Berita Cerpen

Cerpen : Honing Sanny Menanti Perempuan Buku Kembali

Meski begitu ada keraguan jangan-jangan gadis yang selalu membawa buku kemanapun pergi itu masih kenal dirinya.

Cerpen : Honing Sanny Menanti Perempuan Buku Kembali
ilustrasi/kaskus
Honing Sanny Menanti Perempuan Buku Kembali 

"Malam Mbak Aurora apa kabar? Ini Alkemis yang pernah berjumpa waktu perjalanan dari Kupang ke Lewoleba. Masih ingatkan? Mudah-mudahan. Salam"

Setelah mengirimkan pesan lalu menuju mobil untuk meninggalkan kafe yang romantis di malam hari. Dalam perjalanan pulang kembali ke Kupang yang sudah mulai padat di malam hari, di tengah hujan tipis menjelang Natal, hati kecilnya terus berharap siapa tahu mendapat balasan. Setiap bunyi SMS atau WhatsApp yang masuk langsung dilihat, namun tidak satupun muncul nama yang ditunggu.

***
Gunung Inerie menjulang tinggi. Terlihat cantik dari kejauhan sayang cuma sendiri. Diselimuti awan tipis menambah rasa sepi bagai gadis yang merindu kehadiran kekasih. Cantik namun sedih.

Sementara pancaran cahaya matahari dari ufuk timur membentuk bayangan hitam bak rambut panjang terurai di sisi kanan kaki gunung. Mengingatkan pada komik-komik masa kecil tentang legenda putri cantik Eropa yang rambutnya melambai panjang terurai.

Angin sepoi-sepoi menggoda pucuk-pucuk pohon pinus yang terus melambai sambil mengeluarkan bunyi seperti berbisik. Suara burung-burung pagi bersahutan dengan bunyi yang beraneka. Ekspresi alam begitu sempurna.

Barangkali ini menjadi alasan mengapa banyak penakluk Flores selalu merindukan untuk dapat istirahat sejenak di Manulalu. Menginap di tempat yang tersembuyi dan jauh dari keramaian Kota Bajawa. Dengan lingkungan yang asri serta pepohonan yang menjulang tinggi menambah suasana nyaman seolah-olah sedang berada dalam Taman Firdaus di bumi.

Soal Keliling NTT, Gubernur Viktor Laiskodat Sebut Hanya Satu Orang yang Bisa Melawannya

Dari beranda belakang cottage berbentuk kubah dengan dominan warna putih ini, dengan kepala yang masih diselimuti handuk karena habis keramas, Aurora mengambil dua ponsel yang dari semalam mati karena kehabisan baterei.

Setelah menghidupkan androidnya, dia lalu berdiri di salah satu pojok yang view-nya paling ideal untuk mengabadikan panorama Manulalu di waktu pagi yang eksotik. Semua yang ada di depannya diabadikan.

Tanpa peduli dengan bunyi notifikasi yang masuk ke ponselnya, Aurora fokus mengambil gambar semua objek yang dia sukai. Pengalamannya sebagai wartawan foto membantu dirinya untuk memilih sudut-sudut yang ideal agar mendapatkan gambar foto yang bagus.

Desa Adat Bena juga menjadi sasaran jepretannya. Desa yang terletak tepat di bawah kaki Gunung Inerie. Dari kejauhan hanya terlihat atap -atap rumah adat yang membentuk formasi tertentu sekaligus menjadi ciri khas penambah daya tarik untuk berkunjung ke sana.

Setelah mengabadikan semuanya, sambil menyeduh minuman kesukaan yang selalu dibawa kemanapun pergi, Aurora seperti biasa mulai membuka semua pesan yang masuk baik melalui SMS ataupun WhatsApp. Dia memilih mana saja yang harus direspon lebih dahulu. Tentu saja diutamakan yang berkaitan dengan pekerjaan termasuk membalas beberapa komentar yang ada dalam group teman-teman sekantor.

Dandim Rudi Markiano Lakukan Ini Guna Membangun Manggarai

Tiba-tiba matanya menangkap ada kiriman WhatsApp dari nomor baru yang muncul di layar ponselnya. Dia membuka kemudian membaca pesan: "Malam Mbak Aurora apa kabar? Ini Alkemis yang pernah berjumpa waktu perjalanan dari Kupang ke Lewoleba. Masih ingatkan? Mudah-mudahan. Salam"

Dia menatap lama sekali pesan tanpa langsung membalas. Sambil kembali mengingat memori pertemuan, pandangannya dibiarkan lepas jauh melampaui Gunung Inerie. Dia mulai ingat pertama kali bertemu di Bandara El Tari. Lalu kehangatan dalam perjalanan di pesawat. Ngobrol lama di pelataran bandara Lembata. Lalu saling tukar nomor ponsel. Lalu berpisah. Sialnya ponsel itu jatuh dalam laut ketika berperahu di Lamalera sehingga semua data dan nomor kontak pun hilang.

Dalam hati kecilnya, dia ingin sekali suatu saat bisa kembali bertemu Bang Alkemis. Ya untuk sekadar ngobrol atau bertukar cerita tentang buku atau novel. Jarang sekali dia temukan lelaki yang hangat dan sekaligus suka membaca.
Tapi tidak mungkin keinginan itu dia ungkapkan saat membalas WhatsApp untuk pertama kali.

"Selamat pagi, Bang. Aku ingat ko, Bang. Kabar baik. Gimana juga kabar abang. Maaf baru baca."
Sesudah membalas pesan Alkemis, dia mengunggah foto-foto terbaik hasil jepretannya ke Facebook dan Instagram dengan tulisan 'Manulalu' sambil berharap ada yang memberikan komentar dan jempol untuk postingannnya.

Tanpa peduli dengan rambutnya yang berhanduk, Aurora mengeluarkan laptop untuk meng-update berita yang beberapa hari terlewatkan. Dia sengaja menghabiskan hari di penginapan tanpa ada agenda sekaligus untuk recovery (pemulihan, Red).

Paling jauh selepas makan siang menuju Kampung Bena yang tidak jauh dari penginapan.
"Makasih ya mbak mau balas. Aku pikir udah lupa. Dulu aku pernah WA tapi ga pernah balas. Sekarang posisi? Flores? Jakarta? Atau dimana?"

Tanpa menunggu perempuan tomboy langsung membalas WhatsApp.
"Aduhhhh maaf abang, bukannya gak balas tapi ponselku kecebur laut saat diajak naik perahu oleh nelayan di Lamalera."
Seperti berlomba Alkemis pun membalas cepat.

"Sorry kalau begitu aku salah duga. Sekarang dimana?"
"Aku di Flores, kok. Sekarang nginap di Manulalu."
"Ngapain? Travelling lagi, ya. Cinta banget sama Flores."
Membaca balasan dari Alkemis, dia tersenyum sambil terus menulis.

"Aku ke Flores tiga hari yang lalu. Mulai dari Maumere. Lalu ke Kelimutu, lalu foto-foto di Rumah Pembuangan Bung Karno di Ende. Juga pesiar ke Taman Bung Karno."

"Bagus udah sampe ke Kota Pancasila. Di situ Pohon Sukun tempat Soekarno merenung tentang Philosophische Grondslag. Tentang dasar negara yang kita kenal dengan Pancasila."

"Tapi sayang bang, tamannya jorok seperti tidak terurus padahal ada patung Bung Karno".
"Iya juga sih, mbak."
"Bila saja Bung Karno masih hidup pasti dia suruh pindahkan patungnya karena tidak sesuai dengan dirinya yang bersih."

"Kayaknya kamu banyak membaca tentang sisi humanis Bung Karno, ya?"
"Ayah saya pengagum BK, bang. Koleksi bukunya banyak. Oh ya bang, hari ini aku istirahat ko Bang. Nikmati suasana Manulalu."

"Pantesan. Oh ya baru ingat, kamu kan suka baca. Hati-hari ntar kepincut cowok Flores lho, he he he he."

Aurora sudah bisa menebak pasti Alkemis berharap dirinya merespon godaan tentang cowok Flores. Namun pengalaman serta kedewasaan membuat dirinya tahu bagaimana memberi batas tanpa ada merasa terganggu dalam berelasi dengan dirinya. "Bang Alkemis di mana nih?"

"Abang di Kupang. Asyik jalan terus. Flores itu memang menarik sekali. Jangan lupa ya mampir ke Riung masih perawan, lho. Gak kalah lho ama Labuan Bajo."
"Iya Bang. Besok aku rencana mau ke sana."
"Ada yg nemanin gak ya?"

Soal Keliling NTT, Gubernur Viktor Laiskodat Sebut Hanya Satu Orang yang Bisa Melawannya

Sambil kembali tersenyum, Aurora menjawab ringkas: "Sendiri."
"Ok deh Aurora. Kapan balik ke Jakarta? Kalo lewat Kupang kabari biar bisa ketemuan. Ada tempat kopi yang bagus. Dari situ kita bisa melihat Kota Kupang yang hijau di musim hujan. Siapa tahu kamu suka."

"Iya bang makasih atas ajakannya. Aku balik lewat Kupang ko, Bang. Aku mau beli miniatur Sasando untuk dibawa ke Jakarta. Ada kawanku pesan."

"Ok kabari ya biar abang ajak minum kopi sambil diskusi. Ada novel bagus yang sudah abang baca, siapa tahu kamu suka. Sekalian abang temani kamu nyari Sasando. Abang kenal dengan pemiliknya."

"Makasih ya bang. Sampe ketemu."
"Ditunggu. Sama-sama."

Tanpa terasa Aurora larut dalam komunikasi WhatsApp hampir sejam dengan orang yang baru sekali kenal. Itupun secara tidak sengaja. Dia pun mengubah rencana perjalanan yang sebelumnya via Labuan Bajo lalu memilih balik Jakarta via Kupang dengan alasan ingin membeli sesuatu sebagai suvenir.

Semua itu dilakukan sebagai upaya untuk bisa bertemu Alkemis.
Benih-benih rindu pun menguasai perasaan. Inginnya cepat-cepat ke Kupang. Terlintas untuk membatalkan perjalanan ke Riung. Hanya karena semua sudah dibayar, wanita lajang ini tetap memutuskan ke sana meski waktunya dipersingkat cuma semalam.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aurora sudah tinggalkan Riung menuju Bandara Soa untuk terbang ke Kupang.

Sepanjang perjalanan sambil menikmati udara pagi yang masuk melalui jendela mobil sambil mendengarkan lagu-lagu rancak irama reggae berbahasa daerah dari tape mobil travel tidak lupa dia kirimkan pesan singkat ke Bang Alkemis.

"Siang ini aku masuk Kupang ya, Bang."
(Kupang, 18 Januari 2019)

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved