Renungan Harian

Renungan Kristen Protestan, 2 Februari 2019 : Karena Bahasa Adalah Anugerah dan Kekayaan

Para murid Yesus yang tidak berpendidikan tinggi pun ternyata mampu berkomunikasi di luar bahasa ibu mereka

Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Bahasa Untuk kemanusian, pembangunan dan keselamatan

Karena Bahasa Adalah Anugerah dan Kekayaan

SEJAK  Rabu, 30 Januari 2019, NTT dilanda demam Bahasa Inggris karena anjuran dari seorang Gubernur NTT yang kreatif dan visioner, Viktor Bungtilu Laiskodat. Banyak warga NTT yang antusias dan walau terbata-bata mulai bicara Bahasa Inggris. Hanya sedikit yang protes di media sosial dan semacamnya.

Walau pro dan kontra bermunculan, namun toh NTT sedang berada dalam era baru menuju zaman milenial. Belajar Bahasa Inggris, memang bukanlah perkara mudah, namun sesuatu yang sukar akan menjadi mudah kalau orang mencoba.

Para murid Yesus yang tidak berpendidikan tinggi pun ternyata mampu berkomunikasi di luar bahasa ibu mereka karena mereka mau belajar dan mendengar pada Tuhan. Dan keajaiban itu memuncak pada peristiwa Hari Pantekosta sebagaimana dikisahkan dalam Alkitab, dimana mereka mampu menguasai berbagai bahasa di dunia.

Perayaan Pantekosta (artinya yang kelima puluh bisa kita lihat perintah perayaannya dalam Imamat 23:15-22) yang dirayakan para murid Yesus dan orang Israel umumnya untuk memperingati diberikannya hukum Taurat di Gunung Sinai, juga untuk merayakan ahir masa panen.

Pertanyaanya mengapa para murid Tuhan Yesus pada waktu hari Pentakosta itu bisa menguasai berbagai bahasa, menjadi sebuah misteri namun yang pasti para penulis Injil menegaskan bahwa itu karena pekerjaan Roh Kudus. Dan itu bukan supaya mereka kelihatan keren dan bergaya atau tampil beda, dan mencari perhatian dan decak kagum orang-orang bahwa wao... mereka hebat. Sama sekali tidak dalam pengertian yang demikian.

Saya ingat seperti waktu saya masih kecil semasa masih di bangku Sekolah Dasar, saya suka latihan bicara Bahasa Inggris dengan para turis Australia di rumah opa saya Yeremias Dethan di Lasiana (sekarang sudah menjadi tempat pariwisata Lasiana karena sudah dihibahkan oleh opa saya kepada pemerintah).

Teman-teman yang melihat saya bicara Bahasa Inggris itu memuji: "Mes kamu hebat". Pada hal waktu itu saya hanya menguasai "Yes-No" saja dan ditambah kenekatan saja, tetapi sudah dipuji luar biasa, dan membuat saja merasa keren dan "makan puji", hehehe. Sebagai anak-anak yang masih punya sifat nakal, nampak bahwa Bahasa Inggris dipakai oleh saya waktu itu untuk kelihatan keren atau bergaya, namun bukan semacam ini yang dimaksudkan oleh para murid menggunakan berbagai bahasa yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul pasal 2.

Yang dimaksudkan adalah bahasa dapat dimengerti orang dan dapat dipakai sebagai alat kemanusiaan, pembangunan rohani dan kesaksian bagi kemuliaan Tuhan.

Halaman
123
Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved