Headline Pos Kupang Hari Ini

Astaga! Gagal Raih Suara Terbanyak, Caleg di Pulau Flores Blokir Jalan

Caleg dari Partai Golkar itu meminta bantuan keluarganya menurunkan pasir dan batu di 10 lokasi berbeda.

Astaga! Gagal Raih Suara Terbanyak, Caleg di Pulau Flores Blokir Jalan
POS KUPANG/GORDI DONOVAN
Satu unit eksavator menggusur pasir dan batu yang ditumpuk untuk menutup jalan di wilayah Desa Maropokot, Kabupaten Nagekeo, Rabu (24/4/2019). Pemblokiran jalan diduga dilakukan keluarga salah satu caleg DPRD Kabupaten Nagekeo yang gagal meraih suara terbanyak. 

POS-KUPANG.COM | MBAY - Calon anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, Achmad Tujuh diduga terlibat penutupan jalan di wilayah Desa Maropokot dan Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Pulau Flores. Caleg dari Partai Golkar ini meminta bantuan keluarganya menurunkan pasir dan batu di 10 lokasi berbeda dengan tujuan memblokir jalan, Selasa (23/4/2019) lalu.

Ruas jalan yang ditutup, di antaranya di RT 01 dan 02 Desa Maropokot dan enam RT di Desa Nangadhero. Penutupan jalan mengakibatkan aktivitas warga terganggu, karena hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Sementara pengendara sepeda motor dan kendaraan roda empat tidak bisa melintas.

Achmad mengaku namanya ramai dibicarakan, termasuk di media sosial, karena diduga meminta keluarganya memblokir jalan. Caleg nomor urut 2 yang bertarung di daerah pemilihan (Dapil) 1 Nagekeo meliputi Kecamatan Aesesa, Aesesa Selatan dan Wolowae ini, membantah pemblokiran jalan karena kalah pemilu.

PSI dan Perindo Melejit di Dapil Kota Kupang

"Saya tegaskan itu bukan karena kalah politik. Mereka sudah datang dengan Kades Maropokot, orang yang posting di FB dan beberapa tokoh. Saya sudah maafkan. Bukan karena masalah politik. Saya kalah terus dari dulu sampai sekarang dan masih menjadi kader Golkar sampai sekarang. Saya tegaskan bukan karena kalah saat Pileg 2019," tegas Achmad, saat ditemui di kediamannya di Mbay, Kamis (25/4/2019) malam.

Dia menegaskan, sebagai kader Golkar ia sudah siap menang maupun kalah. "Sehingga ketika kalah, saya siap terima," ucapnya.

Menurut Achmad, penempatan material pasir dan batu yang ditimbunkan itu salah tempat. Sebenarnya di gang-gang yang sudah ditentukan. "Memang salah tempat. Ada kekeliruan saat memuat material. Kalau sudah diratakan silakan digunakan lagi."

Info Terupdate dari KPU NTT, Sudah 73 Kecamatan Selesai Pleno Rekapitulasi

Achmad menyatakan kekecewaannya karena pembersian material pasir dan batu tanpa ada pemberitahuan kepada pihaknya.

"Pembukaan jalan di sana itu tanpa memberitahu kepada kami. Mereka atur-atur sendiri di Nangadhero. Itu yang membuat kami kecewa. Mereka tidak dilarang untuk tinggal disana. Waktu pertemuan itu saya sudah bilang untuk tetap tinggal di sana," ujar Achmad.

Pemblokiran jalan dengan material pasir dan batu terjadi Selasa, sekitar pukul 17.00 Wita. Menurut warga, di Maropokot ada empat titik tumpukan material yang dimuat oleh warga tak dikenal.

Dugaan Politik Uang, Bawaslu Mabar Minta Klarifikasi Saksi Ahli Dari Kupang

"Ada empat titik yang ditimbun oleh orang tak dikenal. Mereka banyak orang, kami tidak kenal mereka," ujar seorang warga yang tak mau namanya dikorankan, saat ditemui Rabu (24/4/2019) malam.

Halaman
1234
Penulis: Gordi Donofan
Editor: Alfons Nedabang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved