Berita cerpen

Cerpen Yulius Bertin Japa: Di Penghujung Pekan

Menurut cerita lepas dari mereka yang sudah menyelesaikan masa studi di Makasar biaya pendidikan di Kota Makasar terbilang murah.

Cerpen Yulius Bertin Japa: Di Penghujung Pekan
ilustrasi/kompasiana.com
Di Penghujung Pekan 

Cika mulai mengayunkkan kata-kata ejekkanya kepadaku. Kak, waktu itu, aku merasa segan berpapasan dengan kakak, sebab kakak sangat cool tapi polos.
"Ah, masa. Kayaknya itu hanya perasaanmu saja. Tapi kan tidak selamanya apa yang kita prediksi itu benar," balasku.
"Tapi kak, satu hal yang pasti bahwa dalam memprediksi dan itu pasti benar," tegasnya sembari tersenyum.
"Apa itu, " tanyaku penuh penasaran.
"Perasaan," spontan ia menjawabnya. Aku tidak melanjutkan pembicaraanya sebab pada waktu yang sama Cika menerima telepon dari kedua orang tuanya untuk menanyakkan keadaan di Makasar.

Aku hanya bermenung dan bertanya dalam hati tentang pernyataan dari Cika. Maka, akupun memutuskan untuk mencari kos.
Kampus Stela Maris menjadi tempat kami memwujudkan impian. Kami sudah bersepakat untuk memilih kampus yang sama, hanya beda jurusan saja. Aku memilih prodi spesialis dokter binatang sedangkan Cika Prodi Farmasi.

Pada momen yang tak disangka, Cika mengajakku untuk lunch di salah satu kantin dekat kampus. Katanya ada hal mendesak dan penting yang harus ia sharingkan kepadaku terkait perkembangan perkuliahan selama beberapa semester.

Isak Tangis Keluarga Sambut Jenazah Umar Ali, Korban Tenggelam Pantai Namosain-Kota Kupang

Tuturnya lewat WA semalam ada masalah yang terjadi dengan dirinya. Ketika aku berpapasan langsung dengan Cika nampaknya tidak ada masalah apa-apa yang terjadi pada dirinya sebab ia tampak ceria dan bahagia, tapi aku tetap berpikir positif berbicara soal masalah tentu sesuatu yang subyektif.

"Kak, aku sebenarnya mau omong sesuatu dengan kakak." "Sampaikan saja Cika aku siap mendengarmu," ucapku.
"Apa yang kakak rasakan ketika berada di sampingku. Aku sangat bahagia sebab memiliki teman yang baik hati seperti Cika." spontan aku meresponnya.
"Akupun sama kak, namun perasaan bahagia yang kurasakan melebihi dari apa yang kakak rasakan."
"Maksudnya?" sambungku.
"Sejak pertama kali aku berpapasan dengan kakak, aku sendiri tak mampu menahan rasa rindu tuk selalu berada di samping kakak. Aku sudah berusaha menetralkan perasaanku tapi itu sangat sulit, kak. I love you."
"Cika, beri aku kesempatan untuk menjawabnya."

Sinar surya seakan redup seketika sekalipun hari masih pagi. Selama di dalam ruang kelas aku hanya berkutat dengan perasaanku yang penuh tanda tanya.
Pantaskah aku memiliki sang kekasih yang cantik dan baik hati seperti Cika. Ia dari keluarga yang berada sedangkan aku berasal dari keluarga petani biasa, lagipula ada satu pembatas antara aku dan Cika.

Isak Tangis Keluarga Sambut Jenazah Umar Ali, Korban Tenggelam Pantai Namosain-Kota Kupang

Sekalipun aku berhutang terhadap Cika karena tidak memberi jawaban yang pasti, ia selalu bersikap sewajarnya saja kepadaku ketika kami berpapasan di kampus. Segalanya terlarut dalam kebisuan dan penantian.

Akhirnya, aku berani memutuskan untuk menjadi sahabat daripada kekasihnya. Sore ini aku mengajaknya untuk menikmati makan malam di kantin Nian Tana, tempat spesial yang biasa kami kunjungi saat hendak bertemu kapan saja. Entah apa alasan yang mendasar kenapa kami memilih tempat ini, aku juga tak sempat memikirkanya. Mungkin saja menu makananya yang mengandung racikan-racikan bumbu penuh rasa.

"Cika maafkan aku, jika perasaanku kepadamu tak selebih dari seorang teman."
"Kenapa kak?" tanyanya. Aku diam seribu bahasa dan seketika itu juga ia menghilang dari hadapanku. Mustahil bagiku untuk memiliki Cika sebab ayahnya sudah menjadi pembunuh kematian ayahku dua tahun silam. Hati ini masih menyimpan dendam yang tak terobati.

Ramalan Zodiak Hari Ini Selasa 19 Maret 2019 Cancer Egois Leo Bahagia Libra Jangan Banyak Berharap

Aku merasa tidak layak dan pantas berada di samping Cika. Lalu aku menorehkan secarik puisi pada sudut kado valentine yang kukirimkan kepadanya, " Cika, maafkan aku bila aku tidak mampu menjadi lilin yang menerangimu. Kuharap engkau memahami maksud hatiku ini. Dengan hati luka kuantar engkau hingga batas senja tempat kita mencurahkan isi hati kita. Inilah akhir kisah yang dapat kugoreskan.

Biarlah aku memungut hatimu namun bukan untuk memilikimu. Aku tak ingin menjadi singa yang berpura-pura hadir sebagai domba di tengah keluargamu. Sekali lagi maafkanlah aku. Sejujurnya aku juga mencintaimu, namun luka di hatiku tak mampu dihapuskan oleh aura cintamu. Ku kirimkan surat ini tanpa ada harapan untuk dibalas. Ada penghujung pekan, kala aku membaca majalah di depan halaman rumahku, aku mendapat kiriman surat dari Cika.

"Kak, aku sungguh memahami maksud isi hatimu, satu hal yang harus kakak ketahui bahwa mencintaimu adalah hal yang mudah bagiku tapi memilikimu adalah hal yang sulit bagiku. Maka aku berani mengambil keputusan untuk mencintaimu dengan memiliki Dia yang memanggilmu dan memanggilku."

Aku tersentak dan kaget ketika membacanya sebab aku tidak pernah menceritakan kepadanya tentang niatku untuk hidup membiara setelah menyelesaikan kuliah. Tapi aku bahagia karena aku dan dia sudah pernah saling mencintai sekalipun sulit untuk saling memiliki. (*)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved