Sekdes Baopukang Dilaporkan ke Polisi

Sekretaris Desa (Sekdes) Baopukang, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, NTT, Fransiskus Siola dilaporkan ke Polres Lembata

Sekdes Baopukang Dilaporkan ke Polisi
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Sekretaris Desa (Sekdes) Baopukang, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, NTT, Fransiskus Siola dilaporkan ke Polres Lembata 

Sekdes Baopukang Dilaporkan ke Polisi

POS- KUPANG.COM|LEWOLEBA -- Sekretaris Desa (Sekdes) Baopukang, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, NTT, Fransiskus Siola dilaporkan ke Polres Lembata, Selasa (26/3/2019) malam.

Siola diseret ke ranah hukum atas dugaan pemalsuan tanda tangan Servianus Ola Samon, Pengelola Kegiatan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Baopukang. Tapi yang membubuhkan tanda tangan pada nama Servianus Ola Samon, adalah oknum Sekdes Fransiskus Siola.

Disaksikan POS-KUPANG.COM, di Mapolres Lembata Selasa (27/3/2019) sekitar pukul 23.00 Wita, Servianus Ola Samon sedang memberikan keterangan kepada penyidik polres setempat. Sementara di luar ruangan, sekitar belasan warga dari Baopukang, turut mendampingi pelapor untuk mengadukan kasus dugaan pemalsuan tanda tangan tersebut.

Dalam keterangannya kepada penyidik, Servainus mengungkapkan, awalnya ia tak tahu kalau tanda tangannya dalam dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun 2018, dipalsukan oleh oknum Sekdes Baopukang, atas nama Fransiskus Siola.

Tapi pada 12 Februari 2019, katanya, bendahara desa, Konstantinus Basa melakukan penggandaan dikumen APBDes di tempat usahanya. Maklum, di desa itu, ia punya tempat usaha foto kopi. Olehnya, malam itu, ia melayani bendahara desa tersebut dengan menggandakan dokumen tersebut.

Kasus Romahurmuziy, KPK Panggil 5 Orang Panitia Seleksi Kemenag

Intip 8 Alasan Member BTS Dijuluki Humble King , Nomor 8 Bikin ARMY Baper!

Hari Ini, Hercules Jalani Sidang Vonis di Pengadilan

Ahmad Dhani Divonis 1 Tahun, Jaksa Ajukan Kasasi ke MA

Saat membuka-buka lembaran dokumen itu untuk difotokopi, ungkap Servianus, ia menemukan ada hal yang aneh di dalam dokumen tersebut. Ia melihat pada kolom yang bertuliskan namanya, terdapat sebuah tanda tangan. Sementara tanda tangan itu bukan tanda tangannya. Model tanda tangannya juga jauh berbeda dengan tanda tangannya. Apalagi dirinya tak pernah membubuhkan tanda tangan pada dokumen tersebut.

Lebih ironis lagi, katanya, tanda tangannya yang ada di dalam dokumen tersebut, dibubuhkan oknum Sekdes Siola pada item kegiatan yang tidak pernah dibahas oleh pemerintah desa bersama komponen lainnya di desa itu. Padahal nilai kegiatan itu cukup besar, mencapai ratusan juta rupiah.

Sebagai pengelola kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di desa itu, katanya, ia juga tidak tahu ada kegiatan fiktif yang ternyata menelan anggaran cukup besar di desa itu. Tapi masalahnya, pada kegiatan yang diduga fiktif itu, tercantum tanda tangannya. Padahal ia tak pernah melakukan itu.

Atas kasus tersebut, lanjut dia, pihaknya lantas mengadukan itu kepada Penjabat Kepala Desa, Frans Ida Bala, Ketua BPD, Kondradus Belo dan aparat desa lain. Dan, pada 12 Maret 2019 lalu, dilakukan klarifikasi atas kejanggalan yang ditemukan dalam dokumen APBDes tersebut.

168.266 Warga Ende Sudah Ditetapkan Dalam DPT

Ahmad Dhani Divonis 1 Tahun, Jaksa Ajukan Kasasi ke MA

168.266 Warga Ende Sudah Ditetapkan Dalam DPT

Di dalam forum klarifikasi itulah, ungkap Servianus, oknum Sekretaris Desa (Sekdes) Fransiskus Siola mengaku bahwa tanda tangan Servianus Ola Samon telah dipalsukan. Artinya, sekdes bersangkutan yang membubuhkan tanda tangan pada kolom tanda tangan di atas nama Servianus Ola Samon.

"Pada tanggal 12 Maret 2019 itu, dihadapan penjabat kepala desa, ketua BPD dan aparat desa lainnya, Sekdes Fransiskus Siola telah mengakui perbuatannya," ungkap Servianus.

Lantas mengapa kasusnya baru diadukan saat ini ke Polres Lembata? Servianus mengatakan, selama tenggat waktu yang ada, dirinya menunggu jangan sampai oknum sekdes bersangkutan datang dan meminta maaf kepadanya.

Akan tetapi, lanjut dia, sampai dengan saat ini, oknum sekdes tersebut tak pernah menemuinya dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada hari-hari yang akan datang, maka ia melaporkan kasus tersebut kepada aparat penegak hukum untuk diproses lebih lanjut. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved