Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT: Indeks Demokrasi Indonesia Diharapkan Masuk RPJMD

Jadi sebetulnya kita berharap juga IDI ini selaku indikator masuk dalam RPJMD untuk mengukur perkembangan demokrasi

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT: Indeks Demokrasi Indonesia Diharapkan Masuk RPJMD
POS KUPANG/RYAN NONG
Kegiatan Focus Group Discussion Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi NTT di T-More Hotel Kupang, Jumat (26/4/2019). 

 
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT: Indeks Demokrasi Indonesia Diharapkan Masuk RPJMD

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) yang merupaka indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia oleh pihak terkait diharapkan bisa masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Hal ini dipertimbangkan dapat menjadi alat ukur untuk mengukur perkembangan demokrasi di daerah secara integral dalam pembangunan daerah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT Maritje Pattiwaellapia usai pertemuan Focus Group Discussion (FGD) Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tahun 2018 Provinsi NTT yang dilaksanakan di Sahid T-More Hotel Kupang, Jumat (26/4/2019) menjelaskan harapannya agar IDI diakomodir dalam RPJMD.

“Jadi sebetulnya kita berharap juga IDI ini selaku indikator masuk dalam RPJMD untuk mengukur perkembangan demokrasi di suatu wilayah dalam hal ini Provinsi NTT,” ucapnya.

Penyuluh Monitoring Perkembangan Tanaman Padi RPM

Video Porno Ariel Noah dan Cut Tari Diungkit Usai 9 Tahun, Hotman Paris Puji Yusuf Subrata

Merinding, Begini Urutan Eksekusi Mati di Nusa Kambangan, Bagaimana Nasib Steve Emmanuel?

IDI adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan tiga aspek demokrasi, yaitu Kebebasan Sipil (Civil Liberty), Hak-Hak Politik (Political Rights), dan Lembaga Demokrasi (Institution of Democracy).

Metodologi penghitungan IDI menggunakan 4 sumber data yaitu, review surat kabar lokal, review dokumen (Perda, Pergub, dll), Focus Group Discussion (FGD), dan wawancara mendalam.

Dalam proses FGD yang dilaksanakan, bertindak sebagai fasilitator kegiatan FGD, Kepala Bidang Statistik Sosial BPS NTT Desmon Sinurat serta Rere.

Hadir dalam FGD, Tim Bappenas yang terdiri dari Yunes Herawati dan Dinda Larasati, Ketua BPS NTT Maritje Pattiwaellapia dan tim BPS, Tim Pokja IDI NTT yang terdiri dari Ady E Mandala (Kesbangpol), dr Ahmad Atang (Akademisi UMK), dr John Tuba Helan (Akademisi Undana).

Hadir pula Ketua Ombudsman NTT Darius Beda Daton, Usman H (Bappelitbangda NTT), Alfred Mau (Bengkel APPeK), Lucky Aliandu dan Nurce Sombu (Setwan DPRD NTT), Riyoan Jacob (KNPI NTT), Marthen S (Kontras), Jefni A Bais (PMKRI), Brigpol William Talak (Polda NTT), AKP Johnny S Nahak (Polres Kupang Kota), Chrispina Obe (Partai Demokrat), Magdalena Leo (Biro Hukum Provinsi NTT), Vonika Djaga (Biro Hukum Provinsi NTT), Peter Nenohay (Partai Golkar) dan Ryan Nong (Pos Kupang).

Pada hari pertama FGD membahas aspek kebebasan sipil dan hari kedua membahas aspek hak hak politik dan lembaga demokrasi. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)

 

 
 

Penulis: Ryan Nong
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved