Walau Istri Tewas, Korban Selamat Christchurch Memaafkan Pelaku- Saya Menyayangimu

pengguna kursi roda yang selamat dari pembantaian di masjid An-Nur Christchurch, namun istrinya menjadi korban tewas, memberikan tanda damai kepada

Walau Istri Tewas, Korban Selamat Christchurch  Memaafkan Pelaku- Saya Menyayangimu
ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva/pras
Seorang wanita menangis di dekat Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, Minggu (17/3/2019). 

POS KUPANG.COM -- Seorang pengguna kursi roda yang selamat dari pembantaian di masjid An-Nur Christchurch, namun istrinya menjadi korban tewas, memberikan tanda damai kepada pelaku, dengan mengatakan ia ingin bertemu dengannya dan mengatakan, "Saya masih menyayangimu."

Sebanyak 50 orang tewas di dua masjid di Kota South Island pada Jumat, saat pria bersenjata menerobos masuk, dan memberondong para korbannya dengan peluru saat mereka menjalankan ibadah di sebuah kota yang kini dipenuhi duka cita dan kesedihan.

"Saya ingin menyampaikan pesan kepada orang yang telah melakukan ini, atau jika ia memiliki teman yang juga berpikir seperti ini: Saya masih menyayangimu," ungkap pria yang berusia 59 tahun, Farhid Ahmed, saat melakukan wawancara dengan Reuters di kediamannya, di tengah banyaknya pelayat yang datang untuk mengucapkan belasungkawa atas kepergian istrinya, Husna.

Penanganan Deman Berdarah Terlambat di Sumba Timur, Ini Penjelasan Ketua DPRD

UEFA Nyatakan Mega Bintang Juventus Cristiano Ronaldo Bersalah, Ini Sanksinya

"Saya tidak sependapat dengan apa yang telah Anda perbuat. Anda mengambil keputusan yang salah, petunjuk yang keliru, tetapi saya ingin percaya pada Anda, bahwa Anda memiliki potensi kebaikan di dalam hati Anda," kata dia.

Warga asal Australia, Brenton Tarrant, tersangka supremasi kulit putih, pada Sabtu didakwa dengan pembunuhan, penembakan massal paling brutal dalam sejarah Selandia Baru. Pria yang berusia 28 tahun itu dijebloskan ke penjara tanpa pembelaan dan kembali menjalani sidang pada 5 April mendatang. Polisi berpendapat bahwa Tarrant mungkin menghadapi banyak tuduhan.

Ahmed, yang menggunakan kursi roda sehabis ditabrak mobil, berada di masjid An-Nur saat pelaku menerobos masuk. Ia shalat di tempat yang tidak biasanya, di ruang utama, namun di ruang depan dengan seorang temannya.

"Pada saat itu saya menyadari dua hal. Pertama, itu jelas suara tembakan dan yang kedua ini hari terakhir saya," katanya. "Karena situasi saat itu, dengan kursi roda, tidak mungkin untuk keluar dari masjid."

Namun pelaku tidak masuk ke ruangan yang ia tempati dan Ahmed berhasil melarikan diri ke parkiran, tempat ia menyaksikan langsung pembantaian dari balik mobil, di sisi lain masjid tempat istrinya ditembak di luar.

"Para jamaah berteriak dan bergegas ke luar ... saat mereka datang, mereka panik, saya melihat banyak orang berlumuran darah, banyak juga yang tertatih-tatih," ungkapnya.

Saat pelaku meninggalkan masjid untuk melanjutkan aksinya di masjid lain, Ahmed kembali masuk ke dalam masjid.

Halaman
12
Editor: Ferry Ndoen
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved