutnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan verifikasi data guna memastikan santunan tepat sasaran.

Hal tersebut disampaikan Komisioner KPU Hasyim Asy'ari di gedung Bawaslu, MH.Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (25/4/2019).

"KPU bicara dengan Kemenkeu standarnya seperti apa santunan untuk kematian. Katakan sudah disetujui besaranya, KPU harus mengidentifikasi, siapa yang meninggal," ujar dia.

Ia mengatakan, identifikasi yang dilakukan seperti menyertakan bukti surat keterangan meninggal dari lembaga yang berwenang.

"Harus by name, siapa namanya, alamatnya di mana dan kepada siapa santunan akan diberikan," kata Hasyim.

"Verifikasi hal-hal ini mungkin mudah. Tapi kalau sudah level prosedur hukum itu kita harus hati-hati betul," lanjut dia.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI mengusulkan pemberian santunan sebesar Rp30-36 juta bagi petugas penyelenggara Pemilu yang meninggal dunia saat menjalankan tugasnya.

Sedangkan bagi mereka yang cacat fisik, KPU mengusulkan santunan sebesar Rp30 juta.

Sementara mereka yang terluka atau trauma fisik, bantuan santunan maksimal Rp16 juta.

Hingga Kamis (25/4) pukul 18.00 WIB, tercatat 1.695 orang mengalami musibah saat bertugas kala pemilu lalu.

Jika dirinci, 225 orang meninggal dunia, dan 1.470 lainnya jatuh sakit.(*)

Diberikan Pekerjaan Oleh Wali Kota Surabaya, Istri Petugas KPPS yang Meninggal Ucapkan Terima kasih

POS-KUPANG.COM | SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengunjungi keluarga petugas KPPS yang diduga meninggal setelah menjalankan tugas pada gelaran Pemilu 2019.

Sudah tiga hari berturut-turut Risma berkeliling mengunjungi rumah keluarga petugas KKPS yang meninggal. Di hari ketiga ini, Sabtu (27/4/2019), Risma mengunjungi keluarga almarhum Hariono.

Hariono bertugas di TPS 45, Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo, Surabaya. Almarhum merupakan petugas KPPS bagian ketertiban di TPS 45.

Tiba di rumah keluarga almarhum Hariono di Jalan Jugruk Rejosari III/10, Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo, Risma dan jajarannya disambut hangat oleh pihak keluarga.

Di rumah duka, wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan itu menyampaikan belasungkawa dan memberikan bantuan kepada keluarga almarhum.

Mukholifah, istri almarhum Hariono menceritakan kronologi meninggalnya sang suami. Ia menjelaskan, Hariono mengalami kelelahan saat bertugas menjaga TPS 45 mulai Rabu (17/4/2019) pagi sampai Kamis (18/4/2019) pukul 08.00 WIB.

Setelah pulang ke rumah, Hariono mengeluh kepada istrinya bahwa seluruh badannya terasa capek karena tidak duduk atau istirahat selama berjam-jam di TPS.

Almarhum yang merasa kelelahan, kata Mukholifah, seketika tidur di rumah hingga malam hari. Keesokan harinya, Hariono menyampaikan bahwa badannya terasa sakit, kemudian dibawa ke dokter praktik oleh keluarga.

"Kemudian pada Minggu-Senin, kondisinya semakin drop dan akhirnya pada Senin (22/4/2019) sekitar pukul 14. 30 WIB, almarhum meninggal dunia di rumah," cerita Mukholifah.

Di hadapan Risma, Mukholifah juga meminta pekerjaan agar bisa membantu meringankan beban keluarga setelah ditinggal sang suami. Mukholifah berharap mendapatkan pekerjaan yang dekat dengan rumahnya.

Mendengar hal itu, Risma memastikan bahwa Pemkot Surabaya siap membantu pendidikan anak almarhum. Saat itu juga, Risma langsung menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita. Risma pun meminta Febria untuk memberikan pekerjaan kepada Mukholifah di Puskesmas Pembantu Kandangan.

Hari Senin depan, Mukholifah akan dipanggil dan apabila sudah siap bekerja, mulai 1 Mei 2019 dia akan bekerja di Puskesmas Pembantu Kandangan.

"Saya mencoba membantu, mengurangi beban keluarga ini," kata Risma.

Pada kesempatan itu, Risma juga berharap ada evaluasi tentang sistem penyelenggaraan pemilu serentak tahun ini. Sebab, apabila sistemnya masih sama seperti Pemilu 2019 ini, maka ia khawatir banyak petugas TPS yang kelelahan.

"Mungkin ada evaluasi, karena melelahkan memang kalau sistemnya masih seperti kemarin. Petugas TPS juga berat," harapnya.

Mukholifah menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan Risma dan jajaran Pemkot Surabaya. Menurutnya, yang paling penting adalah pendidikan kedua anaknya dan juga kebutuhan akan pekerjaan.

"Alhamdulillah, katanya Bu Risma mau dibantu pendidikan anak dan juga dikasih pekerjaan. Saya sangat bersyukur," kata Mukholifah.

Secara keseluruhan, terdapat empat orang petugas KPPS di Surabaya meninggal dunia diduga kelelahan usai menjalankan tugas.

Mereka adalah Ketua KPPS TPS 13 Kelurahan Kapas Madya Baru Kecamatan Tambak Sari Sunaryo, anggota KPPS TPS 19 Kelurahan Pacar Keling Kecamatan Tambak Sari Thomy Heru Siswantoro, anggota KPPS 19 Kelurahan Kedung Baruk Kecamatan Rungkut Badrul Munir, dan Linmas TPS 45 Kelurahan Kandangan Kecamatan Benowo Hariono (36) .
(Kompas.com/Ghinan Salman)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Risma Berikan Pekerjaan untuk Istri Petugas KPPS yang Meninggal ", Risma Berikan Pekerjaan untuk Istri Petugas KPPS yang Meninggal (*)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved