Berita Cerpen

Cerpen : Honing Sanny Menanti Perempuan Buku Kembali

Meski begitu ada keraguan jangan-jangan gadis yang selalu membawa buku kemanapun pergi itu masih kenal dirinya.

Cerpen : Honing Sanny Menanti Perempuan Buku Kembali
ilustrasi/kaskus
Honing Sanny Menanti Perempuan Buku Kembali 

Alkemis hilang percaya diri. Itu juga jadi alasan mengapa tidak kembali untuk mencoba menghubungi gadis impian.

Ceritanya, beberapa hari setelah berpisah di Bandara Lewoleba, Alkemis layaknya semua laki-laki normal mencoba menyapa perempuan yang pernah berkenalan dan apalagi bersedia menyimpan nomor kontak.

Seperti kebanyakan laki-laki, sapaan awal melalui pesan singkat pun cenderung klise. Sekadar menanyakan sudah sampai di mana? Keadaannya seperti apa? Dan banyak lagi pertanyaan sambil berharap para wanita merespon ramah.

Terkadang para lelaki sudah mengetahui jawaban namun tetap saja begitu sejak jaman purba relasi antara laki-laki dan perempuan.

Sayangnya tidak sekalipun Aurora membalas pesan yang dikirimkan. Alkemis yang mengagumi Aurora karena suka membaca dan pintar pun bertanya-tanya mengapa perempuan ramah dan hangat ketika bertemu dalam perjalanan tiba-tiba tidak membalas pesan singkat yang dikirim.

Meskipun ada kecurigaan, jangan-jangan keramahan hanya pura-pura, tapi Alkemis masih menaruh harap bahwa mereka pasti kembali berjumpa. Rasa rindu yang hebat seperti sedang menghadapi jalan terjal.

Mulanya Alkemis beranggapan boleh jadi tidak dibalas karena tidak ada sinyal selama di Lamalera atau karena gadis yang sudah matang ini tidak mau diganggu waktu vacancy-nya.

Namun, karena lama menunggu dan tidak sekalipun balasan itu datang, Alkemis pun mulai ragu jangan-jangan dia bukan lelaki yang menarik di mata Aurora sehingga sekadar membalas pesan pun ogah.

Sebelum Menikah, Ahok BTP dan Puput Nastiti Devi Butuh Air Seperti Ini, Apa Tujuannya?

***
Mentari sudah mendekati cakrawala. Dari atas rumah panggung kafe yang berjarak beberapa meter saja dari bibir pantai terlihat laut yang ramah dengan wajah langit merona. Gelombang pun memecah malas seperti tak ingin mentari lekas pergi.

Suasana bertambah sepi karena tidak ada lagi suara anak-anak yang biasanya dulu sering bermain dan berenang di pinggir pantai. Mereka sudah tidak berani lagi karena takut disambar buaya yang sering berkeliaran mencari makanan karena ekosistemnya yang rusak.

Halaman
1234
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved