Kakek Reino Barack adalah Tokoh Samarinda Anti-Belanda, Ini Kisah Perjuangannya

Kakek Reino Barack adalah Tokoh Samarinda Anti-Belanda, Ini Kisah Perjuangannya

Kakek Reino Barack adalah Tokoh Samarinda Anti-Belanda, Ini Kisah Perjuangannya
KOMPAS.com/Dok. MUHAMMAD SARIP
Gambar Kakek Reino Barack, tercantum dalam buku tentang sejarah perjuangan melawan Belanda di Kota Samarinda. 

Kakek Reino Barack adalah Tokoh Samarinda Anti-Belanda, Ini Kisah Perjuangannya

POS-KUPANG.COM | SAMARINDA - Belakangan santer berita pernikahan artis Syahrini dengan pengusaha muda bernama Reino Barack. Reino yang berdarah Jepang itu, ternyata masih ada sangkut-pautnya dengan Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Tidak banyak yang tahu, jika kakek Reino Barack adalah tokoh Samarinda zaman kolonial yang anti terhadap Belanda.

Fahri Hamzah Ingin Jadi Penjamin Ratna Sarumpaet, Ini Alasannya

Dalam catatannya, peneliti sejarah muda Kota Samarinda Muhammad Sarip mengatakan, ayah Reino adalah Rosano Barack. Rosano merupakan putra kedua dari Omar Barack. Omar Barack, kakek Reino, lahir di Samarinda tahun 1917.

"Omar Barack lahir di Samarinda, orang tua dan paman-pamannya Omar merupakan tokoh Kampung HBS (Pasar Pagi) serta pengurus organisasi Sarekat Islam. Moyang mereka berasal dari tanah Banjar di selatan Kalimantan," katanya.

Terungkap, Motif Ayah Angkat Otaki Pembunuhan Anak Angkat yang Membusuk di Tempat Sampah

Pada usia 22 tahun, lanjut Sarip, Omar kuliah di Wasseda University Tokyo, Jepang. Itu terjadi pada 1939 atau tiga tahun sebelum Jepang menduduki Nusantara.

Ketika Perang Asia Timur Raya berkecamuk 1941, Omar Barack menjadi penyiar Radio Tokyo. Melalui radio Jepang ini, Omar melampiaskan kekesalannya pada Belanda yang menjajah Nusantara termasuk Samarinda.

"Dengan suara menggelegar, Omar mempropagandakan misi Jepang membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Keberpihakannya terhadap Jepang sekaligus membangkitkan semangat nasionalisme rakyat untuk anti-Belanda," ujarnya.

Tepat pada tahun 2002 Omar menghubungi seorang sahabatnya, tokoh Samarinda. Melalui telepon, Omar berucap kepada sahabatnya itu, "Semoga buku yang Dinda rencanakan akan selesai pada waktunya."

"Seminggu setelah itu Omar menghembuskan nafas terakhirnya. Ia wafat dalam usia 85 tahun. Sahabatnya itu menyelesaikan bukunya setahun kemudian," ujarnya.

Buku itu berjudul "Kalimantan Timur: Apa, Siapa dan Bagaimana". Penulisnya bernama Abdoel Moeis Hassan, yang juga segera menghadap Ilahi dua tahun setelah bukunya terbit.

Abdoel Moeis Hassan adalah pejuang pembela Republik Indonesia (Republiken), calon Pahlawan Nasional pertama dari Kaltim.

"Saat ini Pemerintah Kota Samarinda sedang memproses usulan Pahlawan Nasional Abdoel Moeis Hassan, sahabat karib kakeknya Reino Barack," sebutnya.

Tidak banyak yang tahu, sejarah Kota Samarinda juga berkaitan dengan kakek Reino Barack. Meski namanya tidak terlalu populer, namun buku yang ditulis Abdoel Moeis Hassan, adalah bukti sejarah perjuangan kolonial di Kota Samarinda.

"Al Fatihah untuk sesepuh Samarinda yang telah mendahului kita. Semoga bakti dan amalnya diterima Sang Maha Pencipta," pungkasnya. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved