Mathias Panen Perdana Jagung Hybrida di Waikomo-Lembata

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Mathias Beyeng bersama staf, melakukan panen perd

Mathias Panen Perdana Jagung Hybrida di Waikomo-Lembata
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
PANEN JAGUNG -- Plt Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Mathias Beyeng, saat melakukan panen perdana jagung hybrida di Waikomo, Selasa (9/4/2019). 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Mathias Beyeng bersama staf, melakukan panen perdana jagung hybrida di Waikomo, Selasa (9/4/2019).

Di luar dugaan, lahan seluas 7 hektar yang digarap anggota kelompok tani Watu Bingar itu memberikan hasil yang signifikan, mencapai 50 ton lebih.

Ketua Kelompok Tani Watu Bingar Waikomo, Yulius Mau Seran, mengatakan, hasil pertanian tahun ini relatif tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kalau musim panen tahun lalu, hasil yang dipanen mencapai 4 ton per hektare. Tapi tahun ini melonjak mencapai 7,46 ton per hektare.

"Tahun ini hasil panennya lebih tinggi. Kalau tahun 2018 lalu, dari lahan yang sama, jagung yang dipanen sebanyak 4 ton saja. Sedangkan tahun ini melonjak sampai 7 ton lebih. Kami sangat senang dengan hasil seperti ini," ujar Yulius.

Wabup Kupang Jerry Manafe Perintahkan Disdukcapil Kerja Ekstra

Dikatakannya, kelompok Watu Bingar itu beranggotakan 16 orang. Kelompok tani yang dibentuk tahun 2016 itu mulanya menekuni bidang peternakan. Setelah usaha itu berkembang, mereka mengalami kesulitan soal pakan ternak. Waktu itu sekitar tahun 2016.

Sejak itulah, kata Yulius, anggota kelompok tersebut bersepakat membuka lahan pertanian. Dan, lahan yang dilirik adalah kampung lama Waikomo di Ledokneri. Lahan yang berada di puncak bukit kecil itu sesungguhnya tak terlalu potensial karena berada di atas batu-batu cadas. Tapi karena anggota kelompok itu bekerja total, sehingga hasil yang diperoleh cukup baio.

"Tempat ini cukup menantang, sebab lahannya di atas batu cadas. Untuk tanam saja, susah sekali, karena untuk menutupi benih jagung saat ditanam, kami harus mengambil tanah dari tempat lain," ujarnya.

Lantaran mereka terus bekerja dengan merawat tanaman itu secara baik, lanjut dia, sehingga hasil yang dipanen juga cukup banyak. Tahun lalu kami hanya dapat 4 ton per hektare, tapi saat ini naik menjadi 7,46 ton per hektar. Ini luar biasa," ujarnya.

Sejak ditanam sampai masa panen tiba, lanjut dia, mereka tak pernah menggunakan pupuk. Pupuknya adalah humus tanah yang relatif tebal di atas lahan tersebut. Mungkin karena humus tanah itulah tanamannya menjadi subur dengan hasil yang menggembirakan tersebut. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved