Opini Pos Kupang

Bahaya Virus Senoglosomania

Bahasa asing, utamanya Bahasa Inggris dianggap sebagai ideologi bahasa paling pas diterapkan dalam kehidupan

Bahaya Virus Senoglosomania
www.shutterstock.com
ilustrasi 

Memang betul bahwa bahasa nasional hanya berlaku di negeri kita saja, dan bahasa daerah hanya berkelas lokal saja. Tetapi, mengapa kita tidak berikhtiar menduniakannya seperti Bahasa Inggris?

Saya kira, dahulu kala Bahasa Inggris pun hanyalah bahasa yang berkelas lokal saja. Namun, karena diduniakan, kemudian ia menjadi bahasa internasional, walau caranya dengan menjajah, misalnya.

Sudah saatnya kita juga menduniakan bahasa kita dengan cara kita sendiri. Salah satunya melalui pengembangan pariwisata budaya (bahasa).

Janganlah kita dijajah (lagi) lewat bahasa. Kita mesti berdaulat dengan bahasa kita sendiri. Maka, ideologi keinggrisan mesti ditanggalkan. Ideologi keinggrisan harus dipergikan dari ruang ideologi keindonesiaan (kelokalan) kita.

Bahasa Inggris tak boleh diagungkan sebagai bahasa yang bisa dengan segera mendongkrak ekonomi NTT dari sektor pariwisata.

Bahasa Inggris tak boleh pula dianggap sebagai bahasa paling hebat nan bergengsi, sebaliknya bahasa kita yang mestinya dibuat bergengsi. Gengsi bahasa sama sekali tak terletak pada pemujaan bahasa asing, tapi lebih pada pemujaan bahasa sendiri (bahasa nasional dan bahasa daerah).

Jika salah satu bangunan pariwisata adalah budaya, semestinya bahasa nasional dan daerah juga dikembangkan berbarengan. Sebab, di dalam budaya ada bahasa. Ada relasi keintiman antara bahasa dan budaya yang tak dapat dipisahkan.

Bahasa dan budaya ibarat sekeping koin mata uang: boleh dibedakan tapi tak dapat dipisahkan. Ini perlu dicatat agar tak salah kaprah memosisikan bahasa nasional dan daerah di bawah telapak kaki bahasa asing.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah dengan melayani turis asing ataupun investor asing dengan Bahasa Inggris, kita perlu menumbalkan bahasa kita (nasional dan daerah)? Pertanyaan ini mesti direnungkan secara mendalam dalam sikap dan kebijakan (politik) bahasa.

Kridalaksana (1985:7) jauh sebelumnya menegaskan bahwa tidak semua turis berasal dari negeri yang berbahasa Inggris; dan tidak semua turis menguasai Bahasa Inggris. Bahwa pengharusan Bahasa Inggris sama sekali tak menolong.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved