Ofensif Suriah dengan Rusia dan Amerika Serikat serta Ancaman Turki

Turki membahas dengan Rusia dan Amerika Serikat kemungkinan serangan militer di satu kawasan di bagian timur laut Suriah yang dikuasai para pejuang

Ofensif Suriah dengan Rusia dan Amerika Serikat serta Ancaman Turki
KOMPAS.com/AFP via Daily Mail
Seorang ibu berjalan sambil membawa tas koper dengan bayinya di atas, dan diikuti dua anaknya ketika meninggalkan Baghouz, kota di Suriah yang menjadi benteng terakhir ISIS. 

POS KUPANG.COM -- Turki membahas dengan Rusia dan Amerika Serikat kemungkinan serangan militer di satu kawasan di bagian timur laut Suriah yang dikuasai para pejuang Kurdi, kata seorang pejabat pertahanan yang dikutip media resmi pada Selasa (12/3).

Turki ingin membuat zona aman di kawasan perbatasan Sungai Eufrat setelah sebagian besar tentara AS ditarik.

Militer Amerika telah mendukung pasukan pimpinan Kurdi di sana yang bertempur melawan sisi-sisa pengikut IS sejak kekhalifahan didirikan di Irak dan Suriah tahun 2014. Namun, Turki, memandang para petempur YPG Kurdi sebagai teroris dan berkali-kali mengancam akan melancarkan operasi terhadap mereka.

"Mengenai operasi untuk timur Eufrat, yang dalam agenda, koordinasi dengan AS dan Rusia khususnya masih berlanjut," kata wanita juru bicara Kementerian Pertahanan Nadide Sebnem Aktop.

BREAKING NEWS: Ini Identitas Dua Warga Kota Kupang yang Jadi Tersangka Kasus Prostitusi Online

Aktop yang juga dikutip kantor berita Anadolu mengatakan bahwa koordinasi antara Ankara dan Moskow mengenai Idlib, di bagian baratlaut Suriah,
tempat kedua negara sepakat untuk membentuk zona tanpa kehadiran kekuatan militer, berlangsung sukses "kendati ada provokasi-provokasi".

Pekan lalu Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar mengatakan pasukan Suriah akan mulai berpatroli di kawasan perbatasan di luar Idlib dan pasukan Turki akan mulai berpatroli di dalam zona tersebut.

Hubungan Turki dan Rusia telah menimbulkan ketegangan antara Ankara dan Amerika Serikat, dengan Washington memperingatkan kemungkinan pemberlakuan sanksi oleh AS jika sekutu NATO itu membuat perjanjian untuk membeli sistem pertahanan S-400 buatan Rusia, yang tak sesuai dengan sistem NATO, demikian Reuters melaporkan.

Pada Selasa, Aktop mengatakan bahwa sistem S-400 itu, yang Presiden Tayyip Erdoga katakan Turki tidak akan membatalkan, akan dikirim pada Juli dan dipasang pada Oktober.

Amerika Serikat mengatakan bahwa melalukan hal itu akan membahayakan kebijakan Turki untuk memperoleh jet-jet tempur F-35 Lockheed Martin dan perjanjian-perjanjian industri pertahanan lainnya, termasuk perjanjian mengenai sistem pertahanan Raytheon Co. Patriot.

Aktop juga menambahkan Turk dan Rusia juga melakukan patroli bersama terkoordinasi atas kota Tel Rifaat di bagian utara Suriah, yang dikuasai pasukan pimpinan Turki. (*)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved