Warga Hilir Sungai Luku Waibara, Sumba Timur Sampaikan Tujuh Sikap

menilai bahwa pelaksanaan pekerjaan jaringan irigasi telah berupaya menggunakan lahan serta hasil di atasya dengan cuma-cuma dan tidak sesuai dengan

Warga Hilir Sungai Luku Waibara, Sumba Timur Sampaikan Tujuh Sikap
ilustrasi
PPK Irigasi III, PJPA NT II Provinsi NTT, Bonefasius Fas, SST memantau saluran irigasi di lokasi DI Kodi pekerjaan tahun anggaran 2018 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU--- Tujuh sikap warga masyarakat di daerah hilir sungai Luku Waibara, Desa Laipandak, Kecamatan Wulla Waijilu, Kabupaten Sumba Timur untuk menolak pembangunan bendungan irigasi Baing di lokasi sungai Luku Waibara di RT 06/RW 03 Tana Kandukung desa setempat oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jendral Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Satker NVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Nusa Tenggara II Propinsi NTT Irigasi dan Rawa III.

Adapun ketujuh pernyataan sikap tersebut yang tertuang dalam surat mereka kepada Gubernur NTT dan Bupati Sumba Timur dan tembusanya yang diterima wartawan, Minggu (7/4/2019) yakni, pertama, pelaksanaan pekerjaan itu sangat dipaksakan dan tidak melalui tahapan sosialisasi yang baik.

Bupati Sumba Timur akan Cek adanya Penolankan Pembangunan Bendung Baing

Kedua, menilai bahwa pelaksanaan pekerjaan jaringan irigasi telah berupaya menggunakan lahan serta hasil di atasya dengan cuma-cuma dan tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Ketiga, menilai bahwa sosialisasi serta pendekatan yang dilakukan pelaksana serta pemerintah setempat terkesan mengandung unsur paksaan dan intimidasi serta penuh rekayasa. Keempat, tidak percaya dan protes terhadap pemerintah setempat dari tingkat desa sampai kepada tingkat Kabupaten yang tidak memberi respon positif terhadap surat mereka tertanggal 03 Maret 2015 yang pada intinya menolak lokasi pembangunan bendungan Luku Waibara.

Selain itu, kelima, memohon kepada gubernur NTT agar dapat memerintahkan kepada perencana pelaksana kegiatan agar melakukan sosialisasi hasil analisis dampak lingkungan kepada warga secara bebas terbuka dan tanpa intimidasi oleh pihak manapun.

Keenam, meminta kepada pelaksana untuk menunjukan gambar/maket bangunan irigiasi tersebut secara transparan kepada warga desa yang terkena dampak. Ketujuh, memohon kepada gubernur NTT agar dapat menghentikan dan memindahkan lokasi pembangunan bendungan pada wilayah hilir yang jauh dari lahan dan pemukiman warga setempat.

Dalam surat itu juga tertulis, para petugas sosialisasi menyampaikan bahwa pekerjaan bendungan yang segera dilakukan sangat berdampak positif bagi warga masyarakat. Karena itu menurutnya masyarakat yang lahanya dilewati jalur irigasi agar dapat membebaskan tanah serta hasil yang ada di atasnya tanpa meminta ganti rugi.

Pada kesempatan itu, warga juga mengambarkan situasi, kondisi topografi daerah hilir sungai Luku Waibara yakni, pertama hilir sungai Luku Waibara sebagai tempat pembangunan irigasi Baing merupakan pusat perkampungan atau perumahan serta satu-satunya pusat perekonomian Desa Laipandak, Desa Latena, dan sebagain warga Desa Lumbumanggit sejak lama.

Selain itu, ketinggian tanah pada area target bantalan bendungan irigasi Baing dengan perumahan serta perkampungan warga hilir sangat rata dan rendah. Sehingga sangat mudah digenangi dan terbawa luapan arus sungai pada saat banjir akibat pembangunan bendungan irigasi itu.

Adapun dalam surat itu pulah ditanda tangani oleh 46 orang warga setempat sebagai bentuk dukungan warga atas keberatan dan penolakan lokasi pekerjaan bendung untuk irigasi Baing. (*)

Penulis: Robert Ropo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved