Dijadikan Kambing Hitam atas Hasil Buruk Real Madrid, Dimitar Berbatov Sarankan Gareth Bale Pindah
Dimitar Berbatov tidak percaya Gareth Bale hanya dijadikan pelapis Vinicius Junior yang baru berusia 18 tahun dalam beberapa laga terakhir.
Penulis: Agustinus Sape | Editor: Agustinus Sape
POS-KUPANG.COM - Legenda Manchester United, Dimitar Berbatov, mengkritik Real Madrid yang seperti tidak adil memperlakukan Gareth Bale ketika dijadikan kambing hitam atas inkonsistensi di Real Madrid.
Dimitar Berbatov tidak percaya Gareth Bale hanya dijadikan pelapis Vinicius Junior yang baru berusia 18 tahun dalam beberapa laga terakhir.
Menurut Dimitar Berbatov, Real Madrid seharusnya mendukung dan memberi apresiasi terhadap kontribusi Gareth Bale.
Namun, Dimitar Berbatov justru melihat Gareth Bale hanya dijadikan kambing hitam ketika terjadi sesuatu yang buruk seperti inkonsistensi di Real Madrid.
"Gareth Bale seperti selalu menjadi pihak yang bersalah ketika terjadi sesuatu yang buruk di Real Madrid. Itu sangat tidak adil," kata Berbatov dikutip dari situs web Give Me Sport, Sabtu (23/2/2019),
"Coba lihat data statistik, musim ini Gareth Bale sudah mencetak 12 gol dari 30 laga. Dia masih tampil baik, tetapi tidak ada yang melihat itu," ujar Dimitar Berbatov menambahkan.
Dalam tujuh laga terakhir Real Madrid di semua kompetisi, Gareth Bale tidak pernah bermain penuh hingga selama 90 menit.
Mirisnya, Gareth Bale hanya dua kali tampil sebagai starter dan sisanya masuk sebagai pemain pengganti.
Pelatih Real Madrid, Santiago Solari, lebih percaya kepada Vinicius Junior yang berumur 11 tahun lebih muda dari Gareth Bale.
Melihat kondisi ini, Berbatov menyarankan Gareth Bale untuk segera pindah demi menyelamatkan kariernya.
"Sebagai seorang pemain, Anda harus pergi jika tidak mendapat apresiasi," kata Berbatov.
Gareth Bale musim ini memang menjadi sasaran tembak para pendukung Real Madrid. Kegagalan Gareth Bale menggantikan peran mesin pencetak gol milik Cristiano Ronaldo menjadi penyebabnya.
Untuk diketahui, kontrak Gareth Bale di Real Madrid masih tersisa tiga tahun lagi atau akan berakhir Oktober 2022 mendatang.
Meski begitu, Gareth Bale dirumorkan sudah tidak betah dan ingin kembali ke Liga Inggris dalam waktu dekat. Arsenal dan Manchester United digadang-gadang menjadi tim yang saat ini sedang memantau kondisi Gareth Bale.
Pasca Cristiano Ronaldo
Rodrigo Gallego, perwakilan La Liga di Indonesia, punya pendapat mengenai Real Madrid dan Liga Spanyol yang telah kehilangan Cristiano Ronaldo ke Liga Italia.
Rodrigo adalah pemuda asli Madrid. Ia lahir di ibu kota Spanyol itu dan pernah mengecap pendidikan di akademi Real Madrid.
Kepada kompas.com, dia mengatakan bahwa tak ada pemain yang lebih besar dari mantan klubnya tersebut.
"Cristiano boleh pergi tetapi Real Madrid tetap akan ada jauh setelah ia pensiun," tutur Rodrigo.
Hanya, ia mengakui bahwa suksesi Real Madrid dari era Cristiano Ronaldo tidak berjalan mulus.
Los Blancos konservatif dan enggan langsung mengganti CR dengan megabintang sepak bola lain.
Pembelian outfield termahal mereka adalah Vinicius Junior senilai 45 juta euro (menurut AS), transfer yang sudah disetujui sejak Mei 2017.
Selain itu, Madrid memulangkan Mariano Diaz dari Lyon dan merekrut pemain muda Man City, Brahim Diaz.
Langkah transfer ini setidaknya membuat bingung Rodrigo.
"Entah apa yang ada di kepala Real Madrid musim ini. Namun, saya yakin ke depannya mereka akan sadar dan merekrut talenta kelas dunia," tutur Rodrigo.
"Saya harap pemain itu adalah Kylian Mbappe," kata dia melanjutkan.
Identitas Real Madrid senantiasa berubah.
Di bawah Zinedine Zidane, mereka adalah tim yang mendominasi lawan dengan bermain direct, sedangkan bersama Julen Lopetegui dan Santiago Solari lebih possession based.
Dalam dua musim terakhir, rataan possession Madrid adalah 54,8 persen dan 57,8 persen.
Gaya bermain Zidane mundur ke era Madrid bersama Jose Mourinho, di mana serangan balik menjadi senjata utama mereka.
Pada pertandingan Liga Spanyol pertama di bawah besutan Lopetegui musim ini, Madrid mencatatkan possession hingga 77,9 persen kontra Getafe.
Perbedaan-perbedaan inilah yang membuat Madrid tak bisa berpikir soal masa depan seperti Barcelona.
Pelatih baru akan membawa ide baru yang tentunya perlu diterjemahkan ke pemain-pemain di lapangan sesuai dengan filosofi mereka.
Mungkin ini faktor utama kenapa Madrid terlihat begitu kebingungan di bursa transfer musim panas, kepergian Cristiano Ronaldo berbarengan dengan Zinedine Zidane.
Sementara itu, era Julen Lopetegui sudah berantakan sedari awal, semenjak kabar penunjukannya secara efektif menyudahi karier Lopetegui sebagai pelatih timnas Spanyol. (*)