Presiden Joko Widodo Bersilaturahim dengan 500-an Aktivis Pemberdayaan Perempuan Indonesia

Presiden Joko Widodo Bersilaturahim dengan 500-an Aktivis Pemberdayaan Perempuan Indonesia

Presiden Joko Widodo Bersilaturahim dengan 500-an Aktivis Pemberdayaan Perempuan Indonesia
KOMPAS.com/Fabian Januarius Kuwado
Presiden Joko Widodo saat bersilaturahim dengan 500-an aktivis perempuan arus bawah di Istana Negara Jakarta, Rabu (6/3/2019). 

Presiden Joko Widodo Bersilaturahim dengan 500-an Aktivis Pemberdayaan Perempuan Indonesia

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Presiden Joko Widodo bersilaturahim dengan 500-an aktivis pemberdayaan perempuan Indonesia, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/3/2019) pagi.

Pada kesempatan itu, Presiden mengungkapkan sejumlah hal, salah satunya mengenai program-program apa saja yang telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk kaum perempuan Tanah Air.

Menangis Saat Baca Pembelaan, Petinggi Sinarmas Mengaku Menyesal

"Saat ini, pemerintah memiliki banyak program ekonomi, mikro, kecil yang diharapkan bisa menopang peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga," ujar Presiden.

Program itu, di antaranya, Kredit Ultra Mikro (UMi) yang sudah diberikan bagi 1 juta nasabah perempuan di Indonesia.

Jadwal Misa Rabu Abu di Gereja YMY Liliba dan St Yoseph Pekerja Penfui

Selain itu, ada pula program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang saat ini sudah dibagikan kepada 4,2 juta perempuan prasejahtera.

"Saya sering bertemu mereka dan senang. Ada ibu-ibu itu yang sebelumnya jual gorengan, setelah dapat pinjaman Rp 2 juta, bisa tambah jualan bakso. Yang dulu jualan bakso, nambah jualan nasi uduk," ujar Jokowi.

"Sehingga dengan begitu, ekonomi keluarga kita menjadi terdukung," lanjut dia.

Program lainnya, ada yang bertujuan membantu perempuan membangun kekuatan ekonomi di keluarga, misalnya Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan lain-lain.

Presiden mengaku, sangat merasakan bagaimana sulitnya seorang ibu mendongkrak ekonomi keluarga.

Ia mengisahkan, saat ia kecil dan masih hidup di bantaran sungai, sang ibu banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Saya rasakan betul betapa perjuangan seorang ibu untuk mengayomi, mendidik anak, begitu beratnya. Itu saya rasakan betul. Terutama dari sisi ekonomi," ujar dia. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved