Irak Bersedia Pulangkan 20.000 Warganya dari Suriah, Termasuk Keluarga ISIS

Irak Bersedia Pulangkan 20.000 Warganya dari Suriah, Termasuk Keluarga ISIS

Irak Bersedia Pulangkan 20.000 Warganya dari Suriah, Termasuk Keluarga ISIS
KOMPAS.com/AFP via Daily Mail
Seorang ibu berjalan sambil membawa tas koper dengan bayinya di atas, dan diikuti dua anaknya ketika meninggalkan Baghouz, kota di Suriah yang menjadi benteng terakhir ISIS. 

Irak Bersedia Pulangkan 20.000 Warganya dari Suriah, Termasuk Keluarga ISIS

POS-KUPANG.COM | BAGHOUZ - ISIS semakin terdesak di benteng terakhir mereka di desa Baghouz, Suriah Timur. Dalam perkembangan terbaru, hampir 3.000 anggota ISIS menyerah.

Kini puluhan ribu orang harus tinggal di kamp pengungsian, termasuk istri dan anak-anak anggota ekstremis. Tidak seperti Inggris dan AS yang cenderung menolak warganya di Suriah yang gabung ISIS untuk kembali ke negaranya, Irak justru menyatakan kesediaan.

Pria di Bandung Ini Ditangkap Polisi karena Tanam 7 Pohon Ganja di Pot Plastik

Melansir Daily Mail, Selasa (12/3/2019), pemerintah Irak bersedia memulangkan 20.000 warganya, termasuk anggota ISIS beserta istri dan anak-anak mereka, yang melarikan diri dari kantong terakhir kelompok itu di Suriah.

Mereka diperkirakan akan dipulangkan dalam beberapa pekan lagi di bawah perjanjian. Sebagian besar orang yang keluar dari Baghouz pergi ke al-Hol dan bergabung dengan 65.000 orang yang sekarang tinggal di kamp pengungsian yang semakin sesak.

Menyuap Anggota DPRD, Tiga Pejabat Sinarmas Divonis 1 Tahun 8 Bulan Penjara

Banyak dari mereka adalah warga Irak yang melarikan diri setelah ISIS kehilangan wilayah di Suriah.

"Angka-angka itu tidak resmi tetapi mungkin kita berbicara tentang 20.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak," kata Fabrizio Carboni, direktur regional Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk Timur Tengah.

"Pemerintah Irak telah menyatakan keinginannya untuk membawa orang-orang itu kembali, tetapi ini jelas merupakan situasi yang menantang," ujarnya.

Menurut Carboni, mereka justru dianggap sebagai ancaman keamanan sehingga harus melalui proses penyaringan. Belum ada tanggal resmi untuk pemulangan besar-besaran. Namun, dia meyakini proses itu bisa memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Badan pangan PBB (WFP) menyatakan keprihatinan terhadap kesejahteraan para pengungsi.

"Pada Minggu malam, lebih dari 3.000 orang, kebanyakan wanita dan anak-anak di negara miskin, mencapai kamp," kata WFP.

"WFP sangat prihatin dengan kesejahteraan puluhan ribu orang yang baru tiba di kamp Al-Hol," lanjutnya.

Sekitar 113 orang tewas dalam perjalanan ke kamp atau tak lama setelah tiba sejak Desember lalu. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved