Sosiolog Undana, Fenomena Prostitusi Online Bukan Hal Baru di Kota Kupang

Prostitusi online di Kota Kupang bukan merupakan fenomena baru. Selama situs porno ada di Dunia Maya, Prostitusi online akan tumbuh subur.

Sosiolog Undana, Fenomena Prostitusi Online Bukan Hal Baru di Kota Kupang
KOMPAS.com/Shutterstock
Ilustrasi 

Sosiolog Undana, Fenomena Prostitusi Online Bukan Hal Baru di Kota Kupang

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti

POS- KUPANG | KUPANG - Prostitusi online di Kota Kupang bukan merupakan fenomena baru. Selama situs porno tetap ada di Dunia Maya, Prostitusi online akan tumbuh subur.

Demikian, disampaikan Balkis Soraya, Sosiolog Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, kepada POS-KUPANG.COM, Selasa (26/2/2019).

Ia mengatakan, penutupan lokaliasi Karang Dempel, menjadi salah satu faktor pendukung maraknya prostitusi online, namun bukan faktor utama.

Balkis menyebut, prostitusi online dengan istilah 'prostitusi kartel', ada tawar menawar secara bebas di dunia maya antara PSK dengan pelanggan melalui media online seperti WA, LINE, FB dan Instsgram.

Pantau Dugaan Prostitusi Online, Polres Kupang Kota Rutin Adakan Patroli Cyber

Prostitusi Online Kupang, Seorang Pria Ngaku Punya Nomor PSK Hingga Bantahan Pemilik Tempat Hiburan

Menurutnya, prostitusi online yang sudah merambah ke kalangan pelajar dan mahasiswa akibat gaya hidup hedonis.

"Mereka ingin menunjukkan eksistensi diri dengan mencari kesenangan dan kepuasan diri dengan cara mudah mendapatkan uang melalui prostitusi online untuk memenuhi kebutuhan mereka, menggunakan barang bermerk, HP, baju, tas juga untuk perawatan kecantikan sebagai tuntutan gaya hidup bersama teman sebaya," ungkap Balkis.

Di sisi lain, lanjutnya, proteksi keluarga mulai longgar akibat dari peran ganda perempuan yang bekerja dan terlibat berbagai aktifitas sosial.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, kata Balkis, perlu ada kontrol dari pemerintah bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk melakukan tertib sosial di dunia maya.

"Upaya pencegahan dengan melakukan Patroli Cyber, menarget akun FB, WA, LINE dan Instgram atau situs porno yg menawarkan jasa prostitusi online sebagai usaha menjual diri secara face to face ( lokalisasi) bermertamorfosis melalui jaringan internet," ungkapnya.

DPRD Kota Kupang Duga Prostitusi Online Muncul Akibat KD Ditutup

Polisi Lidik Prostitusi Online di Kupang

Selain itu, kata dia, upaya untuk menekan bisnis prostitusi online yaitu apabila terdeteksi melalui patroli cyber harus diproses secara hukum dengan menggunakan UU IT, UU Pornografi dan UU Perkawinan sebagai bentuk kontrol dan efek jera bagi para pelaku bisnis dagang manusia ( Mucikari).

Ia menambahkan, peran keluarga, orangtua harus mampu menjalankan fungsi kontrolnya terhadap anak-anak, juga memenuhi kebutuhan mereka, tidak hanya secara materi, tetapi secara emosional, yakni, meluangkan waktu ada bersama dengan anak-anak, mengontrol aktivitas anak dan remaja di dalam maupun luar rumah, juga pergaulannya. (*)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved