Di Kabupaten Kupang Pasien DBD Meninggal, Kepala Puskesmas Tarus Mengakui Kecolongan

Instansi ini kecolongan karena ada satu pasien yang meninggal dunia namun itu karena keluarga pasien membawa langsung awalnya di RS SK Lerik kemudian

Di Kabupaten Kupang Pasien DBD Meninggal, Kepala Puskesmas Tarus Mengakui Kecolongan
POS KUPANG/GECIO VIANA
drg Imelda Sudarmadji, Kepala Puskesmas Tarus Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang ketika ditemui POS-KUPANG.COM diruang kerjanya, Kamis (23/8/2018)

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Edi Hayong

POS KUPANG.COM I OELAMASI---Puskesmas Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang sampai akhir Februari ini sudah menangani 42 kasus demam berdarah dengue (DBD).

Instansi ini kecolongan karena ada satu pasien yang meninggal dunia namun itu karena keluarga pasien membawa langsung awalnya di RS SK Lerik kemudian dirujuk ke RSU Prof. WZ Johanes Kupang tanggal 19 Februari namun tanggal 24 Februari nyawa korban tidak tertolong.

Kepala Puskesmas Tarus, Drg. Imelda Sudarmadji menyampaikan hal ini kepada POS KUPANG.COM, Kamis (28/2/2019) lalu.

Kronologi Lengkap Pria 41 Tahun di Bajawa Ngada NTT Nekat Cabuli Siswi SMP Saat Tidur Bareng Istri

Imelda menjelaskan, terkait dengan penyakit DBD yang lagi mewabah saat ini,  pihaknya terus melakukan sosialisasi dan menangani setiap pasien yang datang berobat. Sampai saat ini total pasien DBD  yang sudah ditangani sebanyak 42 orang. Diakuinya, beberapa hari lalu ada yang meninggal satu anak dari Desa Tanah Merah.
"Kita kecolongan satu pasien.

Awal mereka langsng ke RS SK Lerik setelah  dari sana dirujuk ke RSU Johanes. Meninggal di RSU.Demam tanggal  19 Februari dan meninggal tanggal 24 Februari.  Anak umur 3 tahun," katanya.

Dirinya menambahkan, tim kesehatan tetap terus memberikan pelayanan kepada setiap pasien yang datang sehingga tidak sampai fatal. Setiap ada gejala DBDpun pihaknya menginformasian ke masyarakat.

"Demam baru 2 hari supaya cepat priksakan diri. Cuma kadang ada orang yang punya sifat cuek, anggap remeh dengan  kondisi badan. Kurang cepat menganalisa situasi jika ada keluarga terdekat sakit. Ini kan saat anaknya sakit mereka langsung ke tempat lain," katanya.

Padahal, lanjut Imelda, pihaknya   sudah menginfokan  posko 24 jam setiap saat datang saja, gratis, tidak dipungut biaya apa-apa.

Petugas stand by 24 jam. Ini kembali ke kesadaran masyarakat, cuma memang mau merubah dalam waktu cepat  mustahil, butuh  waktu dan proses. (*)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved