Suka Kim Jong Un, Trump Cabut Sanksi terhadap Korut

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump membuat publik bingung ketika mengumumkan pencabutan sanksi terhadap Korea Utara (Korut).

Suka Kim Jong Un, Trump Cabut Sanksi terhadap Korut
KOMPAS.com/via Sky News
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ketika berdiskusi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan pribadi di Hotel Metropole Hanoi, Kamis (28/2/2019). 

POS-KUPANG.COM | WASHINGTON DC - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump membuat publik bingung ketika mengumumkan pencabutan sanksi terhadap Korea Utara (Korut).

Pasalnya ketika mengumumkannya melalui kicauan di Twitter, Trump menyebut sanksi skala besar terhadap Korut berlaku pada Jumat (22/3/2019).

Awalnya publik mengira yang Trump maksud adalaj sanksi dari Kementerian Keuangan AS kepada dua perusahaan perkapalan asal China pada Kamis (21/3/2019).

Ini Alasan TKN Pilih Banten Jadi Lokasi Pertama Kampanye Rapat Umum

Namun, sumber dari Gedung Putih dikutip Washington Post membeberkan sanksi yang Trump sebut baru direncanakan bakal dirilis dalam beberapa hari mendatang.

Sanksi dari Kemenkeu AS itu merupakan tekanan pertama setelah pertemuan Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong Un di Hanoi, Vietnam, mengalami kegagalan.

Disebut Romahurmuziy Rekomendasikan Kepala Kanwil Kemenag, Begini Tanggapan Khofifah

Namun seperti diulas AFP Sabtu (23/3/2019), Trump yang disebut "jatuh cinta" dengan Kim dikabarkan berharap hubungan personal mereka berdua baik-baik saja.

"Presiden Trump menyukai Pemimpin Kim, dan dia berpikir sanksi itu tidak diperlukan," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders.

Pengumuman Trump itu mendapat kecaman dari Ketua Komite Intelijen House of Representatives Adam Schiff, seorang politisi dari oposisi Partai Demokrat.

Dalam kicauannya, Schiff menyebut keputusan itu sebagai tindakan naif dan bodoh. "Ketidakmampuan dan kekacauan di Gedung Putih membuatnya semakin buruk," keluhnya.

Selain Schiff, Penasihat Keamanan Nasional John Bolton juga bersikukuh bahwa sanksi untuk menekan negara komunis itu masih dipandang penting.

"Setiap pihak harus memperhatikan aktivitas mereka untuk memastikan tidak terlibat dalam perdagangan dengan Korut," tegas Bolton di Twitter.

Mendapat sanksi dari AS, China memprotes dengan menjelaskan mereka sudah menjalankan seluruh resolusi yang diterbitkan oleh PBB.

Dalam pernyataan resmi, Beijing menentang segala upaya sanksi yang diberikan oleh negara asing hanya berdasarkan hukum mereka sendiri. Ini twit mengejutkan kedua sepanjang dua hari terakhir yang dibuat presiden 72 tahun tersebut.

Sebelumnya ketika dia mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel. Komentar Trump soal Golan itu direspon dengan kritikan baik oleh Suriah maupun sekutunya seperti Rusia dan Iran. Damaskus bahkan berjanji bakal merebut kembali Golan dari Israel. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved