PERSIAPAN MENGHADAPI RAMADHAN 1440 H / 2019 M

Ramadhan sebentar lagi. Mari persiapkan diri menjelang bulan Suci Ramadhan.

Editor: Adiana Ahmad
net
Ilustrasi 

PERSIAPAN MENGHADAPI RAMADHAN 1440 H / 2019 M

Renungan Jumat, 29 Maret 2019

Oleh: H. Marhaban Adhang, S.HI

“Penyuluh Agama Islam”

Kantor Kementerian Agama Kota Kupang

Waktu terus berjalan, tanpa pernah berhenti. Hari yang berganti hari, bulan yang berganti bulan, dan tahun yang berganti tahun, dalam semua perputaran waktu  itu Allah SWT senantiasa memberikan kenikmatan kepada kita.

Setelah kenikmatan terbesar berupa iman, maka kenikmatan-kenikmatan  lainnya dianugerahkan kepada kita tanpa bisa kita hitung jumlahnya, bahkan seringkali tidak kita sadari kehadirannya.

Maka, marilah kita berusaha mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Marilah kita bersama-sama berupaya menjadi hamba-Nya yang bersyukur.

Dengan bersyukur kita akan lebih mudah menjadi hamba-Nya yang bertaqwa. Sebagaimana pesan khatib yang senantiasa diulang pada setiap kesempatan  seperti saat ini.

Ustadz H. Marhaban Adhang, S.HI
Ustadz H. Marhaban Adhang, S.HI (POS-KUPANG.COM/ ISTIMEWA)

Lihatlah bagaimana ketika Rasulullah SAW berdiri begitu lama dalam shalat malamnya hingga kaki beliau bengkak. Saat Aisyah bertanya dengan menyebutkan keutamaan beliau yang telah dijamin ampunan atas segala dosanya, beliau justru menjawab dengan sabdanya yang mulia:

Tidak bolehkah aku menjadi hamba-Nya  yang bersyukur?

Jadi, syukur sangat erat kaitannya dengan  taqwa. Bahkan keduanya identik. Tiada orang yang mampu mencapai derajat  taqwa tanpa bersyukur. Sebaliknya, syukur akan  mengantarkan seorang hamba mencapai ketaqwaan.

Diantara kenikmatan itu adalah sampainya usia kita melewati bulan Rajab dan sampai lah bulan sya’ban   ini. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan  istimewa.

Bulan yang penuh dengan keutamaan. Yakni bulan Ramadhan yang  mulia. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita siap dalam  menyambutnya? Jika para sahabat dan salafusshalih telah mempersiapkan diri dua bulan sebelum Ramadhan tiba, sebagaimana doa yang masyhur, yang mengisyaratkan persiapan ini:

Ya Allah, berkahilan kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan (HR. Baihaqi)

Ya Allah, berkahilan kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan (HR. Ahmad)

Maka  kita yang tinggal satu bulan   lagi mengakhiri bulan Sya’ban ini pantaslah jika mengevaluasi persiapan kita menghadapi Ramadhan. Bagi yang telah siap, alhamdulillah.

Bagi yang belum, kita segera bangkit untuk memenuhi persiapan-persiapan ini.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Setidaknya ada empat persiapan bagi  kaum  muslimin untuk menghadapai bulan Ramadhan, khususnya Ramadhan 1440 H tahun ini.

Persiapan pertama, adalah persiapan ruhiyah. Persiapan  ruhiyah yang kita perlukan adalah dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.

Pengokohan aqidah adalah pondasi utama dalam persiapan ruhiyah ini. Tanpa aqidah yang benar, bisa jadi seseorang  justru terjatuh dalam syirik. Dan kesyirikan selamanya takkan berbuah keikhlasan.

Aqidah yang benar adalah kuncinya. Karenanya surat di dalam Al-Qur'an yang banyak yang membahas aqidah dinamakan surat Al-Ikhlas.

Membersihkan  hati atau tazkiyatun nafs juga hal yang urgen dilakukan dalam menyambut tamu Allah yang istimewa ini. Allah SWT menegaskan  pentingnya  membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya:

Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams : 9)
Maka dalam waktu sisa ini  kita perlu melakukan evaluasi diri (muhasabah) apakah penyakit-penyakit aqidah masih menjangkiti diri kita. Selanjutnya kita bermujahadah untuk menghilangkan penyakit-penyakit itu.

Alangkah  indahnya saat Ramadhan tiba dan kita benar-benar dalam kondisi ikhlas menapaki hari-hari istimewa yang dibawa oleh tamu mulia itu.

Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

Persiapan kedua adalah persiapan fikriyah. Agar Ramadhan kita benar-benar efektif, kita perlu membekali diri dengan persiapan fikriyah.

Sebelum Ramadhan  tiba1 dan 2 hari lagi  sebaiknya kita  membekali diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah di bulan Ramadhan.

Tentang kewajiban puasa, keutamaan puasa, hikmah puasa, syarat dan rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta sunnah-sunnah  puasa. Juga tarawih, I'tikaf, zakat, dan sebagainya.

Untuk itu kita bisa mengkaji Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiq, Fiqih Puasa-nya Dr. Yusuf Qardahawi, dan lain-lain. Kita pun bisa mengikuti taklim di lingkungan kita,  baik kajian – kajian yang diadakan di masjid, rumah – rumah , maupun tempat-tempat yang lain.

Inilah rahasia mengapa Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal (Ilmu sebelum Ucapan dan Amal). Tanpa ilmu bagaimana kita bisa beramal selama bulan Ramadhan dengan benar?

Pemahaman ilmu syar'i  ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang. Karenanya Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan maka ia difahamkan tentang (ilmu) agama (Muttafaq 'Alaih)

Selanjutnya, persiapan yang kita perlukan adalah persiapan jasadiyah. Ramadhan membutuhkan persiapan jasadiyah yang baik. Tanpa persiapan  memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan  ibadah kita tidak bisa berjalan normal. Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.

Kita diharapkan  tetap produktif dengan pekerjaan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa. Kita juga akan  melakukan ibadah dalam  porsi yang lebih lama dari sebelumnya. Shalat tarawih, misalnya.

Karenanya kita perlu mempersiapkan jasadiyah  kita dengan berolah raga secara teratur, menjaga kesehatan badan, dan kebersihan lingkungan. Di sini, logika akal bertemu dengan  keutamaan syar'i dalam hadits nabi:

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih  dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dll)

 Persiapan keempat adalah persiapan maaliyah. Persiapan maliyah yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramdhan bukanlah untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, dan lain-lain.

Kita justru memerlukan sejumlah dana untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar (buka puasa) orang lain dan membantu orang yang membutuhkan.

Tentu saja bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab dan haul wajib mempersiapkan zakat maal-nya.

Rasulullah mencontohkan bahwa beliau yang begitu dermawan di hari-hari biasa, bertambah sangat dermawan di bulan Ramadhan mengalahkan angin yang berhembus.

Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan.

Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur'an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin (HR. Bukhari)

Kedermawanan Rasulullah SAW bertambah hebat ketika bulan Ramadhan. Ini mengajarkan kepada umat beliau bahwa Ramadhan sebagai bulan yang paling utama dengan pelipatgandaan pahala amal kebajikan hendaklah dioptimalkan dengan memperbanyak infaq dan meningkatkan kualitasnya.

Demikianlah Uraian  singkat ini semoga kita menjadi hamba – hamba yang selalu siap dan  ikhlash dalam menyambut tamu allah azzawallah yaitu bulan suci ramadhan tahun 1440 H. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved