Renungan Kristen Protestan 19 Februari

Kenyamanan Sejati

Tuntutan yang diberikan Yesus ini merupakan suatu tuntutan yang susah bagi kita orang-orang Kristen modern.

Editor: Ferry Jahang
Dok Pribadi
Dr. Messakh Dethan 

Kenyamanan Sejati
Renungan Kristen Protestan 19 Februari 2019
Oleh : Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA

SAAT ini kita sedang hidup dalam sebuah dunia yang menawarkan banyak kenyamanan. Perhatikan rumah-rumah sekarang, didisain sedemikian rupa sehingga penghuninya benar-benar merasa nyaman.

Rumah-rumah jaman dulu tidak dilengkapi WC dan kamar mandi dalam rumah. Dulu WC atau kamar mandi letaknya 10 meter dari rumah. Malah di berapa tempat, langsung di kali, dengan modal kayu sepotong untuk usir babi atau anjing.

Sebuah rumah modern yang dinamakan rumah tron, malah memberikan kenyamanan luar biasa kepada penghuni rumahnya. Rumah itu dilengkapi dengan komputer yang dapat mengatur segala hal.

Setiap pagi setelah keluar dari WC atau toilet, urine dan apa yang dikeluarkan dari usus kita sudah secara otomatis dikirim ke dokter dan dokter sudah bisa menelpon, apakah kita benar-benar sehat hari itu untuk bepergian dan melaksanakan tugas-tugas kita atau harus berobat ke dokter.

Pada saat ada tamu, pintu akan terbuka secara otomatis. Saat ada angin kecang, jendela akan tertutup secara otomatis, dan diganti dengan alunan musik yang lembut.

Kenyamanan lain, ditawarkan melalui berbagai asuransi, asuransi kesehatan, beasiswa, sampai asuransi kematian. Mati juga mesti masih nyaman.

Berbelanja, bisa melalui internet, Hp dirancang dengan segala fasilitas pendukung, sehingga dengan memiliki sebuah Hp, kita memperoleh banyak kemudahan, dan juga kenyamaman.

Rasanya sudah susah kalau zaman sekarang kita tidak miliki Hp. Hp sudah menjadi teman hidup kita.

Dalam pertemua atau acara bahkan di tempat duka sekalipun semua orang asyik masyuk dengan Hp masing-masing dari pada bernyanyi menghibur keluarga atau bercerita dengan para pelayat yang datang.

Orang-orang merasa nyaman dengan teman canggihnya dan tenggelam di antara banyak orang di sekililingnya.

Bahkan ada yang ketawa cekkikan sendiri atau maki-maki sendiri karena game yang dia mainkan tidak sesuai dengan harapannya alias kalah dan game over.

Saya sengaja menceriterakan ini untuk memberi gambaran bahwa kita semua, tidak terkecuali, sangat membutuhkan kenyamanan.

Tetapi Firman Tuhan hari ini dari Lukas14: 25-33, kita belajar sesuatu yang kelihatan sangat kontroversial atau bertentangan.

Dalam teks ini diceriterakan bahwa orang yang mau mengikut Yesus harus melepaskan segala sesuatu, malah dalam ayat 26 dikatakan:

"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku."

Tuntutan yang diberikan Yesus ini merupakan suatu tuntutan yang susah bagi kita orang-orang Kristen modern.

Siapa yang bisa mengikuti Yesus secara konsekwen dan memenuhi apa yang Yesus tuntut.

Siapa yang mengikut Yesus tanpa hidup nyaman tanpa dukungan keluarga (ayah, ibu, istri, anak, saudara-saudara dan keluarga dekat (tanpa rumah, tanpa berteduh),, siapa yang bisa hidup tanpa itu semua?

Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apa maksud Yesus sebenarnya? Apa yang dituntut Tuhan Yesus bagi para pengikutnya?

Jawaban yang benar dapat kita peroleh kalau kita memahami gaya bicara apakah yang digunakan Tuhan Yesus dalam teks kita ini.

Beberapa penafsir Jerman mengatakan bahwa Tuhan Yesus sedang menggunakan gaya bahasa retorik.

Dengan menggunakan gaya bahasa ini Tuhan Yesus mau menekankan bahwa Firman Allah harus ditempatkan dalam skala prioritas nomor satu berhadapan hal-hal lain, termasuk hubungan kekeluargaan sekalipun (lihat ayat 26).

Gaya bicara retorik menurut G. Otto (dalam bukunya Von geistlicher Rede, sieben rhetorische Porfile, Güttersloh 1979) telah digunakan oleh orang-orang Yunani pada tahun 404 bahkan jauh sebelum Kristus lahir.

Gaya bicara seperti ini juga Tuhan Yesus telah ungkapkan sebelumnya dalam Lukas 9: 57-62, khususnya ayat 60. Atau dalam Mat 24: Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanku tidak akan berlalu.

Di sini Tuhan Yesus menggunakan gaya bicara retorik yang disebut dengan superlativvergleichweise (gaya perbandingan yang paling utama), dimana mengajak para pendengar untuk menguji prioritas hidup mereka.

Kata-kata Tuhan Yesus berorientasi pada Firman Allah sebagai ukuran utama segala sesuatu, lebih utama dari hubungan kekuluargaan manusia, dan lebih berharga dari segala segala harta dan keyamanan duniawi.

Bagi Yesus pilihan mengikutNya dan mentaati firmanNya adalah prioritas yang paling utama dibandingakan dengan hal-hal lain (orang tua, pasangan hidup, anak-anak dstnya) bagi semua mereka yang mau mengikutinya.

Ini poin pertama yang penting dari teks ini.

Persoalan yang berikut, bagaimana cara kita mengikutiNya? Itu yang soal.

Menjadi pengikut Yesus berarti, tidak semua cara hidup Yesus diikuti. Kita tidak harus mengikuti cara hidup Yesus sebagai pengkhotbah keliling, dan berkhotbah dari satu kota ke kota yang lain tanpa rumah. Tidak berarti meninggalkan semua keluarga kita?

Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah panggilan untuk tidak mengarahkan seluruh perhatian kita pada kenyamanan hidup, pada keluarga, dan pada hal-hal yang ada di sekitar kita.

Tetapi bagaimana hidup dalam pengharapan dan tetap percaya kepada Allah.

Bagaimana kita mengarahkan hidup kita bukan pada hal-hal yang sementara, tetapi pada sesuatu yang bersifat kekal. Ini poin penting yang kedua

Kalau Yesus bilang bahwa Ia tidak punya rumah bukan berarti para pengikut Yesus tidak perlu punya rumah dan semua ramai-ramai tinggal di bawah pohon?

Bagaimana kita bisa hidup tanpa rumah? Rumah memiliki fungsi untuk memberikan perlindungan, tetapi rumah juga merupakan simbol kenyamanan, bahwa dalam mengikut Yesus, banyak kali kita tidak merasa nyaman.

Banyak tantangan yang kita hadapi. Banyak kali kita sudah memiliki banyak hal tetapi kita tidak merasa nyaman.

Selama kita mengikut Dia, kita masih harus mengalami berbagai penderitaan, Yesus mau memberi tahu kepada pengikutNya bahwa menjadi pengikut Yesus banyak kali kita akan mengalami ketidaknyamanan.

Ketidaknyamanan bisa juga dalam berbagai bentuk. Untuk bisa mengatasi ketidaknyamanan itu, kita mesti berpikir menurut cara berpikir Kristus.

Bagaimana kita berpikir menurut cara berpikir Kristus, sementara kita manusia biasa?

Menurut Boenhoffer, orang yang menyadari eksistensi dia masa kini, dan mampu menyadariNya dan memisahkanNya dan menjadikan Yesus sebagai sebuah eksistenti baru.

Eksistensi yang didasarkan pada kasih Yesus.

Contohnya Rasul Paulus dalam Galatia 2:20 " 20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."

Cara berpikir Kristus, yaitu, ketika kita rela meninggalkan kenyamanan kita untuk berbagi dengan orang lain.

Misalnya, baru terima gaji 13, sudah rencana mau beli semen untuk sambung dapur, atau teras, atau beli tambah bunga, atau kebutuhan-kebutuhan yang sudah lama tertunda.

Tapi pagi-pagi sudah ada berita kematian, saudara sakit, mau berangkat sekolah, dsb. Dengan berat hati kita mesti berbagi dan menunda kebuthan kita yang sudah lama kita impikan.

Tentu ini membuat kita tidak nyaman, tetapi itulah cara berpikir Kristus.

Kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri tetapi hidup untuk orang lain. Bagaimana meninggalkan kesombongan kita dan memaafkan orang lain. Itu membuat kita tidak nyaman.

Tetapi mungkin hanya saat itu, tetapi kita kemudian mengalami sukacita, damai sejahtera dari sebelumnya.

Kalau kita menggunakan cara berpikir kita, maka kita akan pakai uang kita untuk semua kebutuhan kita., mempertahankan gengsi kita dan bertahan dengan posisi kita dan tidak mau memaafkan atau berdamai dengan orang lain. Ini poin ketiga.

Orang tidak mengikut Yesus hanya untuk mencari kesenangan sendiri, atau mencari kesenangan keluarga dan kelompok, tetapi mengikut Yesus dan mewujudkan kasih Yesus.

Bukan kepentingan diri dan bukan kepentingan kelompok. Banyak orang begitu memperhatikan keluarganya, kelompoknya, seolah-olah ia dapat memproteksi semua hal untuk keluarganya.

Padahal ada saat dimana kita tidak mampu memberikan perlindungan yang sempurna kepada anak-anak kita, kepada istri atau suami, atau kepada orang tua kita.

Kita juga tidak bisa memberikan perlindungan bagi anggota keluarga kita bahwa mereka akan benar-benar bebas dari sakit.

Kita hanya bisa berharap perlindungan dari Tuhan sebab Dialah yang dapat memberikan perlindungan dan jaminan yang pasti.

Firman Tuhan hari ini ingin mengajak kita untuk dalam keberadaan kita masing-masing, Kita menyerahkan seluruh hidup kita dalam penyelenggaraan Allah, sebab Dia yang tahu yang terbaik untuk kita semua. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved