Berita cerpen

Cerpen Yulius Bertin Japa: Di Penghujung Pekan

Menurut cerita lepas dari mereka yang sudah menyelesaikan masa studi di Makasar biaya pendidikan di Kota Makasar terbilang murah.

ilustrasi/kompasiana.com
Di Penghujung Pekan 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Biaya pendidikan di wilayahku terlampau cukup mahal. Inilah alasan utama mengapa ibuku menyekolahkan aku ke pulau seberang, Kota Makasar. Menurut cerita lepas dari mereka yang sudah menyelesaikan masa studi di Makasar biaya pendidikan di Kota Makasar terbilang murah.

Ya inilah alasan yang paling pertama bagiku untuk segera berlangkah kaki menuju Kota Makasar, apalagi bukan hanya aku sendiri yang sekolah, masih ada kakak dan adikku yang membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Tujuan lain aku ke Makasar ialah untuk mencari pekerjaan supaya meringankan beban ibuku dalam hal ekonomi setelah kepergian ayah beberapa tahun silam.

Live Streaming & Sinopsis Cinta Suci Malam Ini Senin 18 Maret 2019 Aditya Nikahi Monika Marsel Marah

"Nak jaga dirimu dan jangan lupa nasehat ayahmu untuk selalu rendah hati," nasihat ibuku ketika ia memelukku.

Perjalananku menuju Kota Makasar menggunakan transportasi laut, kapal feri. Saat aku bergegas dari rumah keluargaku sempat meneteskan air mata sebab untuk petama kalinya aku pergi ke tempat yang jauh dengan jangka waktu yang cukup lama.

Ditambah lagi musim kala itu yang cukup mengkuatirkan, musim angin timur menurut istilah orang di wilayahku.

Saat musim ini biasanya ada banyak kecelakaan yang tak terduga karena gelombang laut mengamuk seperti binatang buas. Tapi dengan bermodalkan tekad yang kuat aku tetap berangkat. Aku sungguh yakin Tuhan pasti merestui niat luhurku untuk mencari nafkah di tanah rantau.

Banyak perasaan yang berkecamuk dalam diri saat aku mendaratkan kaki di Pelabuan Tanjung Malaya. Cemas, ragu, dan bimbang.

4 Pasangan Artis Korea Selatan ini Dirumorkan Cinlok, Mulai dari Park Min Young Hingga So Ji Sub!

Aku tidak tahu mau buat apa dan harus ke mana aku pergi. Sebab aku tidak memiliki keluarga atau kenalan di kota ini. Aku benar-benar datang sebagai orang asing. Aku terus duduk merenung sambil menunggu mentari merekah, sebab kami tiba dini hari di Pelabuhan Makasar. Ada hasrat untuk bertanya dengan orang sekitarku perihal nama tempat yang harus kutuju, yakni Minahasa.

Ketika aku hendak bertanya dengan salah seorang bapak, tiba-tiba ada seorang gadis jelita lewat di depanku sambil meraba uang di dalam dompetnya.
Persis di depanku, selembar uang seratus ribu jatuh dari genggamannya tanpa disadarinya. Aku yang melihatnya langsung memungutnya lalu berusaha meraihnya untuk mengembalikan uang miliknya.

"Nona tunggu sebentar," suaraku meluncur seketika dan membuatnya berbalik 90 derajat.
"Iya mas, kenapa?" Begitu syahdunya ketika kata itu dilontarkan dari bibirnya yang mungil.
"Ini uangnya nona yang jatuh tadi persis di depan aku." Tampaknya ia keheranan dan sedikit bimbang saat aku mengulurkan tanganku untuk memberikan uang kepadanya.
"Kenapa diam, " tanyaku sedikit mendesak.
"Oh, tidak mas, mekasih ya mas, mungkin baru pertama kali aku menemukan kebeningan hati yang melampaui kebeningan air sungai yang pernah kulihat, " ucapnya dengan spontan.

Mobil Tangki Terjungkal di Lorong Banwas Ende, Ini yang Terjadi

"Maksudnya apa ya nona," kucoba merekam maksud dari ucapannya.
"Oh enggak kok, tapi bolehkah aku mengetahui namanya mas, aku Cika," telapak tanganya langsung menggengam telapak tanganku untuk berkenalan.
"Namaku Jastin," balasku.

"Mas tinggal dimana?" Pertanyaan ini sempat membingungkan aku. Tapi aku coba mengatasi kebingunganku dengan menjawab seadanya.
"Aku belum punya tempat tinggal, aku baru pertama kali datang ke Makasar."
"Ah masa, aku tidak percaya mas, masa orang yang berkulit putih dan murah senyum seperti mas bukan asli orang sini, " jawabnya penuh penyangkalan.

"Untuk apa aku tipu dengan seorang gadis jelita seperti kamu. Aku berasal dari Manggarai." Mendengar kata terakhirku, ia langsung memelukku.
"Oh Tuhan, apakah ini sebuah mimpi sebab untuk pertama kalinya dipeluk oleh seorang gadis yang baru pertama kali kukenal," gumamku dalam hati.
"Kak, betapa bahagianya aku hari ini sebab aku bertemu denganmu. Aku memang bukan orang Manggarai asli, tapi papaku berasal dari Manggarai dan kami tinggal di Rote. Nama ayahku Gregorius Suntuk," jelasnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved