Berkas Kasus Prostitusi Online, Tunggu Petunjuk Jaksa

Berkas kasus Prostitusi Online di Kota Kupang yang dibongkar oleh Polda NTT masih menunggu petunjuk dari pihak jaksa.

Berkas Kasus Prostitusi Online, Tunggu Petunjuk Jaksa
POS KUPANG/OBY LEWANMERU
Kabid Humas Polda NTT, Jules Abraham Abast,S.Ik sedang memberi penjelasan terkait radikalisme dan terorisme saat pertemuan Bakohumas di Hotel Nakan, Kupang, Senin (28/5/2018)

Sang mucikari akan mendapatkan Fee sebesar Rp 100 Ribu dalam satu transaksi dengan tarif Rp 500 ribu tersebut.

"Pembayarannya cash kepada korban lalu nantinya dia yang akan memberikan kepada tersangka karena sudah ada perjanjian mereka sebelumnya," jelasnya.

Dia menjelaskan, para korban yang ditawarkan kepada pria hidung belang merupakan perempuan muda yang tinggal di Kota Kupang.

Penghasilan yang didapatkan oleh para mucikari dan korban digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

"Hasil kerja mereka untuk untuk biaya hidup. Dari pengakuan mereka, mereka gunakan untuk beli TV, lemari dan untuk tersangka bayar kontrakan dan korbannya gunakan hasilnya untuk bayar kos," ujarnya.

Berdasarkan keterangan para korban yang berjumlah lima orang, mereka secara sadar terlibat dalam prostitusi 'Online' tersebut.

"Biasanya dari mulut ke mulut. Mereka ikut dari informasi dari teman ke teman lainnya, lalu saling kenal dan terlibat," katanya.

Selain itu, atas perbuatan kedua mucikari tersebut, mereka diancam enam tahun kurungan penjara.

"Pasal yang disangkakan, pasal 296 KUHP Jo pasal 56 KUHP atau pasal 27 ayat (1) Jo pasal 45 ayat (1) UU No. 19 Tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman hukuman paling tinggi selama enam tahun," kata AKP Tatang.

AKP Tatang menjelaskan, terhadap tersangka MD (22) alias AB berkas perkara akan dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati NTT dalam waktu dekat ini.

Sedangkan untuk tersangka YDP (40) alias DD masih dalam proses penyidikan.

Lebih lanjut, pihaknya telah memeriksa lima orang korban yang ditawarkan para tersangka menggunakan aplikasi MI CHAT.

Kelima perempuan muda yang menjadi korban yang ditawarkan tersebut yakni HN (18), MWH (22), IML (22), MB (21) dan NP (20).

Lebih lanjut, untuk oknum yang menggunakan jasa Prostitusi'Online' di Atambua, Kabupaten Belu yang diketahui sebagai pekerja swasta juga diperiksa sebagai saksi.

Dikatakannya, para korban merupakan warga Kota Kupang. Rata-rata pendidikan mereka menamatkan bangku pendidikan tingkat SMA.

Saat ditanya terkait berapa kali kencan yang dilakukan oleh para korban dengan pria hidung belang, AKP Tatang menjelaskan, hal tersebut relatif dan berdasarkan pria hidung belang yang memesan melalui aplikasi MI CHAT.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan tergantung dari berapa kali mereka diacarakan. Kadang-kadang satu kali, kadang dua kali, kadang-kadang tidak sama sekali. Tentatif," ungkapnya.

Ditanya terkait wilayah operasi dari para mucikari, AKP Tatang menuturkan, wilayah operasinya bukan hanya di Kota Kupang saja.

Melainkan beberapa wilayah, tergantung dari pemesan atau pelanggan berada di wilayah mana dan ingin menggunakan jasa korban di tempat mana saja. (

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved