John Bili Warga Waingapu, Rela Berkeringat di Padang Demi Menghidupkan Keluarganya

John Bili warga RT 002/RW 001 Kelurahan Kambajawa, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur rela bercucuran keringat di padang demi menghidupkan

John Bili Warga Waingapu, Rela Berkeringat di Padang Demi Menghidupkan Keluarganya
POS-KUPANG. COM/ROBERT ROPO
Gubuk John Bili yang digunakan untuk tempat istirahat saat menjual rumput 

POS KUPANG.COM -John Bili warga RT 002/RW 001 Kelurahan Kambajawa, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur rela bercucuran keringat di padang demi menghidupkan keluarganya.

Setiap hari, John biasa disapa ini mengelilingi padang savana di wilayah KM 8 dan KM 10 untuk memotong rumput di padang itu. Rumput yang dikumpulkan John itu kemudian di jualnya dengan harga perikat Rp 1.000.

Meskipun cuaca teriknya matahari yang menyengat di kulit John, namun John tidak merasakan. John menganggap itu sebagai tantangan untuk mendapatkan berkat.

"panas ini bagi saya sebagai tantangan untuk mendapatkan berkat yang penting saya bisa kasih hidup keluarga saya,"ungkap John saat ditemui POS-KUPANG.COM di gubuk kecilnya di KM 8 arah Barat Kota Waingapu, Rabu (3/4/2019).

Gubuk kecil yang dibangun John itu dari bambu dan beratapkan terpal. Gubuk itu dibangun John untuk tempat ia bersama anak dan istrinya untuk menjual rumput yang ia jajahkan di bahu jalan Nasioal Sumba tepatnya di KM 8 Waingapu.

Pada setiap hari kurang lebih sudah hampir enam bulan, John bisa me gumpulkan hingga mencapai 30 ikat sejak pagi hingga sore hari. Sedangkan hasil yang diperoleh John dalam menjual rumput itu kadang-kadang bisa mencapai Rp.200.000 dan kadang tak ada hasil sama sekali.

"Ya kadang ada hasil kadang tidak. Kalau datang hasil baik bisa mencapai 200 ribu, tapi kadang tidak ada hasil sama sekali,"tutur John dengan suara gemetar.

Hasil yang John peroleh dari menjual rumput itu tidak pas untuk menghidupkan istri dan anak, serta cucunya. Meskipun tidak cukup, namun John tetap bertahan untuk tetap menjual rumput sebab menurut John hasil itu lebih baik ketimbang saat ia masih menjual ayam di pasar Inpres Matawai, Kota Waingapu.

"Ya hasil ini tidak cukup. Bagaimana mau cukup anak saya banyak ada enam orang tambah lagi anak mantu, dan cucu-cucu saya. Tapi saya tetap bersyukur yang penting intinya kami bisa makan walau dengan garam saja. Hasil ini sedikit mending dari pada sebelumnya saya masih menjual ayam itu,"ungkap Jhon.

Cagliari vs Juventus, Bonucci dan Kean Bawa Nyonya Besar Menang

Karena serba kekurangan dan penghasilanya pun pas-pasan, Jajan sekolah anak-anaknya pada setiap hari tidak ada, meskipun sewaktu-waktu ada. Namun, anak-anak John tidak seperti anak lainya yang hidup harus serba ada, mereka sangat mengerti terhadap kondisi ekonomi orang tua mereka. Bahakan rumah tinggal John pun kini masih belum layak huni. Namun dalam hati John hanya memiliki prinsip semua anaknya harus bersekolah.

"Anak-anak saya ini kadang tidak ada jajan, kadang ada uang jajan. Meskipun tidak ada uang jajan tapi mereka biasa saja, jalan pergi sekolah biasa. Saya saja rumah belum ada Ama, memang rumah ada tapi kalau kita bilang model seperti kandang ternak,"timpal Jhon.

Terkait kondisi rumahnya yang belum layak huni, dari Pemerintah sudah datang melakukan foto kondisi rumahnya untuk mendapatkan bantuan rumah layak huni. Namun rupahnya itu hanya foto saja, hingga kini pun bantuan itu belum ada atau belum terealisasi.

"Katanya ada mau bantuan rumah layak huni pada tahun 2018 itu, bahakan saya punya rumah itu yang mereka foto pertama memang. Tapi sampai sekarang tidak ada realisasinya, saya hanya berharap agar bisa terealisasi,"ungkap John.

Bukan hanya itu saja, kata Jhon terkait sanitasi WC, dari pemerintah katanya akan membantu pembangunan WC, namun hingga kini pun belum juga terealisasi.

"Janji juga bilang bantu bangun WC, suruh saya gali duluan lubang WC. Lubang WC itu saya sudah gali tinggal tunggu cor, tapi material bantuanya belum ada,"pungkas John. (*)

 (Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Robert Ropo)




Penulis: Robert Ropo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved