Opini Pos Kupang

Bahaya Virus Senoglosomania

Bahasa asing, utamanya Bahasa Inggris dianggap sebagai ideologi bahasa paling pas diterapkan dalam kehidupan

Bahaya Virus Senoglosomania
www.shutterstock.com
ilustrasi 

Jadi, ketika kita telah hidup dengan bahasa kita (nasional dan daerah), biarlah kita menuturkannya. Bila perlu, kita berusaha keras memasyarakatkan bahasa kita itu ke dunia untuk dipelajari (dituturkan). Akan lebih afdol bila kita mengglobalkan bahasa kita sendiri ke dunia luar, baik itu Bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.

Bahasa Daerah Patut Dibanggakan

Kebanggaan berbahasa mesti diapit dalam ketiak peradaban kita, bukan pada peradaban asing. Bahasa daerah patut dibanggakan sebagai aset budaya paling langka. Bahasa daerah mesti digunakan dan dituturkan; bila perlu, dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dan pengajaran bahasa (muatan lokal). Ini menjadi tugas pemerintah daerah.

Saya gelisah jika pemerintah-pemerintah daerah di NTT tidak segera merumuskan kebijakan penggunaan bahasa daerah, ancaman kepunahan siap menjemput. Lebih parah lagi bila pemerintah-pemerintah daerah juga turut mencetus kebijakan penggunaan bahasa asing (Bahasa Inggris), seperti Pemerintah Provinsi
NTT, maka kita siap untuk berucap: "Beristirahatlah dalam damai bahasa daerahku".

Kegelisahan bahasa juga pernah diungkapkan Juanda, Sobarna, dan Darheni (2017:11) menyusul merebaknya kosakata Bahasa Inggris dalam perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia. Menurut mereka, jika gejala itu dibiarkan tanpa kendali, tentu akan mengikis jati diri Bahasa Indonesia itu sendiri. Jadi, kita tak perlu minder atau merasa diri rendah ketika menggunakan bahasa kita sendiri. Kita harus mengawetkan bahasa kita dengan menggunakan dan menuturkannya.

Bukankah UNESCO, salah satu organisasi besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),
juga melindungi bahasa daerah? UNESCO saja masih prihatin terhadap bahasa daerah, mengapa kita tidak demikian? Perlu diingat bahwa UNESCO pernah mewanti-wanti bahwa dunia akan kehilangan warisan yang sangat berharga ketika sebuah bahasa punah.

Sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah (lihat, Liliana Muliastuti dalam Kolom Bahasa Liputan6.com, 21 Februari 2018).

Ini jelas bahwa kehilangan satu bahasa daerah tidak hanya menyisakan pilu bagi penutur bahasa itu sendiri, melainkan pilu bagi dunia. Sebab, bahasa daerah tidak hanya menjadi milik pengguna dan penutur bahasa itu sendiri, tetapi juga menjadi milik masyarakat dunia.

 Bahasa daerah adalah warisan budaya yang paling berharga di dunia. Inilah sebabnya, di kancah internasional, bahasa daerah mendapat perlindungan prima dari
UNESCO.

Sementara itu, di Indonesia, selain Bahasa Indonesia yang diatur sebagai bahasa Nasional dalam UUD 1945 pasal 36C, bahasa daerah pun turut dilindungi di dalamnya (lihat juga UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan).

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, saya mengundang kita semua untuk membanggakan bahasa kita sendiri, baik itu bahasa nasional maupun bahasa daerah, seperti halnya Kaisar Karel V dari Spanyol yang membanggakan bahasanya sebagai bahasa paling bergengsi karena dipakai untuk berbicara dengan Tuhan (bdk, Samsuri, 1978:19). (*)

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved