Andi Arief Ditangkap karena Narkoba, Polisi Bongkar Kloset Hotel, Begini Cuitan Terakhir Andi

Politikus Partai Demokrat Andi Arief dikabarkan ditangkap di sebuah hotel di Slipi, Jakarta Barat, Minggu (3/3/2019).

Andi Arief Ditangkap karena Narkoba, Polisi Bongkar Kloset Hotel, Begini Cuitan Terakhir Andi
ISTIMEWA
Foto diduga Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat, Andi Arief, dalam sel tahanan setelah ditangkap polisi karena kasus sabu-sabu, Minggu (3/3/2019) beredar di media sosial. 

Andi Arief menyebut terlalu banyak pihak yang berspekulasi atas pidato AHY.

Padahal sikap Partai Demokrat sudah sangat jelas, tak perlu dipertanyakan lagi.

"Terlalu banyak yang berspekulasi soal pidato AHY semalam. Padahal AHY mewakili Partai Demokrat dan rakyat jelas menginginkan Presiden yang bisa membuat rakyat lebih baik dengan demokrasi dan pertumbuhan ekonomi 6 persen. AHY dan Demokrat menjadi juru bicara rakyat," tulis Andi Arief melalui akun Twitternya.

"Semua mimpi tentang Indonesia dari mulai sok revolusi 4.0 sampai imajinasi kelas gatot kaca membangun jembatan langit mana mungkin bisa diraih dengan pertumbuhan ekonomi lima koma," lanjut Andi Arief.

Andi Arief juga menegaskan bahwa partainya paling serius dan setia dalam koalisi.

"Soal efek ekor jas yang tidak didapat oleh partai Demokrat, itu sudah konsekuensi. Tidak berarti Partai Demokrat kehilangan cara dalam situasi yang sengit ini. Partai kami serius dalam koalisi. Terhadap rakyat dan sekutu politik kamilah yang paling setia selama ini," tulisnya.
Tidak hanya itu. Andi Arief bahkan mengungkap jika Partai Demokrat sudah mendeteksi siapa pemenang Pilpres 2019.

Menurut Andi Arief, bagi Partai Demokrat perjuangan nomor satu bagaimana meraih target 15 persen suara dalam pemilihan legislatif (Pileg 2019).

"Partai Demokrat sudah mendeteksi siapa yang akan menang Pilpres yang merupakan nomor dua dalam perjuangan kami. Perjuangan nomor satu adalah mencapai target 15 persen suara pileg. Demokrat first. Dan, kami memasuki fase itu," tulis @AndiArief__. 

Cuitan Terakhir Andi

Elite Partai Demokrat, Andi Arief, dikabarkan ditangkap polisi karena kasus narkoba.

Cuitan terakhirnya di Twitter pada Sabtu (2/3/2019) pun langsung ramai komentar warganet.

Pada cuitannya, Andi mengomentari sebuah artikel pernyataan anggota DPR RI dari fraksi Partai Golkar, M Misbakhun.

Dikutip dari Antara, Misbakhun menyebut pidato AHY terkesan menggurui karena masih minim pengalaman pada bidang politik.

"Apa yang disampaikan AHY terkesan menggurui, karena AHY masih minim pengalaman di bidang politik dan pemerintahannya," kata Misbakhun dikutip TribunSolo.com dari Antara.

Andi pun menyebut bahwa Misbakhun adalah pengurus partai yang ikut-ikutan mengatur partai lain.

"Baru di jaman edan ini ada Pengurus Partai mau ikut ngatur Partai lain," tulis Andi Arief.

Tak berhenti di situ, Andi Arief kembali menuliskan cuitan untuk Misbakhun.

Ia menegaskan bahwa pidato AHY seharusnya disampaikan langsung oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun karena SBY berhalangan hadir, AHY menggantikannya.

"Misbakhum, ini pidato politik partai demokrat yg harusnya disampaikan ketum,

karena berhalangan diganti AHY.

Ente nonton pidatonya ngga," tulis Andi pada cuitan kedua.

Cuitan terakhirnya ini pun langsung dibanjiri komentar pasca-kabar penangkapannya.

Dikutip TribunSolo.com dari Tribunnews.com, Andi ditangkap di sebuah hotel di Slipi, Jakarta Barat pada Minggu (3/3/2019) dini hari.

Andi diduga baru menggunakan shabu yang sempat dibuang sesaat sebelum penggerebekan.

Dari foto penangkapan yang diperoleh, terlihat kloset di kamar tempat Andi Arief menginap dibongkar.

Kloset duduk itu terlihat diletakkan dalam posisi miring.

Sejumlah barang bukti disita.

Ada juga seorang lain yang ditahan bersama Andi Arief.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan lebih lanjut tentang kasus narkoba yang menyeret nama Andi Arief ini. 

Indonesia Pasar Terbesar Penjualan dan Peredaran Narkoba

Kepala Badan Narkotika Nasional ( BNN) Provinsi DKI Jakarta Brigadir Jenderal Pol Johny P Latupeirissa mengatakan, warga Indonesia tidak pernah mempermasalahkan harga narkoba yang dijual.

Mereka akan membeli berapa pun harga narkoba, selama barangnya ada.

"Masyarakat kita tidak pernah tanya berapa harganya (narkoba), tetapi dia akan tanya ada barang atau tidak. Berapa pun (harganya), pasti dia mau beli," ujar Johny dalam pertemuan dengan pengelola tempat hiburan malam (THM) di Gedung BNN DKI Jakarta, Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Rabu (14/2/2018).

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini menjadi pasar terbesar di Asia untuk penjualan dan peredaran narkoba.

Dia menyebut narkoba paling mahal dijual di Indonesia.

Johny mencontohkan, harga sabu di Taiwan hanya Rp 200.000 per gram, di China Rp 100.000 per gram, sementara di Indonesia jauh lebih mahal.

"Di Indonesia mulai yang paket hemat, mungkin 1/4 gram atau enggak sampai itu, sekitar Rp 200.000-Rp 400.000, per gram bisa Rp 1,5 juta-Rp 2 juta," katanya seperti dikutip POS-KUPANG.COM dari Kompas.com.

Semakin tahun, harga narkoba di Indonesia juga semakin mahal.

Ia mengatakan, harga sabu di Indonesia dahulu hanya ratusan ribu rupiah per gram.

Harga inex yang dulu Rp 80.000-Rp 100.000, sekarang bisa mencapai Rp 600.000 per gram.

"Luar biasanya harganya dan tetap laku. Berton-ton masuk ke Indonesia dan itu pasti akan habis," ucap Johny.

Salah satu tempat yang dimanfaatkan sebagai tempat peredaran narkoba, lanjutnya, adalah tempat hiburan malam.

Dia berharap pengelola tempat hiburan malam bisa menjaga tempat usahanya agar terhindar dari peredaran narkoba.
(*) 

Editor: Bebet I Hidayat
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved