Parodi Situasi

Parodi Situasi: Pohon Dewan

Parodi Situasi Maria Matildis Banda Hari Minggu 24 Maret 2019: Pohon Dewan

Parodi Situasi: Pohon Dewan
DOK POS KUPANG
Maria Matildis Banda

Parodi Situasi Maria Matildis Banda Hari Minggu 24 Maret 2019: Pohon Dewan

Oleh: Maria Matildis Banda

POS-KUPANG.COM - Apakah kamu mendengar suara tangisan?
Tangisan pohon-pohon yang dipaku!

Pohon yang terluka, infeksi, dan bahkan bernanah akibat pakumu!
Itulah pohon dewan sepanjang jalan di seantero kota!
                                                                   ***
"Sudahlah!"; Jaki marah pada Rara. Ia menganggap Rara terlalu berlebihan
menyikapi gambar-gambar dirinya yang dipaku di batang pohon. "Itu urusanku!
Bagaimana pun aku tidak mau kalah bersaing dengan para calon lain. Mereka juga
paku batang pohon!"

April 2019, RSPP Betun Sudah Punya Ruang Rawat VIP

"Apakah kamu tidak sedih. Pohon-pohon itu pasti menangis karena terluka
cukup dalam!" sambung Rara.

"Diam kamu!" Jaki membentak. "Mana ada pohon yang menangis? Mana ada
pohon yang mengeluh? Mana ada pohon yang menolak ketika kupaku!";
"Terhadap pohon saja kamu tidak peka! Bagaimana kamu bisa peka terhadap
manusia? Bagaimana kamu bisa lolos dan lulus sebagai anggota dewan?"

Universitas Negeri Makassar Geger, Doktor Wahyu Jayadi Tega Cekik Selingkuhannya

"Diam!" teriak Jaki dengan suara lebih keras. "Terserah saya mau paku pohon
yang mana. Memangnya ada aturan tidak boleh paku pohon? Mana aturan yang
melarang pasang foto calon anggota dewan di pohon-pohon?"
"Kita yang mesti peka!" tangkis Rara.
                                                                         ***
"Peduli amat dengan itu peka!" Jaki mengomel. Dia bersama tim suksesnya
kembali ke jalan-jalan raya maupun ke jalan-jalan yang lebih kecil, bahkan ke
jalan setapak. Bersama satu kantong paku dan beberapa kantong foto dirinya:
calon anggota dewan nomor sekian. Sepanjang jalan batang pohon dipaku.
Gambar dirinya berada di atas atau dibawah gambar-gambar calon lain yang
sudah terpaku lebih dulu.

"Benar-benar kamu tuli ya? Tidak bisa dengar, paham, mengerti, dan
mengapresiasi pendapat orang lain untuk dilaksanakan!" Rara tetap tidak setuju
dengan terlukanya pohon-pohon.

"Sebentar lagi!" teriak Jaki. "Tinggal seminggu ditambah beberapa hari lagi
semua gambar itu dicabut panwaslu! Sebentar lagi pohon-pohon itu bersih dari
semua gambar calon. Jadi tolong diam saja! Lihat saja dan jangan lupa pilih saya
dalam pemilu nanti!"

"Apa kamu bilang?" tanya Jaki. "Maaf saja ya! Saya tidak akan pilih calon
dewan yang terpaku di batang kayu. Saya tidak akan beri suara saya kepada kamu
yang sudah melukai lebih dari seribu pohon dengan paku sampai paku berkarat
dan tinggalkan bekas!" Rara benar-benar marah.
                                                                             ***
Rara sudah memastikan dirinya untuk memilih calon yang menghargai
pohon. Karena Nona Mia dan Benza menghargai pohon, Rara pun sudah
mengambil keputusan untuk memilih Nona Mia dan Benza. Kepada sahabat
kenalan dan sanak saudara pun Rara sudah memberi kabar untuk tidak pilih Jaki, karena lebih dari seribu pohon yang terluka akibat paku-paku yang ditikam Jaki.

"Coba kamu bayangkan!" Jaki mengadu masalah paku, luka, dan pohon pada
Benza dan Nona Mia. "Kita sama-sama calon. Mestinya kita saling mengerti!
Bayangkan, hanya soal paku dan pohon saja Rara tidak mau pilih diriku.
Bukankah kita sudah sepakat untuk saling pilih satu terhadap yang lain.
"Sejak awal juga kita sudah sepakat untuk tidak paku pohon!" kata Nona Mia.

"Tidak ada satu pun pohon yang boleh terluka karena gambar dan paku"
sambung Benza. "Kamu melanggarnya! Jadi jangan heran kalau Rara marah!"
"Sayang sekali," kata Nona Mia lagi. "Rasanya di antara semua calon kamu
yang paling gagah! Wajahmu tampan dan hidungmu yang mancung itu membuat
kamu susah dilupakan! Tetapi mengapa kamu harus tertikam di batang pohon.
Kamu paku gambarmu sendiri dan kamu tikam pohon. Lihat itu! Mana mungkin
orang setampan kamu ada di antara batang pohon?"

"Oh, betulkah?" Jaki bangga bukan main. "Apa yang harus kulakukan?"
                                                        ***
Ternyata sederhana saja. Jaki memohon maaf pada Rara karena sudah
melukai lebih dari seribu pohon di daerah pemilihannya. Sepanjang hari dia
berjalan mencabut paku dan memberi suntikan vitamin tertentu pada batang yang
terluka. Serta memasang kembali gambar dirinya pada tiang-tiang penyanggah
yang dibuatnya sendiri dari balok dan usuk ditambah besi.

"Halo Jaki! Saya pasti pilih kamu!" kata Rara. Keempat sekawan itu kini
berdiri di bawah pohon dewan yang lebih cantik setelah Jaki mengerti.  (*)

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved