BREAKING NEWS: Empat Grup Peziarah Batal Hadiri Semana Santa, Usul Pemilu di Flotim Digeser

Pelaksanaan Pemilu, Rabu (17/4/2019) berimbas kepada umat Katolik yang akan menjalankan ziarah Semana Santa. Empat grup peziarah batalkan ziarah

BREAKING NEWS: Empat Grup Peziarah Batal Hadiri Semana Santa, Usul Pemilu di Flotim Digeser
POS-KUPANG.COM/EUGENIUS MOA
Patung Mater Dolorosa di Kota Larantuka, Pulau Flores 

Dikatakan, pertimbangan perlu diperhatikan, sebab apabila warga NTT diberi pilihan, beribadah atau memilih di TPS, tentu akan memilih untuk beribadah.

"Dalam sosialisasi, kita katakan silahkan beribadah tapi kita mohon memberi hak suara barulah ke Larantuka mengikuti prosesi Semana Santa," katanya.

Ketua Divisi Teknis KPU NTT, Lodowyk Fredrik mengatakan, jika dibandingkan dengan Pemilu lima tahun lalu tidak bermasalah karena tidak bersinggungan langsung dengan proses keagamaan dalam hal ini perayaan Paskah.

Sedangkan pada Pemilu tahun ini, berawal ketika UU No 7 Tahun 2018 tentang Pemilu, sudah ditetapkan dan diundangkan, namun terlambat diundangkan, sehingga ditetapkan pada 17 Agustus 2018.

"Ini perintah UU bahwa sesuai UU No 7 itu, setelah dundangkan, maka harus 18 bulan dieksekusi. Kami usai dilantik beberapa waktu lalu,kami langsung menghadap dan sampaikan ke KPU RI . Saat itu kita bertemu dengan Komisioner KPU RI, Pak Ilham," kata Lodowyk.

Dikatakan, secara lisan saat itu, pihaknya telah menyampaikan dan KPU RI meminta agar dibuat secara tertulis.

"Kami diminta buat surat tertulis dan telah kami buat dan sampaikan. Sampai saat ini belum ada petunjuk dari KPU RI," katanya.

Perayaan Berusia 5 Abad dan Mendunia

Setiap tahunnya umat Kristiani akan memasuki Pekan Suci Paskah.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur menjadi tujuan para peziarah. Mereka datang untuk mengikuti perayaan Semana Santa.

Peziarah dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri akan berdatangan ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur untuk mengikuti prosesi yang dianggap suci oleh masyarakat setempat ini. Perayaan Semana Santa sendiri dimulai pada Rabu Trewa atau Rabu Terbelenggu.

Ketika itu umat dan peziarah berkumpul dan berdoa untuk mengenang Yesus yang dikhianati muridnya sendiri, Yudas Iskariot.

Kepercayaan terhadap Tuan Ma berawal lima abad silam. Berdasarkan penelitian dan sejumlah sumber tertulis dalam bahasa Belanda dan Portugis, patung Tuan Ma ditemukan sekitar tahun 1510 di Pantai Larantuka.

Diduga, patung itu terdampar saat kapal Portugis atau Spanyol karam di Larantuka.

Perayaan Semana Santa merupakan tradisi yang telah ada sejak 500 tahun yang lalu. Makna perayaan ini menempatkan pusat ritual kepada Yesus dan Bunda Maria sebagai perempuan berkabung (Mater Dolorosa) karena menyaksikan penderitaan anaknya sebelum dan saat disalibkan.

Lalu seperti apa fakta sejarah Semana Santa yang tahun ini digelar bertepatan dengan perayaan Pilpres 2019? 

Berikut ini POS-KUPANG.COM kumpulkan asal-usul perayaan suci Semana Santa dari berbagai sumber. 

1. Resiona temukan patung Tuan Ma

Dilansir dari Kompas.com, kepercayaan terhadap Tuan Ma berawal lima abad silam.

Berdasarkan penelitian dan sejumlah sumber tertulis dalam bahasa Belanda dan Portugis, patung Tuan Ma ditemukan sekitar tahun 1510 di Pantai Larantuka. Diduga, patung itu terdampar saat kapal Portugis atau Spanyol karam di Larantuka.

Konon, saat itu seorang anak laki-laki bernama Resiona menemukan patung berwujud perempuan saat mencari siput di Pantai Larantuka.

Resiona mengaku, kala itu dia melihat perempuan cantik dan, ketika ditanya nama serta dari mana datangnya, perempuan tersebut hanya menunduk lalu menulis tiga kata yang tak dipahami Resiona di pasir pantai.

2. Rupa wanita itu berubah menjadi patung kayu

Setelah menunduk dan menulis tiga kata tersebut, wanita tersebut mengangkat mukanya. Namun ketika itu, rupa wanita itu berubah menjadi sebuah patung kayu.

Ketiga kata yang ditulis itu lalu dibuatkan pagar batu agar tidak terhapus air laut, sedangkan patung setinggi tiga meter tersebut langsung diarak keliling kampung, memasuki korke, rumah-rumah pemujaan milik setiap suku di sana.

3. Patung dihormati sebagai benda keramat

Ketika itu, agama Katolik belum masuk ke Flores, khususnya ke Larantuka. Namun kepala kampung Lewonama, Larantuka memerintahkan  agar patung disimpan di korke rumah adat suku. Patung tersebut pun dihormati sebagai benda keramat. 

Penduduk memberi sesaji setiap perayaan panen.

4. Patung disebut Tuan Ma

Masyarakat sekitar Larantuka menyebut patung itu sebagai Tuan Ma. Secara harfiah, Tuan Ma berarti tuan dan mama.

Masyarakat Lamaholot menyebutnya Rera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewi Bumi.

5. Masyarakat lakukan devosi kepada Tuan Ma

Raja Larantuka Don Andreas Martinho DVG mengatakan, sekitar tahun 1510, masyarakat Larantuka sudah melakukan devosi kepada Tuan Ma setiap bulan Februari.

Devosi ini merupakan ungkapan syukur atas hasil panen dan tangkapan laut masyarakat.

Devosi ini merupakan kegiatan di luar liturgi gereja, praktik-praktik rohani yang merupakan ekspresi nyata masyarakat melayani dan menyembah Tuhan melalui obyek-obyek tertentu.

6. Tuan Ma adalah patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia

Padri dari Ordo Dominikan yang datang ke kampung itu diminta masyarakat untuk membaca tiga kata yang telah ditulis Tuan Ma (tulisan itu dibuatkan pagar batu agar tidak terhapus air laut). 

Tulisan tersebut artinya Reinha Rosario Maria. Ketika melihat patungnya, padri itu terharu dan berkata kalau itulah Reinha Rosari yang dikenal juga sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia.

7. Raja I Larantuka serahkan Kerjaan Larantuka kepada Bunda Maria

Tahun 1561 misionaris dari Portugis datang dan mulai menyebarkan agama Katolik dan dimulai di Pulau Solor.

Seorang misionaris bernama Pastor Manuel de Kagas menjelaskan kepada raja-raja Larantuka jika patung Tuan Ma yang mereka sembah adalah Bunda Maria. Bunda Maria memiliki putra bernama Yesus yang diklaim sebagai pembawa keselamatan.

Tahun 1650, Raja I Larantuka Ola Adobala dibaptis dan menyerahkan Kerajaan Larantuka kepada Bunda Maria. Putranya, Raja Don Gaspar I pada tahun 1665 mulai mengarak patung Bunda Maria.

8. Bunda Maria diberi gelar tertinggi sebagai Raja Orang Larantuka

Raja Don Lorenzo I bersumpah kepada Maria atau Tuan Ma dengan memberi gelar tertinggi kepada Maria sebagai "Raja Orang Larantuka". 

Oleh karena itu, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria. Tuan Ma kemudian diyakini sebagai Bunda Maria milik orang Larantuka. Devosi kepada Maria menjadi sentral hidup keluarga dan masyarakat Larantuka. Per Mariam ad Jesum, melalui Maria kita sampai kepada Yesus.

Proses inkulturasi pun terjadi antara kepercayaan masyarakat lokal, ajaran gereja, dan tradisi yang dibawa Portugis. (*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved