Pendemo Duduki Gedung DPRD Lembata, Serukan Jangan Takut Melawan Pemerintah

Para pendemo duduki Gedung DPRD Lembata, serukan jangan takut melawan pemerintah

Pendemo Duduki Gedung DPRD Lembata, Serukan Jangan Takut Melawan Pemerintah
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Mahasiswa yang tergabung dalam Front Mata Mera saat menduduki Gedung DPRD Lembata, Senin (18/3/2019). 

Para pendemo duduki Gedung DPRD Lembata, serukan jangan takut melawan pemerintah

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA -- Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Lembata Makassar Merakyat (Front Mata Mera) menduduki gedung DPRD Lembata, Senin (18/3/2019). Mereka menduduki gedung wakil rakyat itu setelah melakukan long march sekitar 5 km dari Taman Kota Lewoleba.

Disaksikan POS-KUPANG.COM, Senin (18/3/2019), selama long march itu, para mahasiswa melakukan orasi secara bergantian. Mereka berkali-kali meminta masyarakat jangan takut melawan pemerintah apabila yang dilakukan itu baik untuk kepentingan masyarakat dan daerah ini.

KPU Flotim Kerahkan 130 Relawan Sortir Surat Suara

Dalam orasinya, mereka secara total mengobok-obok rencana pembangunan awololong yang bakal menghabiskan anggaran lebih dari Rp 7 miliar itu. Mereka mengatakan lantaran pembangunan itu tanpa sosialisasi, sehingga wajar jika mendapat perlawanan dari masyarakat termasuk mahasiswa.

Ketika Front Mata Mera tiba di Gedung Dewan, semua mereka menuntut Dewan agar menerima kehadiran mereka. Sambil menunggu kedatangan para anggota Dewan, mahasiswa secara bergantian melakukan orasi. Mereka meminta Dewan agar selalu bersikap kritis dan berada di belakang masyarakat.

BREAKING NEWS: Tommy Soeharto Disambut Hangat Warga Oebelo, Kabupaten Kupang

Dewan juga diminta mendukung Front Mata Mera untuk sama-sama menolak pembangunan kolam apung di Awololong. Kalau ada anggota Dewan yang tidak satu semangat untuk menolak tekad tersebut, berarti Front Mata Mera akan meminta masyarakat jangan memilih figur tersebut. "Adalah salah bila masyarakat tolak pembangunan Awololong tapi anggota Dewan malah setuju dengan pemerintah. Bila sikap Dewan seperti ini, maka kami akan menduduki gedung ini" tandas Gafur, salah satu orator.

Menurut dia, apa yang diperjuangkan Front Mata Mera itu dalam kerangka mewujudkan masyarakat sejahtera. Kesejahteraan yang diejawantahkan melalui pembangunan yang pro masyarakat, yabg dibutuhkan dan dinikmati langsung oleh para wong cilik.

"Jadi, kalau masyarakat butuh jalan, air dan listrik, maka itu yang harus diwujudkan pemerintah. Bukan sebaliknya, pemerintah malam membangun kolam apung awololong untuk wisatawan. Ini yang ditolak oleh Front Mata Mera," ujar Gafur.

Hal senada diungkapkan mahasiswa yang lain saat berorasi. Pada intinya belasan mahasiswa itu tidak sependapat dengan pemerintah untuk bangun awololong. Apalagi awolong itu bukan sekadar pulau yang boleh dibangun kapan saja.

Awololong, adalah kampung lama orang Lembata. Oleh karena itu, membangun awololong, sama artinya dengan melukai sejarah, mengangkangi kisah lama tentang hakikat pulau pasir tersebut.

Untuk itu, kata belasan mahasiswa itu, mulai sekarang, Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur bersama staf hendaknya merencanakan pembangunan jalan, air dan jalan, sesuai kebutuhan masyarakat. Itu jauh lebih penting daripada pemerintah bersikeras membangun pulau siput tersebut. (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved