Ini Metode Penentuan Suara dan Kursi DPR RI dan DPRD Provinsi maupun Kabupaten dan Kota

Untuk penentuan jumlah kursi DPR,DPRD provinsi, kabupaten dan kota dalam pemilu tahun 2019 ini menggunakan metode Sainte Lague

Ini Metode Penentuan Suara dan Kursi DPR RI dan DPRD Provinsi maupun Kabupaten dan Kota
POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Ketua KPU NTT, Thomas Dohu 

Ini Metode Penentuan Suara dan Kursi DPR RI dan DPRD Provinsi maupun Kabupaten dan Kota 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM | KUPANG-  Untuk penentuan jumlah kursi DPR,DPRD provinsi, kabupaten dan kota dalam pemilu tahun 2019 ini menggunakan metode Sainte Lague. Metode ini lebih proporsional dari metode Kuota Hare yang memakai metode Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).

Hal ini disampaikan Ketua KPU NTT, Thomas Dohu, saat dikonfirmasi, Selasa (23/4/2019).

Menurut Thomas, metode konversi perolehan suara partai ke kursi DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota pada Pileg 2019 ini menggunakan metode Sainte Lague. 

Frans Sarong: Akurasi Perolehan Suara di C1 Setiap Calon Harus Dicek Serius Oleh Petugas

"Metode Sainte Lague diatur dalam  UU Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum. Sesuai Pasal 415 ayat 2 UU Nomor 7 Tahun 2017, suara partai akan dibagi dengan pembagi suara bilangan pembagi 1, 3, 5, 7, dan seterusnya," kata Thomas.

Dijelaskan, metode ini digunakan untuk penentuan kursi di DPRD provinsi,kabupaten dan kota. Sedangkan untuk DPR RI , menurut Thomas, sesuai UU Nomor 7 Tahun 2017 itu , bahwa untuk DPR RI ,partai yang tidak memenuhi ambang batas /Parliamentary Threshold  tidak akan diikutsertakan dalam penentuan kursi di DPR RI. 

Sedangkan untuk penentuan kursi DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, seluruh partai politik akan dilibatkan.

Dikatakan, metode ini logika yang dipakai adalah bahwa partai yang memperoleh suara tertinggi dari hasil pembagian diurutkan sesuai dengan alokasi kursi yang disediakan dalam satu Dapil yang berhak memperoleh kursi. 

Pleno Di PPK Ende Tengah Terpaksa Buka C 1 Plano

Thomas mengatakan, metode ini diperkenalkan oleh seorang pakar matematika asal Perancis bernama Andre Sainte Lague pada tahun 1910.  Bahkan, lanjutnya, dalam metode ini, semua perolehan suara sah dari parpol dihitung, kemudian ditotal dan dibagi dengan pembagi 1,3,5 ,7 sampai kursi habis terbagi dari hasil pembagian tertinggi hingga rendah.

"Hasil pembagian itu diurutkan dari tertinggi hingga paling rendah dan urutannya itu dikonversi ke kursi. Semakin banyak kursi yang diperebutkan di satu dapil, semakin besar peluang angka pembagi. Sebalikbya semakin kecil kursi yang diperebutkan di dapil maka kemungkinan angka pembaginya bisa 1 atau 3 saja," katanya.

Dia mengakui, apabila ada parpol yang banyak mengumpulkan suara ,maka parpol itu juga akan banyak mendapat kursi. (*)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved