Renungan Harian

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Oleh: Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

POS-KUPANG.COM - ALKISAH ada seorang preman mendatangi empat pemuda yang baru pulang dari gereja. Ia bermaksud untuk meminta uang kepada mereka. Dan dengan suara tinggi dia menggertak mereka.

Siapa di antara kalian yang berani dengan ku hahh?! Ayo serahkan uang kalian," gertak si preman itu. Pemuda pertama berkata "saya berani"! Pemuda kedua, ketiga dan keempat berdiri lalu serentak berkata, " kami juga". Si preman malah jadi gentar dan takut.

Ia kemudian berkata dengan suara lirih, "bagus-bagus. Kalau begitu tambah dengan saya kita berlima adalah "lima orang pemuda pemberani".

Saat Bicara Kasus Hoaks, Jokowi Acungkan Jempol untuk Ratna Sarumpaet, Ini Alasannya

Sikap keempat pemuda gereja tadi berbeda dengan kebanyakan orang Kristen, yang lebih suka diam, cari aman dan pasrah kepada keadaan. Mungkin juga hal itu terjadi banyak dari kita terlalu leterlek membaca teks-teks alkitab dan salah mengartikan kata-kata dan nasehat Tuhan Yesus dan para rasul untuk tidak usah membalas kejahatan dengan kejahatan (Matius 5: 39, Lukas 6:29, Roma 12:17, 1 Petrus 3:9, 1 Tesalonika 5:15), atau malah berdoalah bagi musuhmu (Matius 5:44, Lukas 6:35).

Apakah memang demikian bahwa Yesus mengajak orang Kristen untuk tidak berani melawan terhadap kejahatan, tradisi dan kebiasaan-kebiasaan buruk?

Istri dan Anak Pelaku Pembunuhan TNI Menangis Sambil Minta Maaf kepada Korban

Orang sering salah memahami sikap Yesus. Menganggap sikap Yesus yang lemah, penakut dan tidak berani melawan. (Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Matt. 5:39"). Bahkan kematian Yesus di kayu salib dianggap sebagai puncak kelemahan dan ketidak beranian Yesus melawan ketidak adilan. Orang Yunani dan Yahudi menganggap peristiwa penyaliban sebagai kebodohan (1 Kor 1:18).

Marilah kita mencoba untuk memahami Kisah dalam Matius 21:10-17 (bandingkan Mk 11,11.15-19;Lk 19,45-48) lebih dalam dan hal itu akan membuat kita tercengan, karena ternyata Yesus bukan tipe orang yang lemah dan penakut. Ia adalah pemberani.

Yesus bertindak tegas dan melawan praktek dan sistim peribadatan di Bait Allah. Yesus bahkan bertindak dengan kasar dengan membalikkan bangku-bangku dan meja-meja penukaran uang. Dan mengatakan bait Allah adalah rumah doa dan bukan sarang penyamun. Kenapa Yesus bertindak kasar? Padahal dalam ajaran-ajaran Yesus justru menganjurkan tentang kelemah lembutan (Matt. 5:5: ,Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi (bandingkan Lukas 6:35-38) serta tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (Matt. 5:35: "39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.").

Letkol Arm Roni Junaidi Gantikan Letkol Arm Budi Wahyono Jadi Dandim 1618 TTU

Jadi dengan kita melihat lebih detail cerita ini, maka kita akan merubah sikap pemahaman yang salah mengenai sikap Yesus dan tidak lagi menganggap sikap Yesus yang lemah lembut sebagai penakut dan tidak berani melawan.

Dari kisah Matius 21:10-17 ini membuktikan siapa Yesus sebenarnya, bahwa Yesus bukanlah tipe orang yang lemah dan penakut. Ia adalah seorang pemberani dan bertindak tegas terhadap apa yang salah dan keliru. Ketika Yesus masuk ke kota Yerusalem dan tiba di Bait Allah ia melihat praktek ibadah di Bait Allah cenderung menjurus kepada bisnis dan uang dari pada penekanan kerelaan dan kasih yang sungguh-sungguh kepada Allah.

Apa yang dilihat Yesus dalam Bait Allah? Pada bait Allah ada banyak bagian yang penting. Salah satunya bagian dasar dari bait Allah biasa ada kawasan dimana domba-domba yang hendak dijual ke umat yang datang untuk mempersembahkan korban persembahannya di Bait Allah. Dan para rabi tertentu bertugas mengatur lalu lintas perdangangan itu.

Domba-domba itu didagangkan di halaman depan Bait Allah. Memang di antara para rabi sendiri tidak ada kata sepakat mengenai hal ini. Selain domba yang dijual di halaman Bait Allah itu, juga ada stand atau kawasan untuk penjualan burung merpati. Keduanya diatur oleh para pejabat pengelola bait Allah dan sebagai sumber masukan bagi pajak Bait Allah. Agar supaya masyarakat yang datang bisa membeli hewan persembahan sesuai dengan nilai mata uang yang pas dan juga untuk kepentingan pembayaran pajak Bait Allah, maka di aturlah petugas-petugas penukar uang beserta dengan meja-meja dan bangku mereka masing-masing.

Stand atau tempat yang paling ramai tentu saja adalah stand burung merpati. Mengapa? Karena mempersembahkan burung merpati adalah persembahan orang-orang kecil dan miskin. Uang mereka tidak cukup untuk membeli domba untuk dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi hanya cukup untuk membeli burung merpati dan itu sudah cukup memenuhi syarat minimal untuk membawa korban persembahan kepada Allah.

Di halaman depan Bait Allah ini juga duduk para pengemis dan orang cacat yang meminta sedekah dari orang-orang yang datang ke Bait Allah. Inilah situasi ketika Yesus tiba di Bait Allah di Yerusalem.

Ketiga penulis Injil (Matius, Makus, Lukas) sama sekali tidak menceritakan bahwa Yesus tidak marah kepada para pengemis dan orang cacat, tetapi ia marah kepada para pejabat pengelola Bait Allah dan para penukar uang yang ada, sehingga ia membalikkan meja-meja dan membubarkan mereka. Mengapa?

Alasan mengapa Yesus marah dan bertindak kasar, bukan karena Tuhan Yesus sedang mabuk dan memiliki emosi yang tidak terkendali. Sebab kalau mau bilang mabuk karena minum anggur, kisah ini sama sekali jauh dari peristiwa pesta pernikahan di kota Kana itu, dimana disitu mereka minum banyak anggur, bahkan ketika anggur habis pun Yesus mengubah air menjadi anggur lagi, sehingga mereka tidak kehabisan anggur selama pesta pernikahan itu (lihat Yohanes 2:1-11). Juga bukan karena Yesus telah lupa kepada ajaran-ajarannya sendiri mengenai kasih, kesabaran dan kelemahlembutan.

Alasan yang paling kuat mengapa Yesus marah didasarkan pada sikap orang farisi dan para para pengelola bait Allah yang telah mengabaikan keadilan dan kasih Allah dalam hubungan dengan peribadatan dan persembahan korban di Bait Allah. Dalam Lukas 11:42: ,Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Tuhan Yesus melihat pola peribadatan dan persembahan kepada Allah telah menyimpang jauh dari Inti Ajaran Taurat yang sesungguhnya yang bertumpu kepada keadilan dan kasih Allah. Ibadah malah dijadikan bisnis oleh para pengolala bait Allah, dan banyak para pekerja di Bait Allah termasuk para penukar uang mencari keuntungan di atas kesempitan dan kelemahan orang miskin.

Mengapa para rabi ribut mengenai pengolalaan Bait Allah, karena sebetulnya mereka berebutan untuk mengurus pengelolaan bait Allah yang ujung-ujungnya bermuara pada uang, dan apalagi orang yang ditunjuk untuk duduk di meja-meja penukaran uang (sesuatu yang dianggap sebagai tempat basah, di Indonesia, artinya sesuatu yang ada hubungan dengan uang dan kedudukan yang menguntungkan).

Kadang umat yang datang membeli hewan kurban membayar dengan uang besar, tetapi dengan alasan tidak ada uang kembalian yang pas, maka kadang sisa kembalian uang kecilnya masuk ke kantong si penukar.

Di beberapa tempat di Indonesia ada toko-toko yang kalau memberi uang kembali, uang kecilnya digantikan dengan gula-gula, karena beralasan tidak ada uang kecilnya yang pas, pada hal sebenarnya mungkin sekali ia mau supaya gula-gulanya juga turut laku (he he he), entah si kasir atau pelayan toko pikir kita suka gula-gula atau tidak, apalagi pikir mungkin si pembeli ada sakit gula, tetapi mereka tidak peduli.

Yesus melihat upaya untuk memberikan persembahan kepada Tuhan telah dijadikan bisnis. Itulah sebabnya para rabi dan atau kelompok mereka berebutan untuk duduk dibangku-bangku penukaran uang itu.

Selain itu orang miskin mungkin saja ia tidak punya uang, tetapi ia "terpaksa" harus membeli hewan persembahan dan paling kurang burung merpati, karena semua orang juga sudah berderet dalam antrian untuk melakukan hal yang sama.

Orang memberi persembahan bukan karena kasih dan kerelaan lagi, tetapi karena tersugesti dan dipaksa secara halus untuk memberi. Hal ini bagaikan "Bandwagon effect", sebuah istilah Jerman yang artinya orang disugestikan untuk melakukan sesuatu, karena semua orang juga melakukan hal yang sama.

Orang cenderung melakukan apa yang dilakukan orang banyak tanpa mungkin berpikir dengan jernih apalagi lahir dari hati nurani dan kasih serta kerelaan kepada Allah. Dan praktek itulah yang dilakukan oleh para rabi pengelola bait Allah, dimana mereka melakukan upaya penjualan hewan-hewan persembahan itu di tempat terbuka, di halaman depan bait Allah (im Vorhof des Tempels) supaya menjadi tontonan dan alat sugesti.

Dengan demikian cerita Yesus Menyucikan Bait Allah (die Tempelreinigung), yang di ceritakan bukan saja oleh ketiga injil Synoptik, tetapi juga injil Yohanes ini, mau menekankan bahwa Yesus bersikap tegas terhadap para rabi Yahudi yang bertugas mengelola bait Allah itu. Dan karena itu Tuhan Yesus turun tangan langsung mengobrak-abrik sistim dan tradisi pengelolaan bait Allah oleh para rabi Yahudi itu, termasuk pola persembahan kepada Tuhan Allah.

Itulah sebabnya, dan ini salah satu kemungkinan makna dari kisah ini, mengapa orang Kristen di kemudian hari hingga sekarang ini tidak lagi mengikuti cara persembahan orang Yahudi itu. Kalau TuhanYesus tidak mengobrak abrik dan mengusir orang yang keliru mengelola Bait Allah, mungkin saja kita sampai sekarang masih memakai cara persembahan orang Yahudi, dimana musti ada tempat untuk taruh domba- domba dan merpati. Mungkin petugas gereja si A yang urus burung merpati, dan si B yang urus kambing domba. Ha ha ha.

Jadi Jemaat-jemaat musti siap hewan-hewan persembahan untuk dijual kepada umat yang datang berbakti, dan saya kira stand burung merpati akan laku keras, karena orang-orang miskin, seperti saya, pasti akan membeli burung merpati. Tapi Yesus telah mengubah tradisi ini. Kita melihat disini bahwaYesus melawan sebuah kebiasaan atau tradisi yang buruk.

Walaupun Yesus menganjurkan untuk mengalah dan sabar, tetapi jika Ia melihat sesuatu yang telah melawan keadilan dan kasih Allah, maka ia melawan dan melabraknya. Persembahan bukan lagi kerelaan melainkan sebuah paksaan baik secara halus maupun kasar. Apalagi kalau persembahan telah berubah makna sebagai suatu "kewajiban setoran", tontonan atau bahkan untuk "makan puji".

Mengenai persembahan dalam ibadah gereja Para rasul, terutama Paulus, lebih menekankan kerelaan di dalam persembahan kepada Tuhan Allah (2 Kor 9:7: "7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."). Jadi tidak ada paksaan, atau melalui cara seperti "bandwagoneffect" tadi, seperti yang sudah saya jelaskan itu. Penekakan Paulus mengenai persembahan yang benar pada kerelaan, keadilan dan kasih Allah (2 Kor 9:7-10).

Dalam kisah penyucian Bait Allah ini Tuhan Yesus membuktikan dirinya bukan orang yang lemah dan takut, tetapi orang yang berani dan tegas. Oleh sebab itu pengorbanan Yesus disalib menurut para penginjil dan para Rasul terutama Rasul Paulus, bukanlah tanda kelemahan atau kebodohan, melainkan tanda kekuatan Allah itu sendiri.

Dalam 1 Kor 1: 18 Paulus berkata: "18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."

Kisah penyucian Bait Allah oleh Yesus adalah kisah awal yang mengantar kepada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus. Itulah sebabnya menurut Yohanes 2: 19 mengatakan ""Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Bait Allah dalam pengertian Yesus adalah tubuhNya, atau pengorbana dirinya. Rasul Paulus kemudian menulis bahwa bait Allah yang sesungguhnya adalah adalah orang beriman itu sendiri, sebagai penjelmaan dari Tubuh Kristus.

Gereja menurut Paulus adalah tubuh Kristus. (Rom 12: 6: "5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain." Tubuhmu adalah bait Allah menurut Paulus, karena itu dalam 1 Kor 6:13 ff untuk menjaga kekudusan tubuh sebagai bait Allah. Jadi makna kisah die Tempelreinigung adalah supaya menjada kekudusan dari bait Allah itu sendiri.

Oleh karena itu, pengorbanan Yesus disalib bukanlah tanda kelemahan. Ia tidak menyerah pada penindasan. Tetapi pengorbanan disalib adalah jalan untuk menebus dosa manusia. Jesus menanggung kutuk dosa manusia, sehingga dengan demikian manusia diselamatkan dari dosanya.

Pelajaran dari Jesus dalam kisah ini adalah lawanlah apa yang salah. Kadang kita biarkan yang buruk dan salah berlaku. Sikap buruk kadang menguasai dan menindas kita dan kita anggap sebagai hal yang biasa. Korupsi pada pengurusan KTP, SIM surat tanah, surat ijin ini dan itu, dll. Di negara-negara maju dan beradab hal semacam ini sudah ditinggalkan. Seperti kisah keberanian empat pemuda di atas (di awal tulisan ini) bahwa kelemahan bisa menyuburkan penindasan, maka jangan menunjukkan kelemahan. Bila perlu lawanlah gertakan dengan gertakan.

Pada aspek yang lain, budaya dan tradisi masyarakat NTT dan ditempat-tempat lain di Indonesia masih memberi ruang pada penindasan kaum perempuan. Karena budaya masyarakat di tanah air kita yang cenderung membuat posisi perempuan rentan mengalami kekerasan dan penindasan oleh kaum pria.

Oleh karena pada kesempatan ini saya mengajak kaum perempuan untuk berani melawan penindasan, apalagi jika ditindas oleh suami yang egois dan "petabak" (pemabuk, malas, harap gampang dan tidak mau kerja apa-apa, apalagi kalau disuruh belajar bahasa Inggris, lebih gila lagi petabaknya, hehehe). Kaum Perempuan harus bersikap tegas saat diperlakukan tidak adil.

Karena seringkali wanita menerima perlakukan buruk apalagi sering terjadi dalam lingkungan keluarga apalagi bila korbannya terus membisu dalam sebuah "rumah" selama berpuluh tahun, tanpa perlindungan dari siapa pun, khususnya negara. Mungkin baik kalau kita belajar juga dari kisah tentang Nyai Ontosoroh.

Nyai Ontosoroh adalah seorang gundik Belanda yang dijual oleh ayahnya sendiri demi harta dan kekayaan. Namanya Sanikem, tetapi orang-orang Wonokromo dan Surabaya mengenalnya sebagai Nyai Ontosoroh. Seorang Perempuan yang berani melawan keangkuhan hukum Belanda.
Alkisah, Nyai Ontosoroh atau Sanikem adalah anak dari seorang juru tulis pada pabrik gula di Tulangan bernama Sastrotomo. Dia termasuk tipe laki-laki yang gila kuasa dan kekayaan. Dihormati karena satu-satunya orang yang mampu baca tulis di desa. Sostrotomo bercita-cita menjadi seorang juru bayar.

Sayangnya, untuk mencapai cita-cita itu tak segan menjilat dan berkhianat. Singkat cerita, ia sanggup melakukan apa saja untuk menggapai capai cita-citanya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, seorang pengusaha Belanda paruh baya bernama Herman Mellema datang ke rumah dan menebar janji. Sastrotomo meminta Sanikem berdandan secantik mungkin di hadapan tamunya itu. Sementara sang ibu menangis tersedu-sedu di sudut ruangan.
Sanikem sudah curiga.

Tapi ia tetap menjalankan titah ayahnya. Laki-laki mana yang tidak suka melihat kecantikan dan keindahan dan kemolekan tubuh Sanikem yang bohai. Herman Mellema tergiur.

"Secepatnya saja kowe antar anak itu ke tempat saya. Saya janji akan memberi imbalan yang memuaskan kowe." katanya kepada ayah Sanikem.

Kebahagiaan Sastrotomo pun terpancar. Sebentar lagi ia akan menjadi orang terhormat. Dihormati para pedagang, mandor, buruh, orang Eropa dan Peranakan meskipun harus membayar mahal dengan menjual anak gadisnya yang baru berumur 14 tahun. Sanikem dijadikan gundik atas kehendak ayahnya sendiri.

Inilah awal kebencian Sanikem kepada ayahnya. Inilah awal bagaimana dendam itu menghiasi hidupnya. Hidup sebagai gundik tak ubah budak belian yang setiap waktu harus memuaskan tuannya. Dalam segala hal. Dan setiap waktu bisa dicampakkan bila sang tuan sudah merasa bosan dan tak membutuhkannya lagi. Orang-orang tanah Jawa menyebut gundik dengan kata yang halus, Nyai.

Namun sayangnya saat itu kata `Nyai' seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Bahkan merujuk pada perempuan bermoral rendah. Meski Nyai melahirkan anak dari seorang Eropa, pemerintah Hindia Belanda saat itu tidak pernah menganggap perkawinan itu syah.

Pemerintah Hindia Belanda hanya mengakui anak tapi tidak bagi perempuan pribumi yang dijadikan gundik. Disinilah letak tidak manusiawinya hukum Eropa kepada manusia lainya.

Masyarakat hanya melihat secara kasat mata bahwa kehidupan seorang nyai bisa dibilang enak, bergaul dengan bangsa Eropa, dan tinggal di rumah mewah. Tapi benarkah?

Semua itu tidak berarti bagi Sanikem yang telah merasa harga dirinya direbut. Ia dendam kepada orang tuanya. Lantas ia berusaha bangkit dengan belajar segala pengetahuan Eropa. Dia belajar tata niaga, belajar bahasa Belanda, membaca media Belanda, belajar budaya dan hukum Belanda. Sebab dia berharap pada suatu hari semua pengetahuan itu akan berguna untuk dirinya dan anak-anaknya.

"Aku harus buktikan pada mereka, apapun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus bisa lebih berharga daripada mereka, meskipun hanya sebagai nyai. Sekarang Sanikem sudah mati, yang ada adalah Nyai Ontosoroh."

Itulah tekadnya. Kisah Nyai Ontosoroh, bisa jadi berulang walau dalam bentuk yang berbeda dalam masyarakat NTT dalam bentuk Perdaganngan Orang (Human Trafficking), dimana banyak orang tua rela melepaskan anak gadisnya untuk bekerja di luar negeri, menjadi TKI, atau TKW baik secara legal maupun ilegal karena terbujuk iming-iming para calo dan oknum pelaku perdagangan orang, pada hal ujung-ujungnya mereka sengsara ditindas dan diperlakukan tidak manusiawi.

Jadi terhadap apapun yang menindas kita harus melawan, tetapi melawan tidak dengan membabi buta, tetapi dengan kecerdikan. Yesus berkata dalam Matt 10: 16: "sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved