15 Caleg di Sumsel Meninggal Jelang Pencoblosan, Salah Satunya Adik Ipar Megawati Soekarno Putri

Sebanyak 15 caleg di Sumsel meninggal jelang pencoblosan, salah satunya adik ipar Megawati Soekarno Putri

15 Caleg di Sumsel Meninggal Jelang Pencoblosan, Salah Satunya Adik Ipar Megawati Soekarno Putri
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA
Foto dirilis Kamis (21/3/2019), memperlihatkan pekerja melakukan pelipatan kertas suara pilpres di Gudang KPU, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. 

Sebanyak 15 caleg di Sumsel meninggal jelang pencoblosan, salah satunya adik ipar Megawati Soekarno Putri

POS-KUPANG.COM | PALEMBANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Selatan mencatat sebanyak 15 Calon Anggota Legislatif ( Caleg) meninggal dunia sebelum hari pencoblosan.

Selain 15 orang caleg meninggal, 23 caleg lainnya tercatat tidak memenuhi syarat, sehingga total caleg yang dikeluarkan dalam Daftar Calon Tetap (DCT) oleh KPU Sumsel berjumlah sebanyak 38 orang.

Jokowi: Menakhodai Indonesia Tidak Mudah, Butuh Pemimpin berpengalaman

Ketua KPU Sumatera Selatan Kelly Mariana mengungkapkan, 15 caleg yang meninggal tersebut meliputi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk Kabupaten/kota dan Provinsi serta DPR RI.

Salah satu caleg DPR RI yang meninggal tersebut adalah adik ipar dari ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri, Nazarudin Kiemas, pada 25 Maret 2019.

"Untuk caleg yang meninggal, namanya tetap ada di dalam surat suara. Jika nanti ada yang tetap memilih suaranya akan menjadi suara partai,"kata Kelly, Sabtu (13/4/2019).

Caleg Incumbent dari Hanura Yakin Raih Kemenangan

Kelly melanjutkan, KPU Sumsel pun telah mengeluarkan surat edaran kepada KPU kabupaten/kota untuk diteruskan ke TPS masing-masing caleg untuk memberikan informasi tersebut.

"Petugas KPPS akan mengumumkan caleg mana yang sudah meninggal. Karena mungkin ada yang belum tahu. Tapi, kalaupun masih ada yang tetap memilih, suaranya tetap sah dan akan menjadi suara untuk partai," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Teknis KPU Sumsel M Rais menjelaskan, nama caleg yang meninggal dunia tersebut akan tetap masuk ke dalam surat suara jika telah melakukan validasi surat suara pada Desember 2018 lalu.

Suara yang masuk hasil pemungutan suara terhadap caleg meninggal akan diakumulasikan menjadi suara partai di daerah pemilihan sesuai dengan Peraturan KPU nomor 3 tahun 2019.

"Kalau nanti hasil rekap suaranya terbanyak, suara terbesar kedua yang berhak.Tapi kalau meninggal atau tidak memenuhi syaratnya setelah waktu itu (validasi), maka namanya tetap di surat suara. Untuk caleg yang tersandung hukum, suaranya tetap sah sebelum inkrah (kekuatan hukum tetap)," jelasnya. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved