Kepala Balai KSDA NTT Sebut Faktor Pemicu Konflik Buaya dan Manusia

Kepala Balai KSDA NTT Sebut Faktor Pemicu Konflik Antara Buaya dan Manusia

Kepala Balai KSDA NTT Sebut Faktor Pemicu Konflik Buaya dan Manusia
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Kepala BBKSDA NTT, Ir. Timbul Batubara, M.Si 

Kepala Balai KSDA NTT Sebut Faktor Pemicu Konflik Antara Buaya dan Manusia

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Kepala BB KSDA NTT, Ir. Timbul Batubara, M.Si menjelaskan, terganggunya habitat asli buaya menjadi salah satu faktor pemicu konflik antara Buaya dan Manusia.

Selain itu, rantai makanan dari buaya yang telah terganggu sehingga buaya sulit mendapatkan makanan juga menjadi faktor lain dari konflik yang terjadi antara manusia dan buaya.

Besok, Tim Imigrasi Kupang Akan Antar WN Turki dan Lebanon yang Dideportasi

"Jadi habitat terganggu juga membuat buaya ganas. Rantai makanannya putus dia akan keliaran ke mana-mana," katanya ketika dihubungi POS-KUPANG.COM pada Kamis (4/4/2019) malam.

Batubara juga menjelaskan, faktor lain yakni ledakan populasi buaya yang terjadi mengakibatkan jumlah buaya menjadi sangat banyak dalam satu habitat.

Ia mengaku, pihaknya selama ini konsisten memberikan sosialisasi untuk mengimbau masyarakat dan membuat papan peringatan dan informasi bagi masyarakat di area yang terdapat satwa buaya.

Kasus Pencurian Komodo, Pimpinan DPRD NTT Sinyalir Libatkan Jaringan Internasional

Selain masyarakat harus ekstra hati-hati saat berada di area habitat buaya, kata Batubara, masyarakat juga diharapkan untuk memberitahukan kepada pihak berwenang jika melihat kemunculan buaya.

"Jadi saat ada kemunculan buaya dan sebelum mencelakakan manusia harus dilaporkan ke kita itu yang penting. Tim kami akan turun melakukan telaah teritori apakah buaya sudah nyaman di sana atau sudah terganggu habitatnya kami akan buatkan papan informasi dan pengumuman di situ. Sehingga kita buat early warning (peringatan dini)," paparnya.

Selain itu, Batubara juga mengaku, beberapa daerah di Provinsi NTT memiliki ciri khas dalam melihat satwa buaya.

Terdapat kelompok masyarakat yang berpegang pada kearifan lokal dimana menganggap buaya sebagai hewan sakral secara adat dan tidak boleh diusik keberadaannya.

Halaman
12
Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved