Opini Pos Kupang

Perempuan NTT di Persimpangan Jalan

Beberapa bulan yang lalu masyarakat NTT sempat dihebohkan dengan wacana peraturan Gubernur (Pergub) NTT pelegalan miras

Perempuan NTT di Persimpangan Jalan
POS KUPANG.COM/HERMINA PELLO
Salah saat pekerja di sentra Tenun Ikat Ina Ndao sedang menenun. 

Situasi ini juga sekaligus memberikan stereotype bagi perempuan yang tidak tahu menenun.

Sebab akan ada anggapan bahwa perempuan yang tidak bisa menenun belum pantas untuk menikah dan sebaliknya akan ada pujian bagi setiap mereka yang pintar menenun.

Sesungguhnya hal inilah yang melahirkan konstruksi budaya baru yang kemudian diterjemahkan ke dalam peran, fungsi dan status dalam masyarakat.

Sampai di sini, menjadi pertanyaan reflektif bagi kita bahwa dimanakah peran laki-laki dalam konteks menjaga kearifan lokal?

Agar terlihat adil antara peran laki-laki dan perempuan dalam konteks gender yang tersalurkan dalam wacana pergub perempuan NTT menenun.

Apakah mungkin laki-laki dalam konteks masyarakat tradisional haruslah orang yang sudah tahu bagaimana mengelolah tanah untuk dijadikan kebun atau sawah supaya ditanami jagung dan padi (bertani).

Atau contoh lainnya, seorang laki-laki NTT haruslah orang yang mampu bahkan mahir membuat sopi atau moke (miras lokal) apabila perempuannya sudah diharuskan menenun. (*)

Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved