Sabtu, 25 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Karena Adanya Hari Kiamat, maka Berbenah Diri Perlu

Begitu juga kalau orang yakin besok dunia kiamat para tim sukses mendadak berhenti bekerja bagi paslon yang didukungnya.

Editor: Ferry Jahang
Dok Pribadi
Pendeta Messakh Dethan 

Karena Adanya Hari Kiamat, maka Berbenah Diri Perlu

Renungan Harian Kristen Protestan Tanggal 28 Februari 2019
Oleh: Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA

KALAU orang tahu pasti besok dunia kiamat, maka orang itu akan menunjukkan sikap hidupnya yang berbeda. Dan ia pasti akan berubah 180 derajat. Ia pasti akan mempersiapkan sikap hidup dan tutur kata dengan baik.

Begitu juga kalau orang yakin besok dunia kiamat para tim sukses mendadak berhenti bekerja bagi paslon yang didukungnya. Para tim sukses tidak lagi repot-repot isu apa yang harus diangkat untuk kampanye.

Mungkin juga orang yang suka hina-hina paslon yang dibencinya akan berhenti menghina dan mungkin memanjatkan doa minta ampun atas sikap dan tutur katanya.

Kalau tahu besok dunia kiamat tentu semua orang akan berbenah diri dan meninggalkan semua kesibukannya untuk mempersiapkan dirinya menyambut hari akhir dunia dan berharap bisa masuk surga dan hidup abadi di sana.

Karena urusan dunia kiamat terutama bukan urusan negara atau masyarakat tetapi urusan pribadi masing-masing.

Nabi Amos (Amos 5:18-20) menggambarkan hari Tuhan atau hari kiamat sebagai hari yang sangat mengerikan.

Dalam ayat 18 dikatakan bahwa yang akan terjadi pada hari Tuhan itu adalah kegelapan dan bukan terang.

Kegelapan adalah simbol kematian, simbol dari sesuatu yang buruk. Sesuatu yang tidak membawa harapan apa-apa. Sesuatu yang menuju kebinasaan.

Dalam ayat 19 Nabi Amos menggambarkan hari Tuhan seperti seorang yang lari terbirit-birit ketakutan dari kejaran singa.

Kalau lari dari kejaran anjing masih mendingan. Paling-paling hanya digigit di kaki saja dan mungkin juga kita sudah ketakutan karena bahaya penyakit Tetanus. Apalagi terhadap singa yang bisa terkam seluruh tubuh, tentu lebih ketakutan lagi.

Orang yang menantikan hari Tuhan menurut Nabi Amos, seperti itu. Tapi bukan hanya takut terhadap kejaran singa, tetapi ketakutannya lebih lagi.

Karena saat dia sedang lari dari kejaran singa, namun ia tidak menyangka ada beruang yang sedang siap-siap menyongsongnya dan siap untuk mencakar dan memakan tubuhnya.

Kalau pun ia dapat lolos dan dengan sekuat tenaga dia berlari ke rumah dengan harapan bisa aman, ternyata waktu tangannya memegang pintu atau dinding rumah dengan nafas ngos-ngosan, seekor ular juga sudah siap memagutnya . Ini istilah bukan lagi sudah jatuh tertimpa tangga pula, tetapi situasi yang cocok seperti orang dikubur hidup-hidup dalam kuburan.

Pertanyaannya mengapa Nabi Amos menggambarkan hari Tuhan begitu mengerikan? Apakah memang akan seperti itu?

Menurut Erich Zenger, Einleitung in das Alte Testament, Kohlhammer, Stuttgart 2006, hal. 534) ramalan hari Tuhan dari Nabi Amos ditujukan kepada Suku Yehuda dan kerajaan Israel Utara.

Tuhan menurut Nabi Amos akan menghukum mereka dengan menggunakan bangsa-bangsa yang ada di sekitar Israel, yakni bangsa Aram (Siria), bangsa Filistin, Tirus dan Edom, Amon dan Moab.

Jadi hari Tuhan seakan Bangsa Israel yang tidak bisa lolos dari posisi manapun karena musuh-musuhnya ada dimana-mana.

Nabi Amos hendak mengatakan kepada umat Israel mulai dari para pejabatnya maupun rakyat jelata yang tidak mempersiapkan dirinya dan hidupnya dengan baik, maka akan mengalami hal seperti itu.

Mereka akan ketakutan dan seperti bernapas dalam kuburan.

Menurut J.A. Motyer (J.A. Motyer, Amos, dalam New Bible Commentary, Inter Vaarsity Press, Leicester, England, hal. 734.) Bangsa Israel sudah terpuruk duluan kehidupan mereka (Amos 5:1-3).

Oleh karena itu Nabi Amos meminta tiga hal yang perlu direformasikan dari kehidupan Isael (Amos 5:4-27), yakni pertama, reformasi spiritual (Amos 5:4-13) untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan; kedua, orang-orang Israel harus kembali membangun kehidupan relegius yang benar (ayat 4 dan 5); dan ketiga, menghindari eror-eror moral dalam hal kebajikan (ayat 6 dan 7).

Dengan mengingat akan hari Tuhan yang mengerikan itu Nabi Amos hendak menegur orang Israel yang hidupnya jauh dari Tuhan.

Para pejabat negara yang memeras para janda, menindas orang-orang miskin, yang melakukan banyak ketidakadilan. Mereka rajin beribadah, tetapi kehidupan mereka sehari-hari jauh dari Tuhan.

Para pemimpin hanya memberi janji muluk, tetapi tidak pernah realisasi. Lebih suka berbohong untuk menjaga citra, dari pada jujur dan memperbaiki situasi yang terpuruk.

Nabi Amos hendak mengatakan bahwa bagi mereka yang tidak bertobat akan merasakan ketakutan seperti itu. Karena itu Nabi Amos memberi teguran yang sangat keras kepada mereka.

Pesan Nabi Amos jelas ini bukan hanya penting bagi Bangsa Israel pada masa lalu tetapi bagi kita juga sekarang ini, bahwa untuk hari Tuhan orang mestinya mempersiapkan dirinya melalui kebaikan-kebaikan yang taburkan dimana-mana.

Nilai-nilai kejujuran, ketulusan, rendah hati dan masih banyak nilai lain yang perlu kita tambahkan dalam diri kita agar ketika Hari Tuhan tiba, kita tidak ketakutan seperti yang digambarkan oleh Nabi Amos tadi, tetapi kita dengan penuh sukacita disambut mempelai laki-laki, yaitu Kristus sendiri.

Dalam kaitan dengan pemilu serentak dari pesan Nabi Amos ini mungkin kita belajar menjaga sikap dan tutur kata kita secara arif dan bijaksana.

Pemilu adalah pesta demokrasi dan pesta politik. Sebagai sebuah pesta demokrasi setiap warga negara Indonesia memiliki haknya untuk memilih siapapun yang dia yakini baik yang mampu membawa perubahan bagi masyarakat dimana ia tinggal dan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Sebagai pesta politik, maka pilihan politik selalu punya dampak dan efek baik yang menguntungkan maupun tidak bagi para pemilih.

Karena itu kita tidak perlu terlalu alergi apalagi memaksakan pendapat agar orang lain harus satu pilihan dengan kita.

Kita harus sadar bahwa pilihan kita belum tentu yang terbaik dan yang dikehendaki mayoritas bangsa Indonesia umumnya.

Kita juga jangan sok moralis bahwa pilihan kita yang terbaik, dan pilihan orang lain begitu rendah sehingga kita memaki, menghina dan membulinya.

Mengapa? Karena pemilu adalah pesta demokrasi dan pesta politik yang dijamin undang-undang.

Demi hari Tuhan mari kita memperbaiki diri menyambut bukan saja pesta demokrasi dan politik 17 April 2019, tetapi juga hari Tuhan yang belum pasti tanggalnya.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved