Kor Sakeng Sebut Malaysia Itu Kebunnya Orang Lembata

Kepala Cabang YKS (Yayasan Kesehatan untuk Semua) Kabupaten Lembata, Kor Sakeng Sebut Malaysia Itu Kebunnya Orang Lembata

Kor Sakeng Sebut Malaysia Itu Kebunnya Orang Lembata
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Kepala Cabang YKS (Yayasan Kesehatan untuk Semua) Kabupaten Lembata, Kor Sakeng 

Kepala Cabang YKS (Yayasan Kesehatan untuk Semua) Kabupaten Lembata, Kor Sakeng Sebut Malaysia Itu Kebunnya Orang Lembata

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA -- Saat ini ada banyak orang Lembata yang sedang bekerja di luar negeri. Jumlahnya mencapai lebih dari 7.000 orang. Dari jumlah itu terbanyak orang Ile Ape, disusul warga pesisir Kecamatan Nagawutun dan sebagian Kecamatan Atadei dan desa lain baik di Kecamatan Lebatukan, Wulandoni dan Kedang.

"Banyaknya orang Lembata terlebih Ile Ape bekerja di Malaysia itu, karena mereka menganggap Malaysia itu seperti kebunnya orang Lembata. Soalnya di sana mereka bekerja mencari uang, menafkahi keluarga dan memperbaiki nasib hidup mereka."

Ray Fernandez Tidak Khawatir KPK Hadir di Daerah

Ini diungkapkan Kepala Cabang YKS (Yayasan Kesehatan untuk Semua) Kabupaten Lembata, Kor Sakeng, ketika ditemui di kediamannya, Kamis (21/3/2019). Selama ini, yayasan tersebut mengadvokasi buruh migran di Kabupaten Lembata.

Dikatakannya, di Kabupaten Lembata, ada enam desa yang dinobatkan sebagai Desa TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Enam desa tersebut, yakni Tagawiti, Beutaran, Dulitukan, Lamawolo, Lamatokan dan Desa Baolaliduli. Predikat Desa TKI itu diberikan karena ada banyak hal yang berubah setelah warga dari desa itu merantau ke Malaysia.

Guru Olahraga di Muara Enim Cabuli 2 Siswi, Orangtua Korban Marah

Dulu, ungkap Kor Sakeng, kehidupan masyarakat Ile Ape itu cukup menyedihkan. Rumah (dinding dan atap) umumnya terbuat dari nuki (daun lontar). Kehidupan sehari-hari juga sangat susah. Atas kondisi itulah warga mulai memberanikan diri merantau ke Malaysia.

Warga yang ke Malaysia itu, lanjut dia, tidak melalui jasa PJTKI. Apalagi tak ada PJTKI di daerah ini. Mereka ke Malaysia itu bersama keluarga yang telah lama bekerja di luar negeri. Mereka mengurus surat-surat di Nunukan, Kalimantan, selanjutnya ke Malaysia.

Saat di Malaysia, katanya, warga juga kerap bergonta ganti majikan. Jika majikannya memberi upah yang tak sesuai dengan keinginan, maka mereka mencari lagi majikan yang lainnya. Begitu dan seterusnya selama mereka masih berada di Malaysia.

Masalahnya, adalah ketika mereka berganti majikan, visanya tetap berada di tangan majikan yang pertama. Makanya ketika ada razia, warga bersangkutan kerap berurusan dengan aparat di negara tersebut. Yang bagusnya, adalah masalah yang dihadapi tersebut, mampu diatasi secara baik.

Kor Sakeng juga memberi apresiasi karena di Malaysia itu Paguyuban Lembata cukup bagus. Paguyuban itu berperan optimal jika mendapat kabar, ada orang Lembata di Malaysia, menghadapi persoalan. Olehnya selama ini, hampir tak ada kabar kalau ada orang Lembata diperlakukan semena-mena di negara tersebut.

Meski demikian, katanya, tak tertutup kemungkinan bila ada buruh migran dari daerah itu yang mungkin dikejar-kejar aparat keamanan di Malaysia karena masalah tertentu. "Mungkin ada buruh asal Lembata yabg dikejar-kejar karena tidak memperlihatkan visa kepada aparat. Tapi sesungguhnya, visa itu ada hanya saja ditahan majikan yang pertama. Jadi masalahnya seperti itu," ujarnya.

Menurut dia, para perantau asal Lembata itu umumnya memiliki dua terget. Pertama, membangun rumah dan kedua, menyekolahkan anak. Artinya, selama anak mereka belum jadi sarjana, maka mereka tidak akan pulang.

"Kalau pun pulang, para perantau itu akan kembali lagi ke Malaysia untuk bekerja. Dan, selama ini mereka pergi dan pulang seperti biasa. Kalau rumah belum selesai, mereka akan kembali lagi ke Malaysia. Begitu juga kalau anak belum selesai sekolah. Ini fakta yang ada di masyatakat," ujar Kor Sakeng.

Di Lembata ini, katanya, ada beberapa pejabat yang dulunya sebagai buruh migran. Setelah selesai SMA, pejabat itu merantau ke Malaysia untuk mencari uang. Setelah uangnya cukup, yang bersangkutan pulang untuk sekolah dan sekarang menjabat sebagai kepala dinas. Ini fakta," ujarnya.

Itu salah satu keunggulan dari pilihan masyarakat bekerja di Malaysia. Berikutnya, adalah warga bisa membangun rumah permanen di kampung halamannya. "Di Desa Tagawiti itu, banyak sekali rumah yang dibangun dari hasil perantauan. Kesuksesan itulah yang mendorong warga lain untuk ikut merantau untuk memperbaiki hidup," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved