Minggu, 26 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Minggu 31 Maret 2019

Daud merasakan tenaganya makin berkurang, dan merasa seperti "dibuang" dan tidak dipedulikan lagi (Maz 71: 9).

Editor: Ferry Jahang
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Renungan Harian Kristen Protestan Minggu 31 Maret 2019
Oleh: Pdt DR Mesakh A P Dethan, MTh

"Gendonglah" atau Rawatlah Selagi Ada Kesempatan

SETIAP kali seseorang berulang tahun, ia mengalami pertambahan umur. Orang mempertanyakan apakah ulang tahun itu menambah umur atau justru mengurangi umur.

Ketika seseorang bertambah umur, maka ia secara alami bertambah tua dan kemudaannya berkurang. Kecepatannya dan tenaganya berkurang.

Dari hal-hal yang dulu dengan sendirian bisa dilakukan, maka kemudian harus minta bantuan orang lain.

Pada saatnya tiap-tiap orang akan menjadi tua: keriput, kekuatan tubuh berangsur-angsur merosot, menjadi lemah dan aktivitas pun sudah sangat terbatas.

Tidak sedikit orang yang takut menjadi tua sehingga berbagai upaya dilakukan agar supaya orang tetap awet muda.

Ada yang menempuh jalan operasi plastik (permak wajah) ke luar negeri dengan biaya yang selangit.

Sebesar apa pun biaya yang harus dikeluarkan, ia rela, yang penting hasilnya memuaskan: tetap cantik dan awet muda, kuat dan gagah.

Akan tetapi banyak orang dihinggapi rasa cemas dan kuatir ketika mereka menginjak masa tua. Mungkin karena anak-anaknya sudah tinggal jauh dari mereka, atau jika masih ada di dekatnya, ia merasa anaknya sudah tak membutuhkan dirinya lagi.

Banyak sekali orang-orang tua yang harus menghabiskan sisa hidupnya di panti jompo: ada yang memang sudah tidak memiliki sanak famili alias sebatang kara,

ada pula yang memang sengaja dititipkan oleh anak-anaknya karena mereka merasa kerepotan dan tidak sanggup merawat oleh karena berbagai kesibukan.

Bagi para lansia yang punya banyak teman dengan hobi yang sama mungkin tidak menjadi masalah.

Mereka bisa memancing bersama, main catur bersama, berolah raga bersama, mengisi rasa bosan dan lain sebagainya.

Tetapi bagaimana dengan mereka yang hidup sendiri, tanpa teman dan tanpa keluarga di sisinya?

Semakin tua seseorang rasa percaya diri makin berkurang dan selalu ada dalam rasa kekuatiran. Apalagi semua anak-anaknya telah menikah dan masing telah pergi meninggalkanya dan hidup di rumah masing-masing.

Banyak orang-orang tua yang kesepian yang selalu harap-harap cemas menanti telpon anak-anaknya, menanti canda dan tawa para cucunya.

Rasa cemas ini juga sempat menyerang Daud dalam bacaan kita Mazmur 71:5-9 karena ia tahu benar bahwa tak mungkin seseorang tetap muda dan tetap perkasa.

Daud merasakan tenaganya makin berkurang, dan merasa seperti "dibuang" dan tidak dipedulikan lagi (Maz 71: 9). Bahkan ia pun merasa para musuhnya siap untuk menerkamnya dan menghilangkan nyawanya.

"Sebab musuh-musuhku berkata-kata tentang aku, orang-orang yang mengincar nyawaku berunding bersama-sama dan berkata: "Allah telah meninggalkan dia, kejar dan tangkaplah dia, sebab tidak ada yang melepaskan dia!" (71:10-11)

Namun pada akhirnya Daud yakin benar mungkin manusia meninggalkannya, sanak saudara pergi dari kehidupannya, anak-anak dan cucu tenggelam dalam kesibukan masing-masing, namun Daud tetap yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggakan orang yang dikasihiNya.

Ia mengerti benar bahwa satu-satunya tempat bersandar adalah Tuhan saja.

Daud sebenarnya punya banyak kekayaan untuk melindungi dirinya. Uang yang banyak, Rumah yang besar dan kuat, tentara yang banya dan kuat yang siap melindunginya, pembantu yang banyak, security, dan berbagai hal lain.

Akan tetapi Daud sadar bahwa semua itu tidak menjadi jaminan bagi diri

Yang menarik dari bacaan kita ini adalah bahwa Daud tak pernah berharap pada anak-anaknya, dia pun tidak takut ditinggalkan oleh anak-anaknya.Yang ia takutkan adalah apabila ia ditinggalkan Tuhan.

Ituah sebabnya Daud memohon kepada Allah, "Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis." (Mazmur 71: 9).

Dalam doanya Daud juga berkata, "Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji.

Bagi banyak orang aku seperti tanda ajaib, karena Engkaulah tempat perlindunganku yang kuat." (Mazmur 71:5-7).

Pertanyaan reflektif bagi kita dari sisi Daud, dari sisi seorang lansia seperti Daud, keyakinan iman yang teguh kepada Tuhan bahwa Tuhan akan bersama dia selamanya adalah suatu keyakinan iman yang patut diteladani.

Tetapi dari sisi keluarga atau orang-orang yang hidup di sekitar Daud, atau dari sisi para lansia yang seperti Daud bacaan ini menjadi semacam perenungan yang menggelitik lubuk terdalam kita.

Perungan dalam arti apakah kita yang punya orang tua, kita yang punya para lansia yang nota bene keluarga kita, apakah di masa tua mereka kita meningalkan mereka dalam kesepian, tanpa teman bicara, tanpa teman bersenda gurau, tanpa teman berolah raga.

Apakah kita tega mendengar keluhan mereka seperti Daud: ""Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis."

Memang harus diakui tidak sedikit orang tua yang semakin tua semakin menyebalkan dan merepotkan anak-anak dan cucunya, baik dalam perkataan maupun tindakan-tindakan mereka.

Banyak Opa dan Oma yang semakin tua justru makin rajin ke gereja. Apalagi kalau pada gereja itu ada tiga kali jam kebaktian: jam 06:00 pagi, 08:00 pagi dan 17:00 sore hari.

Bisa dibayangkan bagaimana repotnya anak-anak dan cucu yang harus mengantar orang tua mereka mengikuti kebaktian dalam satu hari minggu sebanyak tiga kali.

Apalagi selama tiga kali kebaktian harus mendengar khotbah dari pendeta yang sama. Pasalnya orang tua kita, para lansia itu sudah ada pada taraf kepikunan yang akut.

Ketika lonceng gereja tanda kebaktian pagi 06: 00 berdentang, si Oma atau Opa minta diantar ke gereja.

Ketika pulang dari gereja selang beberapa menit sambil duduk minum kopi pagi, lonceng tanda kebaktian ke dua jam 08:00 ia minta di antar lagi ke gereja. Begitu juga yang sore hari jam 17:00, karena ia lupa bahwa tadi sudah gereja.

Itu baru satu hal, belum lagi hal-hal lain. Itulah sebabnya banyak anak-cucu yang tidak mau repot terpaksa menitipkan orang tua mereka di panti jompo.

Mungkin bagi keluarga si Opa danatau Oma masalahnya beres. Tetapi tidak bagi para lansia. Mereka akan merasa kesepian dan lebih dari pada itu merasa seperti "dibuang" oleh keluarganya.

Mungkin mereka tidak akan pernah berbangkit-bangkit atau mengungkit-ungkit apa yang mereka telah perbuat bagi anak-anaknya. Karena mereka hanya memberi dan tak pernah mengingatnya lagi. Itulah ketulusan mereka.

Mereka bagaikan matahari. "Banyak memberi, tak harap kembali, bagaikan surya menerangi dunia.." demikian sepengal lagu terkenal.

Dulu kala di Jepang ada sebuah tradisi yang dikenal dengan nama Ubasute. Yaitu tradisi membuang orang tua di hutan.

Ubasute adalah praktik kuno dari cerita rakyat Jepang di mana kerabat yang sakit atau lanjut usia dibuang di tempat terpencil untuk mati.

Alkisah ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si ibu telah lumpuh dan pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya.

Si ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya, lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui. Ia melakukan itu agar anaknya nanti bisa menemukan jalan pulangnya ke rumahnya.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan ibunya dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Justru si ibu yang tampak tegar. Dalam senyumnya dia berkata, "Anakku, ibu sangat menyayangimu.

Sejak kau kecil sampai dewasa ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikit pun.

Tadi ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah."

Kata-kata ibunya bagikan palu godam yang dihantam di telinganya, karena mendengar kata-kata itu si anak menangis dengan sangat keras, dan memeluk ibunya.

Ia tidak sampai hati untuk meninggalkan orang tuanya yang penuh kasih ini. Maka dengan segera ia kembali menggendong ibunya untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Ada cerita lain yang merip tapi dalam nada humor, dimana ada seorang cucu laki-laki yang sayang pada kakeknya.

Tetapi suatu kali bapaknya membuat sebuah keranjang besar dan sesuai dengan tradisi kakeknya yang ia sayangi akan dibuang dengan keranjang besar itu.

Ketika keranjang besar telah selesai dibuat dan tibalah saatnya kakeknya harus dibuang. Si anak laki-laki kecil ini berkata kepada ayahnya yang sudah menaruh kakeknya dalam keranjang dan memikulnya lalu siap untuk berangkat.

"Ayah, boleh saya minta satu hal:, kata anak laki-laki itu."Apa yang kau minta", Jawab ayahnya. "Ayah kalau boleh tolong bawa pulang kembali keranjangnya, supaya aku bisa gunakan lagi untuk ayah"!!!!!!?????.

Kalau kita punya orang tua "gendonglah" atau rawatlah mereka, karena mereka pernah merawat kita. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved