Ini Deretan Aksi Sejumlah Caleg Gagal dalam Pemilu 2019, Dari Mandi Kembang Hingga palang jalan

Meskipun hasil penghitungan suara Pemilu 2019 belum ditetapkan KPU, tetapi beberapa calon anggota legislatif sudah mengetahui hasil perolehan suara

Ini Deretan Aksi Sejumlah Caleg Gagal dalam Pemilu 2019, Dari Mandi Kembang Hingga palang jalan
Kompas.com/ Mohammad Syahri Romdhon
Ustadz Ujang Bushtomi memandikan salah satu caleg gagal 

Dia memberikan satu bungkus paket berisi empat butir telur untuk satu orang pemilih.

Namun, saat penghitungan suara, Khaerudin mulai menanyakan perolehan hasil suaranya.

Mursyid berulang kali ditelepon dan ditagih suara yang pernah ditargetkan.

Kenyataannya jauh, suara di Desa Penpen untuk Khaerudin hanya 567 dari 3.000 suara yang ditargetkan.

Akhirnya, Mursyid merasa kecewa pada diri sendiri karena tidak dapat memenuhi target.

Dia juga kesal dengan warga yang sudah dia beri sesuatu, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.

Mursyid mengaku hubungan saudara adik kakak pun sempat merenggang karena masalah ini.

Terapi depresi di Padepokan Anti Galau Albushtomi Pantauan Kompas.com, Mursyid mendatangi Padepokan Anti Galau Albushtomi pada Selasa petang.

BREAKING NEWS: Jelang PSU Besok, Seluruh anggota KPPS TPS 01 Desa Bonleu, TTS Diganti

Dia langsung berbincang dengan Ustaz Ujang Bushtomi, pemilik padepokan.

Dia menyampaikan apa yang sedang dialaminya hingga berulang kali merasa kecewa terhadap diri sendiri dan mudah marah.

Sekitar pukul 19.30 WIB, Ustaz Ujang Bustomi bersama tim Padepokan Anti Galau membawa Mursyid ke Waduk Setupatok.

Mereka langsung memandikan Mursyid sambil melakukan serangkaian ritual.

Ustaz Ujang Bushtomi menyampaikan, depresi setelah pemilu tidak hanya menyerang calon legislatif, tetapi juga tim suksesnya.

Hingga Selasa malam sudah ada enam caleg dan sepuluh orang tim sukses yang berkunjung ke padepokannya.

Ujang menjelaskan, tim sukses caleg yang depresi berasal dari rasa tertekan.

Caleg terus menagih dan meminta pertanggungjawaban perolehan suara yang tidak mencapai target.

Bahkan, tidak sedikit para caleg yang meminta uang dikembalikan karena jumlah perolehan suara kecil.

“Tim sukses juga mungkin sudah maksimal berkerja, tapi terus ditekan (caleg), bahkan meminta uangnya kembali. Tim sukses itu akhirnya stres seperti itu,” kata Ujang di lokasi.

Menghadapi tim sukses depresi, Ujang terus melakukan pendekatan.

Dia juga melakukan terapi dan ritual untuk membuat diri tim sukses merasa lebih tenang.

Dia mendorong agar tim sukses dan caleg mengikhlaskan apa yang telah dikeluarkan.

“Jika kita sedekahkan, tidak ada iming-iming lain yang diharapkan. Harus ikhlas. Terapi yang dilakukan bertujuan agar semua aura negatif hilang, agar jiwa dan pikiran tenang dan searah,” kata Ujang.

 KPU Terima Logistik PSU di Ende, Ini Penjelasannya

3. Tutup jalan desa

Seorang Caleg di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) menutup akses jalan ke permukiman penduduk.

Diduga hal tersebut dilakukan lantaran gagal meraih suara pada Pileg 17 April 2019.

Dikutip dari kompas.com, Kapolres Ngada AKBP Andhika Bayu Adhittama Caleg yang tidak disebutkan identitas dan parpol pengusungnya itu, menurunkan tanah, batu, dan pasir di10 titik jalan menuju Desa Marapokot dan Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa sejak Selasa (23/4/2019) malam.

"Kejadian kemarin, caleg itu menutup jalan permukiman warga. Mungkin enggak banyak yang nyoblos. Belum tahu nama dan asal parpol karena kita belum lakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan," ungkap Andhika kepada Kompas.com, melalui sambungan telepon, Kamis (25/4/2019) pagi.

Andhika mengatakan, ruas jalan yang ditutup itu diantaranya di RT 01 dan 02 Desa Marapokot dan enam RT di Desa Nangadhero.

Penutupan jalan tersebut mengakibatkan aktivitas warga terganggu, karena hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. 
Sementara pengendara sepeda motor dan kendaraan roda empat tidak bisa melintas.

"Semua material sudah dibersihkan sejak kemarin sore, dengan menggunakan alat berat," sebut Andhika.

Andhika mengimbau kepada para caleg yang gagal agar tetap menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dikutip dari Pos-Kupang.Com, sekretaris Dewan Pimpinan Cabang ( DPC) Partai Golkar Nagekeo, Kristianus Dua Wea, mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan informasi terkait pemblokiran jalan di Desa Nangadhero dan Desa Maropokot.

 Wakil I DPRD Nagekeo, Kris Dua Wea
 Wakil I DPRD Nagekeo, Kris Dua Wea (Pos Kupang.com/Gordy Donafan)

Menurut Kris begitu ia akrab disapa, menurut informasi yang beredar bahwa pemblokiran jalan tersebut diduga dilakukan keluarga dari seorang Calon Anggota Legislatif Dapil I (Aesesa, Aesesa Selatan dan Wolowae) dari Partai Golkar.

Kris mengaku bahwa caleg tersebut adalah kader Golkar yaitu Achmad Tujuh.

Setelah dikonfirmasi bahwa ternyata bukan karena kalah dalam Pileg tapi ada persoalan lain.

Sehingga asumsi masyarakat timbul karena gagal merebut kursi di DPRD Nagekeo.

Sekretaris DPC Golkar Nagekeo, Kristianus Dua Wea
Asumsi itu wajar saja, apalagi persoalannya hampir berdekatan dengan Pemilu 17 April 2019.

Partai Golkar Nagekeo diseret itu memang benar karena memang Caleg tersebut berasal dari Partai Golkar.

Itu bukan dilakukan oleh Partai Golkar Nagekeo.

"Kami tidak bisa menepis apa asumsi publik berkaitan dengan kasus yang kemarin itu. Benar bahwa bapak Achmad Tujuh kader Golkar dan karena itu lalu kemudian saya kemarin itu diminta Pak Kapolres untuk ketemu dia (Pak Achmad Tujuh) itu diskusi tentang ini dalam konteks yang jauh itu setelah ada dampak. Saya memastikan untuk ketemu Pak Achmad Tujuh. Prinsip saya itu diselesaikan dan rasa nyaman masyarakat itu kemudian kembali mereka dapatkan dari persoalan ini sampai tadi juga saya ingin mari kita diskusikan supaya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap Partai Golkar," ujar Kris di Mbay, Kamis (25/4/2019).

Ia menerangkan bahwa persoalannya sudah selesai.

Akses jalan yang ditimbun material sudah dibuka dan tidak ada persoalan lagi.

Ia menyampaikan atas nama Partai Golkar memohon maaf atas ketidaknyamanan akibat peristiwa tersebut.

4. Bongkar rumah pasangan lansia

Lain halnya dengan caleg di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Caleg bernama Lukman membongkar rumah pasangan suami istri lanjut usia (lansia) setelah mengetahui dirinya tak terpilih dalam Pemilu 17 April 2019.

Pasangan suami istri, Gogo (67) dan Hanna (67), warga Desa Lawolatu, Kecamatan Ngapa, Kolaka Utara, akhirnya pasrah saat rumahnya yang dibangun di lahan milik caleg tersebut dibongkar warga sekitar.

Caleg dari daerah pemilihan (dapil) II tersebut menuding pasangan lansia itu tidak memilih dirinya pada Pemilu 17 April 2019.

Gogo dan istrinya sudah 10 tahun mendirikan rumah di lahan milik caleg itu dan ia meminta orang suruhannya untuk memindahkan rumah tersebut.

PSU di Nagekeo Hanya Empat Jenis Surat Suara, Ini Penjelasannya!

"Ada orangnya datang kasih tahu rumahku dibongkar. Kami dikasih waktu hanya satu minggu bongkar rumah. Jadi saya lebih baik bongkar sekarang, minta bantuan tetangga,” kata Hanna dihubungi, Kamis (25/4/2019).

Hanna mengaku, ia dan suaminya telah memilih caleg tersebut sebagai balas budi kerena telah diizinkan menempati lahannya bertahun-tahun.

Namun, tiba-tiba ia disuruh membongkar rumahnya tanpa sebab yang jelas.

Ia menjelaskan bahwa caleg tersebut salah paham dan mengira Gogo dan istrinya mendukung caleg lain.

Ambo Assa (40) yang merupakan sepupu Hanna mengatakan, ada cerita yang beredar bahwa sepupunya itu tidak memilih caleg tersebut.

Kabar ini pun sampai ke telinga caleg tersebut dan langsung menyuruh Gogo membongkar rumahnya.

Padahal rumah Gogo, dua tahun lalu diperbaiki atas bantuan Lurah Lapai.

Pasangan lansia itu hanya pasrah saat rumah mereka dibongkar warga sekitar yang ikut membantunya.

Rencananya, rumah itu akan dipindahkan sekitar 200 meter dari lokasi sebelumnya, setelah ada tetangga yang meminjamkan lahan kepada Gogo untuk mendirikan rumahnya lagi.

Saat ini, pasangan lansia itu tinggal di rumah kerabatnya untuk sementara waktu sambil menunggu rumahnya diperbaiki.

Babinsa Desa Lawolatu, Kopda Sabri membenarkan pembongkaran rumah itu karena ada caleg yang kecewa.

“Iya, rumahnya itu orang tua dibongkar atas suruhan salah satu caleg, jadi tetangganya beramai-ramai ikut membantu,” kata Sabri.

Sementara, caleg PKS bernama Lukman hingga saat ini belum bisa dikonfirmasi soal pembongkaran rumah tersebut.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Aksi Sejumlah Caleg yang Gagal dalam Pemilu 2019: Ritual Mandi Kembang Hingga Bongkar Rumah Lansia, http://www.tribunnews.com/nasional/2019/04/26/aksi-sejumlah-caleg-yang-gagal-dalam-pemilu-2019-ritual-mandi-kembang-hingga-bongkar-rumah-lansia?page=all.

Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved